Ekonomi

IHSG Lagi-lagi Cetak Rekor Tettinggi dan Ditutup Menguat, Rupiah Lagi-lagi Melemah

Published

on

IHSG Lagi-lagi Cetak Rekor Tettinggi dan Ditutup Menguat, Rupiah Lagi-lagi Melemah

Bak pesawat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terbang tinggi setelah kembali menguat dan mencetak rekor tertinggi, Senin (19/1/2026), sedang nilai tukar rupiah merendah setelah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)

FAKTUAL INDONESIA: Lagi-lagi yang berbeda untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah.  Ya, berbeda sangat jauh. Begitulah dinamikan perdagangan saham dan valuta pada awal pekan, Senin (19/1/2026).

IHSG selain melangkah mantap dengan terus menguat sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan saham juga lagi-lagi mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH).

Nilai tukar (kurs) rupiah juga lagi-lagi namun melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan valuta. Kenapa? Ada pengaruh dari rencana kebijakan baru Presiden AS Donald Trump.

Baca Juga : IHSG Ditutup Menguat dan Cetak Rekor Tertinggi ATH, Rupiah Kembali Tergelincir

Rekor Tertinggi Baru

IHSG BEI sejak Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mencanangkan target menembus level 10.000 tahun ini terus melangkah dengan mantap. Pada perdagangan Senin ini, IHSG sudah langsung bergerak menguat ketika dibuka menguat 23,29 poin atau 0,26 persen ke posisi 9.098,70. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 1,84 poin atau 0,21 persen ke posisi 891,27.

Advertisement

Posisi ini terus dipertahankan hingga penutupan ketika IHSG ditutup menguat 58,46 atau 0,64 persen ke posisi 9.133,87. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 3,69 poin atau 0,41 persen ke posisi 893,12.

Dengan ditutup pada level itu IHSG sekaligus mencatat rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH) baru.

Baca Juga : Rabu Ceria, IHSG Melesat Cetak Rekor Tertinggi Di Atas 9.000, Rupiah Akhirnya Bangkit Juga

Sepanjang tahun 2025, IHSG mencetak rekor ATH sebanyak 24 kali. Kondisi tersebut terus berlanjut hingga awal tahun 2026 atau bertepatan dengan masa kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menkeu.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyampaikan apresiasi kepada Purbaya, seiring IHSG yang terus-menerus menyentuh level ATH di masa kepemimpinannya.

“Terima kasih, Pak Purbaya,” ujar Iman dalam wawancara cegat di Gedung BEI Jakarta, Senin (19/1).

Advertisement

Baca Juga : Penutupan Perdaganga Hari Ini, IHSG Menghijau Lagi, Rupiah ya Ampun ……

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang konsumen non primer yang naik sebesar 1,23 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor barang konsumen primer yang naik masing-masing sebesar 0,77 persen dan 0,58 persen.

Sedangkan, lima sektor melemah yaitu sektor kesehatan turun paling dalam sebesar 1,02 persen, diikuti oleh sektor transportasi & logistik dan sektor barang baku yang turun masing-masing sebesar 0,94 persen dan 0,76 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu ESTI, ZATA, BELL, INOV, dan ASHA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni KIOS, TALF, CTBN, ELTY, dan BTEK.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.935.575 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 85,35 miliar lembar saham senilai Rp35,91 triliun. Sebanyak 377 saham naik, 318 saham menurun, dan 110 tidak bergerak nilainya.

Baca Juga : Sempat Cetak Rekor Tertinggi IHSG Malah Tergelincir, Rupiah Masih Terus Melemah

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 352,60 poin atau 0,65 persen ke 53.583,57, indeks Shanghai menguat 12,09 poin atau 0,29 persen ke 4.114,00, indeks Kuala Lumpur melemah 0,41 poin atau 0,02 persen ke 1.712,33, dan indeks Strait Times melemnah 14,22 poin atau 0,29 persen ke 4.834,88.

Advertisement

Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, menyebutkan bahwa penguatan saham-saham perbankan besar jelang musim rilis kinerja keuangan (earning season) dan ekspektasi pembagian dividen menjadi pendorong utama kenaikan IHSG.

“Aksi akumulasi di big banks masih menjadi penggerak utama indeks di tengah pelemahan rupiah,” kata Alrich kepada Kontan, Senin (19/1/2026), seperti dilansir kontan.

Secara teknikal, Alrich melihat momentum penguatan masih berlanjut. Histogram positif MACD melebar dan didukung kenaikan volume beli, sementara Stochastic RSI bergerak menguat di area overbought.

“IHSG berpotensi menguji 9.150-9.200 selama mampu bertahan di atas area pivot 9.100,” jelasnya. Adapun area support diperkirakan berada di 9.000.

Baca Juga : Suntikan Sentimen Domestik dan Global Bangkitkan IHSG ke Posisi 8.936

Rupiah Tertekan Sentimen LN

Advertisement

Sementara itu dalam perdagangan valuta, nilai tukar (kurs) rupiah lagi-lagi melemah terhadap dolar AS. Ketika pembukaan perdagangan, kurs rupiah dibuka melemah 17 poin atau 0,10 persen menjadi Rp16.904 dari sebelumnya Rp16.887 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan, Senin sore, kurs tukar rupiah melemah 68 poin atau 0,40 persen menjadi Rp16.955 dari sebelumnya Rp16.887 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.935 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.880 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menyampaikan salah satu sentimen yang membuat rupiah melemah ialah terkait Presiden AS, Donald Trump yang ingin memberlakukan tarif baru kepada delapan negara yang menentang rencananya menguasai Greenland.

Baca Juga : IHSG Makin Hijau Dekati Level 9.000, Rupiah Masih Loyo Bisa Terperosok Rp17.000 Per Dolar Amerika

“Trump mengatakan AS akan mengenakan tarif 10 persen pada barang-barang dari negara-negara yang terkena dampak mulai 1 Februari, dengan tarif tersebut akan naik menjadi 25 persen pada bulan Juni jika tidak ada kesepakatan yang tercapai,” kata dia dalam keterangannya seperti dilansir kabarbursa.

Advertisement

Ibarhim menyampaikan pengumuman tersebut menuai kritik tajam dari para pejabat Eropa dan meningkatkan kekhawatiran akan sengketa perdagangan transatlantik yang lebih luas.

Selain AS dan Greenland, sentimen juga datang mengenai data di AS yang menunjukkan pasar tenaga kerja tidak selemah yang diperkirakan. Oleh karena itu, kata Ibrahim, para pedagang menjadi ragu-ragu apakah Federal Reserve akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini.

Adapun untuk perdagangan besok, Selasa, 20 Januari 2026,  Ibrahim menyebut mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp16.950- Rp16.980. ***

Advertisement
Exit mobile version