Connect with us

Ekonomi

Inflasi September 2022 Naik, Celios: Redam dengan Alihkan APBN Surplus

Avatar

Diterbitkan

pada

Inflasi September 2022 Naik

Inflasi September 2022 Naik, Celios: Redam dengan Alihkan APBN Surplus (Foto: Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Tingkat inflasi pada September 2022 naik sebesar 1,17 persen (month-to-month/mtm). Kenaikan tersebut terimbas oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi sebesar 30 persen. Untuk meredamnya, pemerintah sebaiknya mengalihkan APBN yang surplus untuk penambahan subsidi BBM.

Center of Economic and Law Studies (Celios) merupakan lembaga riset yang bergerak di bidang ekonomi ini sudah memprediksi naiknya inflasi imbas kenaikan harga BBM bersubsidi.

Hal ini nantinya bisa berdampak dan terlihat jelas inflasi yang paling tinggi adalah di sektor transportasi, kedua adalah di sektor bahan makanan.

“Kenaikan inflasi Ini terpengaruh juga oleh biaya angkutan pada sektor pertanian yang mengalami kenaikan, kemudian menjalar juga pada distributor sampai ke tangan konsumen yang mengalami penyesuaian harga karena kenaikan tarif BBM,” kata Direktur Celios Bhima Yudhistira, Rabu (5/10/2022).

Baca juga: Bank Mandiri Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi, Inflasi 2022 Capai 6,7 Persen

Ia memproyeksikan, imbas dari kenaikan harga BBM yang menyebabkan naiknya inflasi akan berlangsung hingga akhir tahun 2022.

Advertisement

“Imbas dari energi ini diperkirakan akan bertahan dalam waktu yang cukup lama paling tidak dalam kurun waktu sampai akhir tahun 2022. Efek naiknya harga BBM terhadap penyesuaian harga-harga barang lainnya itu akan terus dirasakan,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia menuturkan, yang perlu diantisipasi pemerintah adalah mengalihkan APBN yang surplus Rp 107 triliun ke penambahan subsidi BBM sehingga inflasi bisa diredam.

Kedua, pemerintah harus menjaga pasokan makanan agar tetap stabil. Sebab kuncinya adalah pada stabilitas pangan terutama mengurangi ketergantungan pangan yang sumbernya dari impor.

“Ada beberapa barang pokok yang impornya cukup dominan. Seperti gula, garam, gandum, daging, kedelai itu juga porsi impornya juga cukup besar dan rentan terhadap fluktuasi nilai tukar Rupiah yang terjadi saat ini. Jadi harus dicari substitusi substitusi dari impor pangan dalam negeri,” terang Bhima.

Baca juga: Ditengah Tingginya Inflasi, Pemerintah Siapkan Strategi untuk Jaga Pertumbuhan Ekonomi

Ketiga adalah meningkatkan alokasi subsidi pupuk dan merealokasikan sebagian dari anggaran yang ada di Pemerintah Daerah untuk melakukan subsidi angkutan di sektor pangan agar tepat sasaran.

Advertisement

“Dari sisi transportasi transportasi idealnya pemerintah memberikan subsidi transportasi publik yang cukup signifikan misalnya penurunan tarif transportasi sebesar 30 persen untuk transportasi publik seperti commuter line, angkutan kota di seluruh daerah-daerah,” imbunnya, melansir idxchanel.

Menurutnya, dengan cara itu beban masyarakat akan lebih ringan karena peralihan dari kendaraan pribadi ke umum tidak perlu ada penambahan biaya.

Terakhir, saran Bhima, pemerintah perlu menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Sebab Rupiah akan memainkan peran yang cukup signifikan dalam menjaga agar tidak terjadi inflasi. “Karena biaya impor menjadi lebih mahal akibat pelemahan Rupiah,” pungkasnya.***

Baca juga: Imbas BBM Naik, Inflasi Diperkirakan Tembus 7 Persen

Advertisement
Lanjutkan Membaca