Kesehatan
Kenali Hipotensi dan Hipertensi yang Tak Boleh Disepelekan
FAKTUALid – Tekanan darah menjadi salah satu dari empat tanda penting pada tubuh yang dipakai sebagai tolak ukur untuk mengetahui kondisi kesehatan secara keseluruhan. Angka tekanan darah bisa dengan mudah diketahui melalui pemeriksaan tekanan darah.
Tekanan darah dikatakan normal jika berada pada kisaran 90/60 mmHg sampai 120/80 mmHg. Angka yang lebih dari batas tersebut menunjukkan indikasi hipertensi, sedangkan angka di bawah batas menunjukkan kondisi hipotensi. Lalu, mana yang lebih mengkhawatirkan?
Tak seperti hipertensi, kasus hipotensi ternyata tak banyak terjadi. Biasanya, masalah kesehatan ini muncul pada orang dengan aktivitas fisik yang tinggi atau sering melakukan olahraga dalam intensitas berat.
Meski begitu, seperti dikutip dari halodoc.com, Kamis (19/8/2021), tekanan darah rendah juga bisa terjadi karena banyak faktor lainnya, seperti hipotensi ortostatik, malnutrisi, perdarahan, masalah hormon, konsumsi obat tertentu, hingga ganggan jantung. Gangguan kesehatan ini pun cenderung terjadi tanpa gejala khas. Biasanya, tanda yang sering muncul, yaitu:
Pusing dan lemas.
Mual dan ingin muntah.
Pandangan mengabur dan kehilangan keseimbangan.
Jantung berdebar.
Sesak napas, bahkan hingga pingsan.
Kesulitan berkonsentrasi.
Kulit tampak pucat dan dingin saat disentuh.
Kamu tidak boleh menganggap remeh kondisi ini karena komplikasi yang ditimbulkan bisa sangat membahayakan. Sebut saja syok yang terjadi karena tekanan darah berkurang secara signifikan. Akibatnya, tubuh pun tidak mendapatkan oksigen sesuai dengan kebutuhan.
Asupan oksigen yang tidak terpenuhi bisa mengakibatkan organ mengalami gangguan, misalnya jantung, ginjal, dan otak. Jika tidak dilakukan penanganan, komplikasi akan lebih buruk lagi, bahkan bisa berujung pada kematian.
Lalu, adakah cara mengatasinya? Ada, yaitu perbanyak konsumsi cairan, bisa dari makanan, minuman, atau infus. Biasanya, dokter juga akan menyarankan kamu menghentikan konsumsi obat yang berdampak pada hipotensi dan melakukan pengobatan pada penyebabnya.
Apabila syok sudah terjadi, penanganan perlu dilakukan sesegera mungkin. Dokter bisa memberikan obat dan terapi oksigen untuk membantu menstabilkan tekanan darah, misalnya memberikan adrenalin.
Sementara itu, tekanan darah tinggi menjadi masalah kardiovaskular yang paling sering terjadi, terlebih pada lansia. Berdasarkan data dari WHO tahun 2019 lalu, terdapat sekitar 1,1 miliar orang yang mengidap hipertensi di seluruh dunia.
Di Indonesia, berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas tahun 2013, tercatat sekitar 25,8 persen masyarakat Indonesia mengidap tekanan darah tinggi.
Hipertensi bisa terjadi karena banyak faktor, mulai dari genetik, kondisi medis tertentu, sampai pada pola hidup dan pola makan yang tidak sehat. Stres dan jarang berolahraga serta konsumsi alkohol berlebihan juga berperan dalam peningkatan tekanan darah pada seseorang.
Sayangnya, tidak banyak yang mengetahui bahwa hipertensi bisa menjadi masalah kesehatan yang membahayakan. Ini karena tekanan darah tinggi terjadi tanpa gejala khusus. Biasanya, gejala baru akan terasa apabila tekanan darah sudah meningkat sangat tinggi dan ada masalah pada fungsi organ.*











