Ekonomi
Rupiah Senin 18 Mei 2026: Ambles, Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah Lagi, Jadi Ingat Orang Desa

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah bahkan ambles ke rekor terlemah sepanjang sejarah lagi Senin (18/5/2026), benarkah tidak berpengaruh pada orang desa?
FAKTUAL INDONESIA: Mengikuti jejak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang “kebakaran”, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga mencatatkan rapor merah yang cukup mengagetkan di awal pekan ini. Tidak sekadar melemah biasa, mata uang Garuda resmi mencetak rekor terlemah baru sepanjang sejarah Indonesia.
Berdasarkan data pasar spot pada penutupan perdagangan hari Senin (18/5/2026), rupiah merosot sebesar 0,40% atau melemah 71 poin dan bertengger di posisi Rp 17.668 per dolar AS.
Nilai pelemahan itu lebih tinggi dari saat pembukaan ketika rupiah pada Senin pagi dibuka melemah 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.630 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat angka yang tidak jauh berbeda, yakni di level Rp 17.666 per dolar AS. Di tingkat perbankan komersial bahkan harga jual dolar AS dilaporkan sempat menembus level Rp 17.775.
Melihat terus melemahnya nilai tukar rupiah ini terhadap dolar AS jadi ingat orang desa. Pasalnya Presiden Prabowo Subianto di Nganjuk, Sabtu (16/5/2026), merespons kekhawatiran publik soal merosotnya nilai tukar rupiah ini dengan tenang.
“Rakyat di desa enggak pakai dollar kok,” ujar Prabowo, dikutip dari tayangan YouTube Sekretariat Presiden.
Mengapa Dolar AS Makin Perkasa
Keperkasaan mata uang Negeri Paman Sam ini bukan tanpa alasan. Para analis keuangan membeberkan kombinasi tekanan makro global yang memaksa rupiah harus bertekuk lutut:
- Lonjakan Yield Obligasi AS: Tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat membuat investor global buru-buru menarik modal mereka dari pasar negara berkembang (capital outflow) dan memindahkannya kembali ke AS.
- Sentimen Harga Minyak Dunia: Lonjakan harga minyak mentah global ikut menekan mata uang negara-negara pengimpor minyak di Asia, termasuk Indonesia, karena kebutuhan Ketegangan Geopolitik:pasokan dolar untuk impor membengkak.
- Ketidakpastian situasi geopolitik global membuat pelaku pasar lebih memilih memegang aset aman (safe haven) seperti dolar AS ketimbang mata uang berisiko tinggi.
Ini merupakan pelemahan dalam tiga hari perdagangan beruntun bagi rupiah. Angka ini melampaui level psikologis Rp 17.500 yang sempat tersentuh pada pertengahan Mei lalu.
Melihat situasi pasar yang bergejolak, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung turun tangan untuk menenangkan publik. Purbaya menegaskan bahwa amblesnya rupiah murni karena faktor musiman dan sentimen jangka pendek, bukan karena fondasi ekonomi Indonesia yang rapuh.
“Nanti kita perbaiki. Sekarang fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek. Jadi saya fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu,” ujar Purbaya di Jakarta.
Untuk meredam gejolak ini, Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia (BI) siap melakukan intervensi, salah satunya dengan masuk ke pasar surat berharga (bond market) mulai pekan ini demi menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Tetap Berpotensi Melemah
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa sentimen datang dari global yaitu penguatan dolar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama.
“Prospek kebijakan moneter ketat dari The Fed semakin menguat karena harga energi yang lebih tinggi jelas telah memperlambat kemajuan disinflasi, mendorong inflasi semakin jauh dari target 2 persen The Fed,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Seperti dilansir IDXCahnnel, selain itu, upaya untuk mengakhiri perang AS-Israel di Iran tampaknya telah terhenti, setelah pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab diserang dan karena Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan membahas opsi militer terhadap Iran. Pembicaraan pekan lalu antara Trump dan Presiden China Xi Jinping berakhir tanpa indikasi dari importir minyak terbesar di dunia bahwa hal itu akan membantu menyelesaikan konflik.
Dari sentimen domestik, pasar tersentak dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengatakan sebagian besar masyarakat di daerah tidak menggunakan dolar AS dalam aktivitas sehari-hari. Sehingga dampaknya dinilai tidak terlalu langsung dirasakan.
Namun, sangat disayangkan disekitaran presiden terutama sekertaris kabinet tidak bisa mengarahkan pidato presiden sesuai dengan protokol yang sudah ada. Dan ini merupakan koreksi yang harus dilakukan oleh sekertasi kabinet untuk melakukan pembenahan, agar kedepan tidak terjadi lagi .Apalagi sebelumnya Prabowo juga pernah menyatakan bermain saham itu judi.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.660-Rp17.720 per dolar AS.
Jadi, bagi yang berencana melakukan transaksi valas atau memiliki bisnis ekspor-impor, tampaknya harus lebih ketat lagi dalam mengatur manajemen risiko mata uang dalam beberapa waktu ke depan. Tetap pantau pergerakan pasar! ***














