Connect with us

Ekonomi

Rupiah Jumat 3 Juli 2026: Melesat Rebound ke Rp17.963, Berpotensi Jaga Momentum Penguatan

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Rupiah setelah sempat tertekan akhirnya mampu membalikan keadaan masuk zona hijau setelah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Jumat (3/7/2026). (Ist)

Rupiah setelah sempat tertekan akhirnya mampu membalikan keadaan masuk zona hijau setelah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Jumat (3/7/2026). (Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Kabar gembira datang dari pasar valuta asing domestik menjelang libur akhir pekan, Jumat (3/7/2026),  dengan penampilan rupiah  yang akhirnya sukses membalikkan keadaan  setelah sempat tertekan dan hampir menembus level psikologis baru.

Pada penutupan perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat 32 poin atau naik sekitar 0,18 persen ke posisi Rp17.963 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.

Ketika pembukaan perdagangan Jumat pagi, rupiah malah sempat  menguat 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.950 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp17.960 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.994 per dolar AS.

Langkah rebound ini menjadi angin segar setelah pada hari sebelumnya (Kamis, 2/7/2026), rupiah sempat loyo dan parkir di level Rp17.995 per dolar AS akibat tekanan beruntun.

Advertisement

Rupiah Dapat Durian Runtuh

Melonjaknya performa rupiah di hari Jumat ini tidak lepas dari rilis data makroekonomi teranyar dari Negeri Paman Sam. Katalis utama didorong oleh lesunya data ketenagakerjaan AS pada bulan Juni 2026.

Penyerapan tenaga kerja di AS dilaporkan jauh di bawah ekspektasi pasar, yang otomatis memicu pelemahan pada indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia.

  • Penyebab Utama: Data tenaga kerja AS yang mendingin membuat spekulasi pasar terhadap kebijakan agresif bank sentral AS (The Federal Reserve) mulai meredam.
  • Efek Regional: Pelemahan indeks dolar AS ini langsung dimanfaatkan oleh mata uang regional Asia untuk melesat. Selain Rupiah, Won Korea (+0,42%) dan Baht Thailand (+0,27%) juga kompak menghijau.

Di sisi lain, intervensi pasar yang terukur dari Bank Indonesia (BI) melalui strategi triple intervention turut andil dalam menjaga volatilitas agar nilai tukar tetap stabil di zona hijau hingga bel penutupan perdagangan.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi yang dikutip dari liputan6, menilai, penguatan rupiah didorong oleh sentimen positif dari perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dinilai berpotensi meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Investor terus memantau negosiasi antara Washington dan Teheran setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dia percaya Iran telah ‘menyetujui hampir semua yang kita butuhkan,’ menandakan kepercayaan bahwa diskusi bergerak ke arah yang benar,” kata Ibrahim.

Advertisement

Meski kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk mulai mereda, risiko geopolitik dinilai masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.

“Pasar kini mengamati perkembangan lebih lanjut dalam negosiasi AS-Iran, arus minyak mentah Teluk, dan tanda-tanda pemulihan permintaan setelah libur akhir pekan AS untuk mendapatkan arah baru bagi harga minyak,” ujar Ibrahim.

Selain perkembangan geopolitik, investor juga mencermati kondisi ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan melalui data terbaru pasar tenaga kerja.

Sentimen lain yang menopang penguatan rupiah berasal dari laporan Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS). Data menunjukkan ekonomi AS hanya mampu menciptakan 57 ribu lapangan kerja pada Juni 2026, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan sekitar 110 ribu pekerjaan.

Ibrahim mengatakan lemahnya data Non Farm Payroll (NFP) memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya.

Advertisement

Cermati Faktor Internal

Memasuki pekan baru pada Senin depan, pelaku pasar tentu bertanya-tanya: Apakah penguatan Rupiah ini hanya napas buatan sesaat atau awal dari tren penguatan jangka panjang?

Pergerakan nilai tukar rupiah pada Senin (6/7/2026) diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif namun berpotensi menjaga momentum penguatan. Mata uang Garuda diproyeksikan akan bergerak pada rentang Rp17.920 hingga Rp17.990 per dolar AS.

Meskipun mendapat dorongan positif dari sentimen global, investor dan pelaku usaha disarankan tetap mencermati beberapa faktor internal sembari mengawali pekan depan:

  1. Tekanan Neraca Dagang Domestik: Adanya catatan defisit neraca perdagangan pada periode sebelumnya masih membayangi persepsi pasar terhadap pasokan valas dalam negeri.
  2. Angka Inflasi Juni: Tingkat inflasi domestik bulan Juni 2026 yang cukup tinggi dinilai masih menjadi ganjalan yang menahan Rupiah untuk menguat terlalu dalam.
  3. Sentimen Pembukaan Wall Street: Arah penutupan pasar saham dan obligasi AS di akhir pekan akan menjadi kompas awal bagi pergerakan indeks dolar pada perdagangan Senin pagi.

Bagi masyarakat maupun pelaku bisnis yang membutuhkan transaksi dolar AS, momentum penguatan di level Rp17.963 ini bisa dimanfaatkan secara bijak sebelum pasar kembali membuka lembaran baru di hari Senin. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement