Kesehatan
Tawari Terawan Gabung, PDSI Harap DSA ‘Cuci Otak’ Jadi Gold Standar Pengobatan Stroke

PDSI meminta mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bersedia jadi pelindung organisasi
FAKTUAL-INDONESIA: Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI) mengincar mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menjadi pelindung organisasi.
Bukan itu saja, PDSI juga berharap metode DSA Cuci Otak besutan dr Terawan menjadi gold standar pengobatan stroke.
Sekretaris Umum PDSI, Erfen Gustiawan, mengatakan bahwa pihaknya sudah berkomunikasi dan meminta Terawan untuk gabung masuk ke dalam kepengurusan.
PDSI meminta agar eks Menteri Kesehatan itu menjadi pelindung dalam organisasinya. “Sudah (berkomunikasi dengan Terawan). Namun belum final (respons Terawan),” ujar dia saat dihubungi pada Selasa (3/5/2022).
Selain Terawan, Erfen menyebutkan, ada tokoh nasional lain yang diajak bergabung, tapi dia tidak menjelaskan detail siapa saja tokoh tersebut. Erfen berharap semua seniornya itu dapat segera memberikan respons.
“Semoga setelah hari raya ini semua senior tersebut dapat berkabar, kita tunggu saja,” katanya.
Selain itu, seperti dipantau dari media tempo.co, PDSI juga berharap, dengan posisi yang lebih luwes karena tidak mengambil porsi kewenangan pemerintah, maka organisasi itu bisa lebih fleksibel bekerja sama dengan semua pihak. “Bahkan yang nondokter,” tutur Erfen.
PDSI dideklarasikan pada Rabu, 27 April 2022. Deklarasi tersebut dipimpin langsung oleh Jajang Edi Priyatno di Timor Room Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Pendirian PDSI ini sesuai dengan SK Kemenkumham Republik Indonesia No. AHU-003638.AH.01.07.2022 tentang Pengesahan Pendirian Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia.
Ketua PDSI, Brigjen TNI (Purn) dr Jajang Edi Priyanto saat deklarasi PDSI mengemukakan, siap menerima Terawan Agus Putranto sebagai anggota.
“Adapun ke depan, kalau memang beliau mau bergabung dengan PDSI, kami akan terima dengan pintu terbuka. Silakan beliau memilih rumah tinggal baru silakan,” Jajang Edi Priyanto.
Terkait metode DSA ‘cuci otak’ besutan dr Terawan yang dipersoalkan IDI, PDSI mengaku terbuka terhadap inovasi tersebut. Bahkan, PDSI berharap metode tersebut bisa menjadi gold standar pengobatan stroke.
Dalam kesempatan tersebut juga, PDSI menegaskan anggota yang kelak bergabung dalam PDSI harus keluar dari IDI.
“Ini adalah pilihan, kalau memang di PDSI itu manfaatnya lebih banyak daripada mudharatnya, silahkan masuk ke PDSI,” beber dr Jajang.
“Tapi kalau banyak mudharatnya silahkan ke organisasi sebelah, tapi bagi kami bahwa PDSI berbeda dengan organisasi sebelah,” imbuhnya.
Menanggapi kisruh tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) IDI dr Moh Adib Khumaidi, SpOT menegaskan standar layanan, etik, kompetensi, dan mutu layanan harus muncul dari satu organisasi profesi. Hal itu tak lain demi memberikan perlindungan kepada pasien, meningkatkan mutu layanan, dan memberikan kepastian hukum pada masyarakat.
“Bila organisasi kedokteran lebih dari satu akan berpotensi membuat standar, persyaratan, sertifikasi keahlian, dan kode etik berbeda, membingungkan tenaga profesi kedokteran maupun masyarakat yang merupakan pengguna jasa,” jelas dr Adib dalam keterangan resmi yang diterima detikcom, Jumat (29/4).
“Untuk organisasi profesi kedokteran, sesuai dengan World Medical Association (WMA), harus bisa merumuskan standar etika, merumuskan kompetensi, dan memperjuangkan kebebasan pengabdian profesi. Muara dari semua ini juga dirasakan oleh masyarakat,” kata dr Adib lebih lanjut. ***














