Ibu Kota
Bursa Batu Akik Rawa Bening ‘Mati Suri’ Gegara Pandemi Covid-19

Batu Akik yang dipamerkan di estalase di Bursa Batu Akin Rawa Bening, Jatinegara. (Farhanzuhdi)
FAKTUALid – Penjual batu akik mengakui bahwa kini pamornya turun karena peminat batu akik belakangan sangat sedikit dan boleh dibilang hanya mengandalkan penggemar fanatik alias kolektor yang masih berburu batu tersebut.
Padahal, sebelumnya demam batu akik sempat melanda masyarakat nusantara pada tahun 2015 dengan kemunculan Batu Bacan. Aneka batu akik menjadi primadona. Harga pun melambung tinggi, bahkan mencapai miliaran rupiah.
Namun memasuki 2018, demam batu akik mulai surut. Perdagangan pun kembali mengandalkan dari para kolektor yang memang gemar mengoleksi batu akik
Hal tersebut diungkapkan, Bambang, salah satu penjual batu akik di Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, ketika ditemui sela-sela kesibukannya menjaga barang dagangannya, Minggu (13/6/2021).
“Pamor batu akik sekarang sudah sangat menurun tidak lagi booming seperti sebelumnya. Paling sekarang orang cari batu akik yang bagus dan berkualitas, batu-batu biasa mah udah jarang peminatnya,” ujar Bambang.
Pria 25 tahun itu menjelaskan, peminat batu akik saat ini hanya dari kalangan kolektor saja yang benar-benar fanatik dengan batu akik. Selebihnya sudah jarang yang berbelanja ditempatnya tersebut.
Bambang berdagang batu akik tersebut diakuinya sudah berdiri sejak tahun 1997 silam. “Toko ini udah ada tahun 1997, kalo saya jualan di sini dari tahun 2014 nerusin bisnis kakak saya,” kata Bambang.
Disinggung pandemi Covid-19, terang Bambang, hal itu menjadi pukulan pamungkas kepada para penjual batu akik. Dampak terhadap omset pendapatan benar-benar dirasakan.
“Omset turun jauh, sebelum pandemi sehari bisa Rp 20 juta, untuk sekarang mah rata-rata omset harian sekitar Rp 1 jutaan sudah termasuk bagus,” tutur Bambang.
Turunnya omset penjualan batu akik, lanjut Bambang, juga akibat karena masyarakat enggan untuk keluar rumah lantaran takut terpapar Covid-19.
“Sebelum pandemi orang dari luar kota banyak yang dateng, setelah pandemi mungkin takut atau segen keluar rumah karena takut terpapar Covid-19,” ucap Bambang. “Apalagi keluar hanya buat ke sini. Jadi main online aja,” imbuhnya.
Untuk mengatasi minimnya penjualan, kata Bambang, dirinya terjun ke platform online untuk memajukan bisisnya tersebut.
“Kalo ngandelin lapak doang susah juga, paling sekarang ngejar online aja, lumayan buat kondisi-kondisi sekarang ngebantu walau yang laku cuma satu dua perhari” ucap Bambang.
Jenis batu akik yang dijualnya beragam, mulai dari tipe garut, safir, bacan, hingga batu akik motif gambar. Harganya mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 8 juta rupiah tergantung kualitas. (Farhanzuhdi)














