Ekonomi

Drama Akhir Pekan: IHSG Berhasil Comeback, Rupiah Terkapar Tertekan Ketegangan Global

Published

on

Drama Akhir Pekan: IHSG Berhasil Comeback, Rupiah Terkapar Tertekan Ketegangan Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat membuat ketar-ketir sebelum rebound secara dramatis untuk ditutup menguat tipis (stagnan) di zona hijau, Jumat (27/2/2026), sementara nilai tukar rupiah menutup pekan terakhir bulan Februari 2026 dengan rapor merah.

FAKTUAL INDONESIA: Pasar keuangan Indonesia menutup pekan terakhir Februari 2026 dengan penuh drama. Sempat dihantam aksi jual masif pada pagi hari, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan aksi penyelamatan di menit-menit terakhir dalam perdagangan saham Jumat (27/2/2026).

Sementara nilai tukar (kurs) rupiah menutup perdagangan Jumat  dengan rapor merah karena tertekan ketegangan global hingga Alarm S&P.

Baca Juga : Rupiah Tancap Gas Menguat Tajam, IHSG Malah Loyo Memerah

IHSG Nyaris Ambruk

IHSG sempat membuat investor “senam jantung” setelah anjlok hampir 2% di sesi pertama hingga menyentuh titik terendah 8.093,75. Namun, bak plot film action, indeks berhasil bangkit (rebound) dan ditutup menguat tipis 0,22 poin ke level 8.235,48.

Yang menjadi penyelamat saham sektor transportasi melonjak drastis 6,19%. Emiten seperti Barito Renewables Energy (BREN) naik 4,78% dan Amman Mineral (AMMN) menguat 4,79% menjadi penopang utama.

Advertisement

Baca Juga : IHSG Rebound, Rupiah Balik Menguat, Kompak Masuk Zona Hijau Hari Ini

Sementara pemberat indeks terjadi ketika perbankan raksasa justru loyo. BBCA turun 1,71% dan BBRI melemah 1,01% akibat aksi lepas saham oleh investor asing.

Untuk aktivitas pasar, nilai transaksi hari ini sangat jumbo, mencapai Rp37,96 triliun, menunjukkan betapa tingginya volatilitas dan minat beli di harga rendah (buy on weakness).

Seperti dilansir liputan6, Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menuturkan, pergerakan IHSG seiring penantian sejumlah data indikator ekonomi penting pada pekan depan.

“Pada pekan depan, dari dalam negeri, dijadwalkan rilis sejumlah data indikator ekonomi penting, di antaranya S&P Global Manufacturing PMI, neraca perdagangan Januari 2026, serta inflasi Februari 2026, yang ketiga data itu akan dirilis pada Senin,2 Maret 2026,” ujar Ratna.

Selain itu, pelaku pasar menantikan data cadangan devisa periode Februari 2026 pada Jumat, 6 Maret 2026.

Advertisement

Dari tingkat global, Rata menuturkan, pelaku pasar menantikan rilis data ekonomi, diantaranya inflasi periode Februari 2026 di Euro Area, indeks manufaktur dan jasa dari China, consumer confidence dari Jepang, serta retail sales dari Euro Area.

Baca Juga : Pasar Keuangan Memerah: Rupiah dan IHSG Kompak Loyo di Hari Selasa

Faktor Rupiah Melemah

Berbanding terbalik dengan saham, mata uang rupiah harus mengakui keunggulan dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah ditutup melemah 0,17% ke level Rp16.787 per dolar AS.

Beberapa faktor yang membuat Rupiah “sesak napas” hari ini antara lain, ketegangan global ketidakpastian negosiasi nuklir AS – Iran memicu investor beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar. Kemudian sentimen S&P.  Meskipun lembaga rating S&P mempertahankan prospek Indonesia di level “stabil”, namun memberikan catatan terkait beban bunga utang yang mulai merangkak naik, membuat pelaku pasar cenderung waspada.

Meskipun melemah hari ini, secara akumulatif dalam sepekan terakhir rupiah sebenarnya masih mencatatkan penguatan tipis sekitar 0,6%. Namun, volatilitas diprediksi masih akan tinggi pada awal Maret mendatang.

Advertisement

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan indeks dolar AS menguat di Jumat 27 Februari 2026. Dari eksternal, ia menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik menjadi pendorong utama pergerakan pasar pekan ini.

“Ketegangan geopolitik terkait Iran menjadi pendorong utama minggu ini, karena Washington mengerahkan lebih banyak kapal ke Timur Tengah dan mengancam tindakan militer jika Teheran tidak menerima kesepakatan nuklir,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.

Menurut Ibrahim, seperti dilansir ipotnews, ketidakpastian ekonomi AS turut membayangi pasar.

Baca Juga : Rupiah Melejit Cetak Rekor, IHSG BEI Berpesta

“Ketidakpastian yang meningkat atas perekonomian AS juga menjadi faktor setelah geopolitik, terutama setelah putusan Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif perdagangan Presiden Donald Trump. Namun, Trump menanggapi dengan mengumumkan tarif baru di bawah kerangka hukum yang berbeda, dan mengancam akan memberlakukan lebih banyak bea masuk, membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan ekonomi lebih lanjut akibat bea masuk tersebut,” jelas Ibrahim.

Selain itu, pasar juga tengah mencermati arah kebijakan moneter The Fed. Pelaku asar sedang menilai kembali jalur kebijakan moneter Fed karena para pembuat kebijakan tetap khawatir tentang inflasi yang tinggi. Pasar secara luas memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan di bulan Maret dan April.

Advertisement

Sementara penurunan suku bunga pada bulan Juni, yang sebelumnya dianggap sebagai waktu yang paling mungkin bagi The Fed untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter, kini tampaknya kurang pasti. Menurut CME FedWatch Tool, pasar sekarang melihat pertemuan di bulan Juli sebagai waktu yang lebih mungkin untuk penurunan suku bunga berikutnya, dengan probabilitas sekitar 66%.

Baca Juga : Jumat, Rupiah Menggeliat Menghijau, IHSG Terseret Memerah di Akhir Pekan

Dari faktor internal, pasar juga merespons kebijakan perdagangan terbaru AS. Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS), DOC, pada Selasa resmi mengumumkan pengenaan bea masuk imbalan atas sel dan panel surya yang diimpor oleh perusahaan-perusahaan di India, Indonesia, dan Laos.

Secara rinci, AS menetapkan tarif subsidi umum sebesar 125,87% untuk impor dari India, 104,38% untuk impor dari Indonesia, dan 80,67% untuk impor dari Laos. Berdasarkan data perdagangan pemerintah, ketiga negara tersebut menyumbang nilai impor senilai US$4,5 miliar atau sekitar Rp75,73 triliun tahun lalu, atau sekitar dua pertiga dari total impor sepanjang 2025.

Keputusan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kebijakan bea masuk selama satu dekade terhadap impor produk surya murah dari Asia yang sebagian besar diproduksi oleh perusahaan-perusahaan asal China.

Pejabat perdagangan AS menyatakan kebijakan ini bertujuan mendukung pemilik pabrik tenaga surya domestik setelah menemukan adanya subsidi pemerintah yang membuat produk AS menjadi tidak kompetitif di pasar sendiri. ***

Advertisement

Exit mobile version