Ekonomi
Terima Wakil Perdagangan Luar Negeri Maroko, Wamendag Roro: Masih Ada Ruang Memperluas Perdagangan dan Investasi

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Dyah Roro Esti menerima kunjungan Wakil Menteri Perdagangan Maroko, Omar Hejira di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (9/7/2026). (Kemendag)
FAKTUAL INDONESIA: Masih ada ruang yang cukup besar untuk lebih memperluas perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Maroko. Apalagi Indonesia dan Maroko memiliki kekuatan ekonomi yang saling melengkapi mengingat posisi kedua negara yang terletak di persimpangan strategis jalur perdagangan global.
Indonesia menyediakan akses ke pasar ASEAN yang berpenduduk lebih dari 680 juta orang, sementara Maroko berfungsi sebagai pintu gerbang penting ke Afrika, Eropa, dan wilayah Mediterania.
“Di dalam ASEAN, Indonesia merupakan mitra dagang terbesar ketiga Maroko. Mengingat ukuran ekonomi kedua negara dan pasar yang saling melengkapi, kami meyakini masih ada ruang yang cukup besar untuk lebih memperluas perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Maroko,” kata Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri dalam pertemuan dengan Wakil Perdagangan Luar Negeri Maroko Omar Hejira di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Dalam pertemuan itu kedua belah pihak membahas penguatan kerja sama perdagangan dan investasi serta mendorong keterlibatan sektor swasta yang lebih kuat.
Wamendag Roro menyambut positif penandatanganan Perjanjian Pengakuan Bersama (Mutual Recognition Agreement/MRA) tentang Jaminan Produk Halal antara Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Indonesia dan Institut Marocain de Normalisation (IMANOR) Maroko di Jakarta pada 20 Mei 2026 lalu. Hal ini menjadi tonggak penting memajukan perundingan PTA.
“Indonesia berharap dapat segera mengaktifkan kembali negosiasi tersebut. Pasalnya, Preferential Trade Agreement (PTA) dan MRA tentang Jaminan Produk Halal akan memberikan dasar yang kuat untuk kepercayaan yang lebih dalam dan kerja sama yang lebih erat antara pelaku usaha kedua negara sehingga perdagangan bilateral dapat berkembang,” ujar Wamendag.
Sebelumnya, Indonesia-Morocco PTA diluncurkan melalui penandatanganan 28 Juni 2018 di Fes, Maroko. Sejak saat itu, para perunding Indonesia dan Maroko telah menyepakati sebagian besar teks perjanjian, namun perundingan tertunda karena kedua pihak ingin fokus pada kerja sama halal.
Roro juga mengundang pelaku usaha Maroko untuk hadir dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 sebagai pameran produk unggulan ekspor Indonesia di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang, Banten pada 14—18 Oktober 2026. Tema “The Ultimate Hub for Global Sourcing” menunjukkan kesiapan Indonesia sebagai simpul utama perdagangan dunia melalui produk nasional berkualitas yang berdaya saing, inovatif, berkelanjutan, dan berstandar global.
Seperti dilansir laman Kemendag, Wakil Perdagangan Luar Negeri Maroko Omar Hejira merespons dengan baik penerimaan Wamendag Roro. Omar turut menyepakati perlunya peningkatan perjanjian perdagangan dan keterlibatan sektor swasta kedua negara. Omar juga mengundang pelaku usaha Indonesia untuk melebarkan sayap ke Maroko mengingat Maroko menjadi salah satu penyelenggara Piala Dunia 2030 bersama Spanyol dan Portugal.
“Kami mengharapkan perundingan perjanjian perdagangan dapat kembali dimulai awal tahun 2027. Kami juga mengundang Indonesia di Marrakesh, salah satu kota perdagangan besar, untuk melihat sendiri situasi Maroko sebagai gerbang ke Afrika,” ujar Omar.
Perdagangan dan Investasi Indonesia-Maroko
Perdagangan Indonesia-Maroko terus menunjukkan momentum positif. Total perdagangan kedua negara mencapai USD 235 juta pada 2025 dengan peningkatan 33,04 persen dibandingkan pada 2024. Lebih lanjut, selama Januari–Mei 2026, perdagangan bilateral mencapai USD 158,1 juta, mencerminkan peningkatan tahunan 41,95 persen.
Ekspor Indonesia ke Maroko pada 2025 berjumlah USD 154,9 juta dengan komoditas utamanya terdiri atas kopi, ban pneumatik baru, lemak dan minyak hewani dan nabati, margarin dan olahan makanan, serta batu bara. Sementara itu, impor Indonesia dari Maroko mencapai USD 80,1 juta dengan komoditas utamanya terdiri dari pupuk nitrogen dan fosfat, aluminium mentah, pakaian wanita, dan bahan baku industri lainnya.
Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar USD 74,8 juta pada 2025. Maroko saat ini merupakan tujuan ekspor ke-74 dan sumber impor ke-76 Indonesia.
Maroko merupakan sumber investasi ke-62 bagi Indonesia. Investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) Maroko meningkat secara signifikan dari USD 1,4 juta pada 2024 menjadi sekitar USD 5,4 juta pada 2025. Secara kumulatif selama 2021–2025, investasi Maroko di Indonesia mencapai sekitar USD 8,4 juta dalam 122 proyek. ***














