Ekonomi
IHSG BEI Jumat 10 Juli 2026: Akhir Pekan Ceria di Zona Hijau, Senin Uji Level 6.000

Dengan ditutup menguat Jumat (10/7/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi menguji level psikologis pada perdagangan awal pekan depan. (Foto : AI)
FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil menutup pekan ini dengan ceria. Pada perdagangan Jumat (10/7/2026), indeks domestik sukses mempertahankan posisinya di zona hijau, menguat tipis 11,92 poin atau 0,20% ke level 5.924,36 dengan indeks LQ45 naik 1,88 poin atau 0,32 persen ke posisi 589,25.
Sepanjang hari, IHSG sebenarnya sempat bergerak lincah dan dibuka bergairah di level 5.936. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan naik 4,13 poin atau 0,10 persen ke posisi 590,04. Meski sempat terkena aksi ambil untung (profit taking) di sesi siang, dorongan beli di akhir sesi sukses menyelamatkan indeks dari zona merah.
Baca Juga : IHSG BEI Kamis 9 Juli 2026: Bangkit Menguat 39,07 Poin, Simak Saham yang Menarik Dicermati
Analis menilai penguatan IHSG juga didorong oleh faktor domestik, seperti posisi cadangan devisa Indonesia yang solid di angka US$ 145,6 miliar, memberikan suntikan modal psikologis yang positif bagi investor lokal untuk terus melakukan aksi beli (technical rebound).
“Jelang akhir pekan, IHSG dan Bursa regional Asia bergerak menguat menyusul laporan Amerika Serikat (AS) dan Iran akan melanjutkan negosiasi perdamaian,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, dilansir seperti dilaporkan metrotv, Jumat.
Sedangkan dari mancanegara, Nico mengatakan sinyal perdamaian antara AS dengan Iran, sebuah sinyal harapan negosiasi diplomasi lanjutan setelah AS dan Iran melakukan serangan militer di Teluk awal pekan ini.
Baca Juga : IHSG BEI Rabu 8 Juli 2026: Anjlok 1,89 Persen Dipicu 3 Sentimen, Kamis Dibayangi Volatilitas Tinggi
Harapan itu setelah Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal tetap melanjutkan proses negosiasi perdamaian dengan Iran, dan dilaporkan Iran berupaya melakukan negosiasi membantu meredakan kekhawatiran tentang gangguan pasokan yang berkepanjangan dan tekanan inflasi.
Adapun dari dalam negeri, terdapat sebanyak enam perusahaan telah melangsungkan Initial Public Offering (IPO) di pasar modal Indonesia sepanjang pekan ini.
Sementara itu, laporan World Economic Outlook (WEO) Juli 2026, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di angka 5,0 persen pada 2026 dan 5,1 persen pada 2027.
Prediksi itu tidak berubah dari laporan April 2026, yang mana kondisi Indonesia dinilai tangguh karena mampu bertahan di tengah tren perlambatan ekonomi global dan negara tetangga.
“Proyeksi itu menunjukkan pertumbuhan yang realistis di saat perlambatan yang dialami sejumlah negara di kawasan Asia maupun ekonomi besar dunia,” ujar Nico.
Menguji Level Psikologis 6.000?
Bagaimana nasib IHSG saat pasar dibuka kembali pada Senin, 13 Juli 2026?
Sejumlah analis memproyeksikan IHSG masih memiliki bahan bakar untuk melanjutkan penguatan, namun dengan ruang yang terbatas.
Baca Juga : IHSG BEI Selasa 7 Juli 2026: Lompat 1,19% Dekati Level 6.000, Masih Ada Ruang Bullish Berkelanjutan
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda memperkirakan, IHSG masih bergerak konsolidasi dengan kecenderungan menguat terbatas pada kisaran support 5.850–5.880 dan resistance psikologis 6.000–6.050.
“Momentum teknikal mulai membaik seiring MACD yang bergerak positif, namun IHSG masih perlu menembus area 6.000 sebagai konfirmasi penguatan lanjutan,” paparnya seperti dilansir kontan.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mencermati, memperkirakan, IHSG masih bergerak konsolidasi dengan kecenderungan menguat terbatas pada kisaran support 5.850–5.880 dan resistance psikologis 6.000–6.050.
“Momentum teknikal mulai membaik seiring MACD yang bergerak positif, namun IHSG masih perlu menembus area 6.000 sebagai konfirmasi penguatan lanjutan,” paparnya.
Pasar akan mencermati beberapa sentimen utama pada Senin esok. Terutama, perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi kembali mendorong kenaikan harga komoditas, khususnya minyak dunia. Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat (US CPI).
Herditya memperkirakan IHSG bergerak menguat terbatas dengan support 5.904 dan resistance 5.939. “Sentimennya berasal dari investor yang masih mencermati nilai tukar Rupiah yang masih terdepresiasi dan juga pergerakan harga komoditas dunia,” katanya.
Baca Juga : IHSG BEI Senin 6 Juli 2026: Sempat Tergelincir tapi Bangkit Menguat, Memburu Level 6.000
Skenario Bullish: IHSG berpotensi menguji area resistance terdekat di rentang 6.000 hingga 6.083. Jika sentimen domestik terus solid dan bursa regional Asia mendukung, menembus angka psikologis 6.000 bukan hal yang mustahil awal pekan depan.
Skenario Konsolidasi/Koreksi: Investor tetap wajib pasang mata. Nilai tukar rupiah yang masih fluktuatif di kisaran Rp18.050 – Rp18.100 per dolar AS serta kebijakan suku bunga global yang ketat (higher for longer) berpotensi memicu aksi profit taking susulan. Jika terjadi jenuh beli, area support kritis akan diuji di level 5.752 – 5.840.
Tips untuk Senin Depan: Sektor energi dan barang konsumen primer diperkirakan masih menarik untuk dicermati. Bagi para trader dan investor, strategi buy on weakness (beli saat melemah) pada saham-saham berfundamental kuat bisa menjadi pilihan bijak di tengah pasar yang masih bergerak dinamis ini.
Energi Melejit, RANS Jadi Primadona
Berdasarkan data RTI Business, performa kinclong hari ini ditopang oleh sebanyak 383 saham naik, 252 saham menurun dan 330 tidak bergerak nilainya.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.900.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 18,51 miliar lembar saham senilai Rp8,86 triliun.
Baca Juga : IHSG BEI Kamis 2 Juli 2026: Tetap Perkasa Saat Transaksi Tembus Rp10,2 Triliun, Profit Taking Mengintai
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat yaitu dipimpin sektor energi yang naik 0,97 persen, diikuti oleh sektor barang baku dan sektor barang properti yang naik masing-masing sebesar 0,56 persen dan 0,56 persen.
Sedangkan empat sektor melemah ll sektor industri turun 0,67 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor barang kesehatan yang naik masing-masing sebesar 0,58 persen dan 0,48 persen.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar yaitu PRDL, RANS, BKPD, KONI dan KOKA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni JELI, BAPA, JECX, SKBM, dan HATM.
Menariknya, di barisan saham pilihan, emiten PT Rans Hiburan Nusantara Tbk (RANS) kembali mencuri perhatian publik setelah harganya melonjak drastis sebesar 34,12%, menduduki salah satu jajaran top gainers hari ini bersama PRDL dan BKDP.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 1,58 persen ke 68.814,00, indeks Shanghai melemah 1,00 persen ke 3.911,16, indeks Hang Seng menguat 0,60 persen ke 24.175,12, dan indeks Strait Times menguat 0,60 persen ke 5.466,31. ***













