Ekonomi

Rupiah Selasa 4 Agustus 2026: Melemah Kembali Lewat Rp18.000, Masih Membayang-bayangi Zona Fluktuatif

Published

on

Dibuka melemah dalam pembukaan perdagangan valuta asing Selasa (4/8/2026) pagi, nilai tukar (kurs) rupiah tetap melemah hingga penutupan sehingga harus rela masuk zona merah setelah sehari sebelumnya nyaman di zona hijau. (Foto: Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada penutupan perdagangan Selasa (4/8/2026). Rupiah sudah melemah dan melemah lagi dari pembukaan hingga penutupan perdagangan valuta asing hari ini.

Rupiah  terkoreksi tipis sebesar 30 poin atau 0,17 persen, menyeret posisinya ke level Rp18.027 per dolar AS. Meskipun melemah namun penurunan mata uang Garuda lebih tipis dibandingkan saat pembukaan ketika melemah 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp18.029 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.997 per dolar AS.

Melemah juga Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini ke level Rp18.037 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.991 per dolar AS.

Baca Juga : Rupiah Senin 3 Agustus 2026: Mantap, Positif di Bawah Rp18.000, Menuju Stabil Terbatas

Namun rupiah tidak perlu berkecil hati karena hampir semua mata uang utama di kawasan Asia juga terkoreksi. Yen Jepang menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar setelah dolar AS menguat 0,44% terhadap yen ke level 157,87.

Melemah juga won Korea Selatan yang turun 0,31%, peso Filipina 0,41%, baht Thailand 0,14%, dolar Singapura 0,11%, rupe India 0,05%, ringgit Malaysia 0,03%, serta dolar Hong Kong 0,01% terhadap dolar AS.

Satu-satunya mata uang di kawasan yang bergerak positif hanya yuan China yang berada di level 6,7542. Sedangkan  dolar Taiwan bergerak relatif stagnan.

Advertisement

Pemicu Pelemahan Rupiah

Langkah rupiah yang tertahan di zona merah sore ini didorong oleh sejumlah sentimen eksternal dan domestik:

  • Keperkasaan Dolar AS: Rilis data manufaktur AS yang stabil membuat indeks dolar AS kembali menguat terhadap mata uang global.
  • Kebijakan Bank Sentral: Sikap wait and see para pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga acuan The Fed dan Bank Indonesia memberi tekanan pada arus modal jangka pendek.
  • Tekanan Mata Uang Regional: Mayoritas mata uang di Asia turut mengalami pelemahan tipis akibat penguatan

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen datang dari eksternal yakni pasar tetap rapuh karena konflik di Timur Tengah.

“Kenaikan ketegangan tersebut secara efektif menghancurkan gencatan senjata yang rapuh dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan,” tulis Ibrahim dalam risetnya seperti dilansir inews.

Baca Juga : Rupiah Kamis 30 Juli 2026: Terdepresiasi ke Rp18.111, Berpotensi Konsolidasi di Zona Merah

Para pedagang mempertimbangkan inisiatif yang baru diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump yakni ‘Proyek Kebebasan’ yang bertujuan membantu kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz. Operasi ini berupaya untuk memandu kapal-kapal komersial melalui rute yang lebih aman dan memulihkan sebagian arus melalui Selat Hormuz.

Militer AS telah mulai mengawal kapal-kapal melalui selat tersebut di bawah inisiatif ini, dengan pasukan Amerika secara aktif berupaya untuk membangun kembali jalur pelayaran komersial.

Advertisement

Para analis mencatat meskipun Proyek Kebebasan dapat meringankan beberapa hambatan logistik, proyek ini tidak banyak menyelesaikan konflik geopolitik yang mendasar, sehingga pasar minyak tetap sangat sensitif terhadap perkembangan militer lebih lanjut.

Dari sentimen domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan (YoY) pada kuartal I 2026.

Baca Juga :Rupiah Rabu 29 Juli 2026: Menguat Tipis Meski Masih Di Atas Rp18.000, Esok Mixed

Konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026. Kinerja konsumsi rumah tangga pada periode ini utamanya didorong oleh mobilitas penduduk pada momen libur nasional dan Hari Besar Keagamaan (Nyepi dan Idulfitri).

Selain itu, berbagai kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi serta berbagai stimulus pemerintah untuk mendorong konsumsi seperti diskon tiket transportasi, pemberian THR atau gaji ke-14, serta penetapan BI rate pada level 4,75 persen juga turut mendorong konsumsi masyarakat.

Prediksi dan Prospek Rabu, 5 Agustus 2026

Advertisement

Untuk perdagangan Rabu, 5 Agustus 2026, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan membayang-bayangi zona fluktuatif dengan kecenderungan terkonsolidasi.

Ibrahim memprediksi pergerakan Rupiah pada Rabu 5 Agustus 2026 akan kembali melemah.

Baca Juga : Rupiah Selasa 28 Juli 2026: Terdepak ke Level Rp18.083, Masih Berpotenis Melemah Terbatas

‎”Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp18.030-Rp18.080,” tandas Ibrahim.

Para analis memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang:

  • Support:980 per dolar AS
  • Resistance:060 per dolar AS

Pasar akan mencermati data ekonomi AS lanjutan serta intervensi Bank Indonesia di pasar uang untuk menjaga stabilitas mata uang garuda di bawah level batas psikologisnya. ***

Advertisement
Exit mobile version