Connect with us

Ekonomi

Rupiah Senin 25 Mei 2026: Cetak Rekor Terburuk Lagi, Melemah Sendirian Menatap Rp17.800

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Rupiah Senin 25 Mei 2026: Cetak Rekor Terburuk Lagi, Melemah Sendirian Menatap Rp17.800

Sedih mengamati pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah yang kembali melemah ke level termelah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan valuta asing Senin (25/5/2026). (Foto : Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Mau bilang apa? Sungguh menyedihkan nasib rupiah pada perdagangan valuta asing di awal pekan, Senin (25/5/2026) ini. Bayangkan, sempat menguat di pembukaan perdagangan namun kemudian bukan saja tergelincir bahkan terjerembab ke posisi melemah terburuk sepanjang sejarah.

Sudah mencetak rekor terlemah lagi, rupiah juga merana sendirian ditekan dolar Amerika Serikat di tingkat regional. Pasalnya, seluruh mata uang utama Asia lainnya justru kompak melesat dan unjuk gigi di hadapan dolar AS.

Kondisi ini membuat pesimis rupiah bisa kembali menguat dalam perdagangan esko hari, Selasa (26/5/2026). Hingga jangka pendek, para pelaku pasar memperkirakan rupiah masih akan bergerak volatil dan rawan menguji batas ketahanan baru jika belum ada intervensi agresif di pasar domestik maupun katalis positif dari data perdagangan internasional mendatang.

Baca Juga : Rupiah Jumat 22 Mei 2026: Parkir Melemah Rp17.717 di Akhir Pekan, Hantaman Belum Mereda

Kalau sudah begini maka rupiah bisa makin mendekati Rp17.800 perdolar AS yang jelas menjadi rekor terburuk baru lagi.

Anomali di Kawasan Regional

Advertisement

Pada pembukaan perdagangan Senin pagi, rupiah sempat memberikan harapan ketika dibuka menguat 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.696 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.717 per dolar AS.

Namun tekanan begitu deras menerpa sehingga sempat membuat rupiah terperosok ke posisi Rp17.760 per dolar AS pada pukul 14.31 WIB.  Namun kemudian akhirnya memangkas sedikit pelemahan di akhir sesi.

Pada Senin sore, 25 Mei 2026, mata uang Garuda ditutup melemah sebesar 27 poin atau terkoreksi 0,15% ke level Rp17.744 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan penutupan hari Jumat pekan lalu yang berada di posisi Rp17.717 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.743 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.717 per dolar AS.

Baca Juga : Rupiah Kamis 21 Mei 2026: Melemah Lagi, Tergelincir ke Rp17.667 Per Dolar AS

Pelemahan ini membawa rupiah kembali mencetak rekor penutupan terburuk sepanjang sejarah.

Advertisement

Performa jeblok mata uang Garuda hari ini menjadi sebuah anomali besar di pasar valuta asing (valas) regional. Ketika rupiah tertekan sendirian, seluruh mata uang utama Asia lainnya justru kompak melesat dan unjuk gigi di hadapan the greenback.

Berikut adalah perbandingan pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS hingga pukul 15.00 WIB hari ini:

Mata Uang AsiaPergerakan terhadap Dolar AS
Baht Thailand (THB)Menguat tajam +0,50% (Pemimpin penguatan)
Rupee India (INR)Melesat +0,39%
Peso Filipina (PHP)Naik +0,37%
Ringgit Malaysia (MYR)Terangkat +0,32%
Dolar Taiwan (TWD)Menguat +0,30%
Won Korea Selatan (KRW)Apresiasi +0,19%
Yuan China (CNY)Apresiasi +0,19%
Dolar Singapura (SGD)Naik +0,18%
Rupiah Indonesia (IDR)Melemah -0,15%

Baca Juga : Rupiah Rabu 20 Mei 2026: Bangkit Menguat di Harkitnas Respon Intervensi BI dan Pidato Presiden Prabowo

Kemudian, kondisi merosotnya nilai tukar di pasar spot ini langsung direspons oleh perbankan nasional dengan menyesuaikan harga jual eceran dolar AS mereka yang kian melambung tinggi. Di tingkat counter bank-bank besar, kurs jual bahkan ada yang sudah mendekati psikologis baru.

Berikut adalah pantauan kurs jual-beli dolar AS di sejumlah bank tanah air sore ini:

  • BRI: Jual Rp17.870 | Beli Rp17.570
  • Bank Mandiri: Jual Rp17.810 | Beli Rp17.510
  • BNI: Jual Rp17.800 | Beli Rp17.660
  • BCA: Jual Rp17.740 | Beli Rp17.490

Faktor Ganjalan Domestik

Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penurunan harga minyak mentah dunia—menyusul sinyal konstruktif perundingan AS dan Iran—sebenarnya sukses mendorong pelaku pasar global kembali masuk ke aset berisiko. Hal inilah yang memicu reli penguatan mata uang Asia.

Advertisement

Baca Juga : Gubernur BI Yakin Rupiah Akan Kembali Stabil

Namun, mengapa rupiah justru layu sendirian?

Analis menilai pasar domestik masih dibayangi oleh sentimen negatif rilis data makroekonomi teranyar. Neraca transaksi berjalan (current account) Indonesia pada Kuartal I-2026 mencatatkan defisit yang cukup dalam, yakni menembus 4 miliar dollar AS.

Defisit yang melebar ini mencerminkan aliran devisa yang keluar dari tangki domestik untuk kebutuhan impor barang, pembayaran jasa, dan transfer pendapatan masih jauh lebih masif ketimbang aliran modal masuk dari sektor ekspor maupun investasi asing langsung. Akibatnya, pasokan dolar AS di dalam negeri mengetat dan memicu tekanan struktural pada kurs Garuda.

Seperti dipantau dalam media online, seperti dilansir beritasatu dan kompas, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih berlanjut meski pelaku pasar global mulai optimistis terhadap meredanya konflik antara AS dan Iran.

“Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan perdamaian. Walaupun masih ada perselisihan mengenai isu-isu kunci tentang blokade di Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (25/5/2026).

Advertisement

Baca Juga : Rupiah Senin 18 Mei 2026: Ambles, Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah Lagi, Jadi Ingat Orang Desa

Menurut dia, sentimen eksternal lain yang turut membebani rupiah berasal dari meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve.

“Pada Sabtu kemarin salah satu gubernur bank sentral Amerika Christopher Waller mengatakan bahwa jika ekspektasi inflasi AS menyimpang dari target bank sentral maka ia tidak akan ragu untuk mendukung kenaikan suku bunga,” paparnya.

Dari dalam negeri, pasar juga masih mencermati kondisi defisit anggaran Indonesia yang dinilai memengaruhi pergerakan rupiah pada awal pekan ini.

“Walaupun harga minyak mengalami penurunan, tetapi rupanya masih belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah. Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau, tetapi Indonesia memerah,” ucap Ibrahim.

Pelemahan kurs rupiah dinilai masih dipengaruhi sentimen domestik maupun global yang belum sepenuhnya kondusif bagi pasar keuangan Indonesia. Karena itu, rupiah diprediksi bakal anjlok ke posisi Rp 17.800 per dollar AS pada perdagangan Selasa (26/5/2026).

Advertisement

“Kemungkinan besar dalam perdagangan besok (Selasa), ya masih akan melemah di level Rp 17.740 sampai di level Rp 17.800 per dollar AS,” ujar Ibrahim. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement