Ekonomi
Rupiah Kamis 9 Juli 2026: Terperosok Tajam ke Rp18.128, Masih Cendrung Melemah

Nilai tukar (kurs) rupiah kembali disundul oleh dolar Amerika Serikat (AS) sehingga terperosok tajam melemah di atas Rp18.100 pada perdagangan Kamis (9/7/2026). (Ist)
FAKTUAL INDONESI: Tekanan terhadap rupiah belum mereda. Pada penutupan perdagangan sore ini, Kamis (9/7/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot kembali terkoreksi tajam. Mata uang kebanggaan Indonesia ini ditutup melemah 114 poin atau anjlok 0,63 persen ke level Rp18.128 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sejak pertengahan pekan, sekaligus membawa mata uang Garuda makin dalam menjajaki zona psikologis barunya di atas Rp18.000 per dolar AS.
Pergerakan rupiah hari ini sudah terlihat loyo ketika dibuka melemah 52 poin atau 0,29 persen menjadi Rp18.066 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.014 per dolar AS.
Rupiah yang sudah berada di zona merah semakin tertekan sehingga harus ditutup makin melemah sore harinya.
Sementara Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp18.090 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.005 per dolar AS.
Mengapa Rupiah Loyo Hari Ini?
Kombinasi sentimen global dan ketidakpastian geopolitik menjadi dalang utama di balik merosotnya nilai tukar rupiah. Berikut beberapa faktor pemicunya:
- Tensi Geopolitik Timur Tengah Memanas: Kabar mengenai eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran global terhadap jalur perdagangan vital di Selat Hormuz. Kondisi risk-off ini membuat investor global panik dan berbondong-bondong menyelamatkan aset mereka ke dalam bentuk dolar AS yang dianggap sebagai aset aman (safe haven).
- Melambungnya Imbal Hasil Obligasi AS: Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield) tenor 10 tahun memperlebar selisih suku bunga antara AS dan Indonesia. Dampaknya, terjadi aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar spot domestik.
- Faktor Domestik & Evaluasi Rating: Meskipun tekanan musiman dari haji dan pembayaran dividen mulai mereda, pasar kini tengah mengambil sikap wait-and-see mengantisipasi evaluasi makro oleh S&P Global Ratings yang dijadwalkan pada Juli-Agustus ini.
“Kembalinya permusuhan dan tanda-tanda masalah pelayaran yang lebih besar di Hormuz kembali memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah,” kata Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi seperti dilansir metrotv.
Alasan lain yang perlu dipertimbangkan adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun yang naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen. Meskipun demikian, pasar uang skeptis terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed di Juli, tetapi untuk bulan September, kemungkinannya mendekati 60 persen, menurut CME FedWatch Tool.
Di sisi lain, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Semester I-2026 mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Adapun realisasi pendapatan negara Rp1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp1.656 triliun. Realisasi defisit tersebut meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 yang tercatat sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB.
Proyeksi Jumat 10 Juli 2026
Menjelang akhir pekan, pergerakan rupiah diprediksi masih akan dibayangi oleh volatilitas tinggi. Beberapa analis memperkirakan rupiah pada perdagangan Jumat (10/7/2026) akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah terbatas jika belum ada intervensi besar di pasar.
Rupiah diperkirakan bakal bergerak di kisaran Rp18.080 hingga Rp18.180 per dolar AS.
Apabila eskalasi di Timur Tengah sedikit mereda semalam, ada peluang bagi rupiah untuk mengalami technical rebound tipis karena posisinya yang sudah jenuh jual (oversold). Kebijakan pro-stabilitas dari Bank Indonesia (BI) di pasar valas juga diharapkan mampu menahan agar mata uang Garuda tidak terjatuh lebih dalam lagi menjelang penutupan pekan.
Menurut Ibrahim, nilai tukar rupiah akan melanjutkan tren pelemahan terhadap dolar AS pada perdagangan hari Jumat.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 18.120 – Rp 18.180,” ungkapnya.
Rangkuman Pasar Spot Sore Ini
| Indikator Penutupan (9 Juli 2026) | Nilai | Kesimpulan |
| Kurs Rupiah per Dolar AS | Rp18.128 | Melemah |
| Perubahan Poin | -114 poin | Koreksi tajam |
| Persentase Pelemahan | -0,63% | Tren Bearish |














