Ekonomi
Pasar Keuangan Rabu 22 April 2026: IHSG dan Rupiah Memerah Tertekan Ngambangnya Gencatan Senjata AS – Iran

Loyo, melemah dan memerah posisi Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah pada perdagangan saham dan valuta asing Rabu (22/4/2026). (Foto : AI/Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Awan mendung menyelimuti pasar keuangan domestik, Rabu (22/4/2026), dengan lesu dan memerahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah.
Loyonya IHSG dan rupiah membuat pasar keuangan dalam negeri lesu apalagai mata uang Garuda makin mengkhawatirkan dengan mendekati rekor baru terlemah Rp17.200 perdolar Amerika Serikat.
Pada penutupan perdagangan saham sore hari ini, IHSG ditutup melemah 17,77 poin atau 0,24 persen ke posisi 7.541,61. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 7,70 poin atau 1,04 persen ke posisi 735,97.
Baca Juga : Pasar Keuangan Selasa 21 April 2026: Rupiah Menguat Lagi, IHSG Tergerus Sentimen MSCI di Hari Hartini
Yang sedikit menghibur, pelemahan IHSG pada penutupan lebih baik dari saat pembukaan ketika dibuka melemah 31,04 poin atau 0,41 persen ke posisi 7.528,34. Untuk kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 7.66 poin atau 1,03 persen ke posisi 736,01.
Rupiah pada perdagangan valas juga sudah masuk zona merah sejak pembukaan sebelum ditutup melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.181 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.143 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.179 dari sebelumnya Rp17.142 per dolar AS.
Kurs rupiah pada penutupan makin loyo dibandingkan saat pembukaan Rabu pagi ketika melemah 13 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.156 per dolar AS.
Kondisi pasat keuangan hari ini mencerminkan sikap hati-hati para investor merespons dinamika ekonomi global dan domestik.
Baca Juga : Pasar Keuangan Senin 20 April 2026 Kontras: Rupiah Lepas dari Rekor Terendah, IHSG Malah Tergelincir
IHSG Cendrung Volatil
Bursa saham hari ini secara umum mencapai Rp16,2 triliun di pasar reguler. Sebanyak 477 ribu lot saham diperjualbelikan dengan frekuensi hampir 3 juta kali.
Seperti dilansir IDXChannel, Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi beban bagi IHSG. Saham DSSA berakhir melemah 9,7 persen ke Rp2.510, mendorong nilai pasar emiten grup Sinar Mas itu menyusut Rp77 triliun.
Sedangkan BREN turun 9,6 persen ke Rp5.400. Penurunan tersebut membuat nilai pasar perusahaan geothermal milik taipan Prajogo Pangestu itu menguap Rp249 triliun.
Secara sektoral, saham BASIC INDUSTRY menekan IHSG dengan penurunan sebesar 0,68 persen. Sejumlah saham yang menyeret sektor ini ke zona merah yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turun 3,1 persen, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun 2 persen, dan Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) terkoreksi 3,4 persen.
Baca Juga : Pasar Keuangan Jumat 17 April 2026: IHSG BEI Berseri, Rupiah Terpuruk ke Terburuk
Sektor TRANSPORTATION menahan pelemahan indeks lebih dalam setelah melesat lebih dari 4 persen Sasham CYCLICAL juga menguat 1,21 persen.
Selain DSSA dan BREN, saham-saham yang masuk deretan top losers yakni PT MD Entertainment Tbk (FILM) anjlok 6,2 persen ke Rp2.550, PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) turun 5,6 persen ke Rp1.010, PT MD Entertainment Tbk (FILM), dan PT Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN) melemah 3,6 persen ke Rp530.
Sementrara itu, saham-saham yang masuk jajaran top gainers di antaranya PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) menguat 29,5 persen ke Rp136, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) melesat 25 persen ke Rp3.850, dan PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) menghijau 11,1 persen ke Rp1.000.
“Bursa regional Asia tertekan yang dipengaruhi konflik Timur Tengah tak sesuai harapan akan munculnya perdamaian, meskipun ada perpanjangan gencatan senjata,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya di Jakarta, seperti dipantau dari metrotvnews.
Sedangkan dari dalam negeri, IHSG bergerak variatif seiring adanya tekanan global, ditambah penangguhan penilaian saham Indonesia oleh MSCI yang masih menjadi sentimen negatif.
Sementara itu, sesuai ekspektasi, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen. Hal ini sebagai upaya menjaga dan memperkuat stabilitas rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah.
Baca Juga : Pasar Keuangan Kamis 16 April 2026: Rupiah Mulai Tersenyum Tipis, IHSG BEI Merana, Kenapa Begini?
“Keputusan ini masih konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta yang dipantau dari Kontan, memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang terbatas, Kamis (23/4/2026).
“IHSG diproyeksikan memiliki support di 7.447 dan 7.346, serta resistance di 7.591 dan 7.677,” jelasnya.
Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pergerakan IHSG masih akan cenderung volatil pada perdagangan berikutnya. Herditya memperkirakan IHSG bergerak pada kisaran support 7.525 dan resistance 7.570.
Rupiah Tertekan Likuiditas
Setali tiga uang, nilai tukar rupiah juga menunjukkan performa yang kurang menggembirakan. Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh sentimen global yang masih mengunggulkan dolar sebagai aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik dan suku bunga global.
Baca Juga : Pasar Keuangan Merah Total: Sama-sama Tergelincir, IHSG Merosot dan Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Ada Apa?
Seperti dilansir periskop, Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah dari eksternal karena indeks dolar AS menguat seiring meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu keputusan Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata belum mendapat respon resmi dari Iran.
Di sisi lain, dinamika kebijakan moneter AS turut menjadi perhatian pasar setelah munculnya wacana perubahan arah kebijakan The Fed yang cenderung lebih ketat.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari kondisi likuiditas pemerintah. Jatuh tempo utang yang mencapai Rp833,96 triliun pada 2026 memunculkan kekhawatiran pasar terhadap risiko pembiayaan ulang (refinancing) dalam skala besar.
Selain itu, keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dinilai sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar, meski di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.
Ibrahim memproyeksikan rupiah besok (23/4/2026) bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 17.180 – Rp 17.220 per dolar AS. ***