Ekonomi
Rupiah Kamis 11 Juni 2026: Melemah Lagi tapi Untung Tidak Lewat Rp18.000, Simak Prediksi Besok

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) meskipun sempat menguat di awal perdagangan valuta asing hari ini, Kamis (11/6/2026), akhirnya harus rela ditutup melemah. (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Aduh, nilai tukar (kurs) rupiah melemah lagi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (11/6/2026).
Tapi masih ada untungnya, pelemahan rupiah tidak menyentuh angka pskilogis Rp18.000 per dolar AS.
Padahal ketika pembukaan perdagangan valuta asing, Kamis pagi, rupiah sempat menunjukkan penampilan akan meneruskan penguatan setelah dibuka menguat 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.941 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.944 per dolar AS.
Namun kemudian mata uang Garuda bergerak loyo sehingga paada penutupan perdagangan sore harinya ditutup melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.989 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melemah ke level Rp17.981 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.971 per dolar AS.
Pergerakan mata uang Garuda hari ini dibayangi oleh sikap hati-hati para pelaku pasar yang menanti rilis data ekonomi penting dari eksternal, terutama dari Negeri Paman Sam.
Meski melemah hari ini, fluktuasi rupiah dinilai masih dalam batas yang wajar berkat langkah-masing intervensi yang terukur dari Bank Indonesia (BI) di pasar valas untuk menjaga stabilitas sirkulasi mata uang.
Penyebab Rupiah Melemah
Pelemahan rupiah hari ini tidak lepas dari sentimen global yang sedang berkembang. Para analis menilai ada beberapa faktor utama yang membuat otot rupiah mengendur:
- Ketegangan di Teluk: Meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah setelah Amerika dan Iran terlibat saling serang lagi.
- Menanti Data Inflasi AS: Investor global cenderung bermain aman (wait and see) menjelang rilis data indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi Amerika Serikat. Data ini sangat krusial karena akan menjadi kompas bagi Bank Sentral AS (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga mereka selanjutnya.
- Sentimen Risk-Off: Ketidakpastian mengenai kapan The Fed akan mulai memangkas suku bunga acuan membuat aliran modal cenderung kembali berbalik ke aset-aset aman (safe haven) seperti dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup melemah 44,5 poin, sebelumnya sempat melemah 60 poin di level Rp17.988,5 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.944 per USD,” kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Seperti dilansir metrotv, Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen komando militer gabungan tertinggi Iran yang mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Kamis, termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial, dengan mengatakan setiap kapal yang mencoba melewatinya akan ditembak.
“Blokade Iran selama berbulan-bulan terhadap selat tersebut, yang biasanya dilalui seperlima dari pengiriman minyak dan gas global, telah membuat harga minyak tetap tinggi,” ungkap Ibrahim.
Namun pasukan AS mulai melancarkan serangan tambahan terhadap beberapa target di Iran pada pukul 17.15. Pukul 21:15 EDT, serangan terbaru dalam serangkaian serangan yang semakin meningkat dan mengancam akan menyulut kembali perang skala penuh, yang sempat terhenti pada awal April ketika kedua pihak menyepakati gencatan senjata yang rapuh.
Selain itu, data menunjukkan harga konsumen AS naik 4,2 persen (yoy) pada Mei dibandingkan tahun sebelumnya, laju tercepat dalam tiga tahun, sebagian besar didorong oleh biaya energi yang lebih tinggi.
“Laporan inflasi memperkuat ekspektasi pasar dimana Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama dan bahkan dapat melanjutkan pengetatan kebijakan moneter akhir tahun ini jika tekanan harga terus berlanjut,” papar Ibrahim.
Kontrak berjangka suku bunga sekarang menunjukkan peningkatan kemungkinan setidaknya satu kenaikan suku bunga Fed sebelum akhir tahun, sebuah perubahan tajam dari ekspektasi awal tahun ini. Investor sekarang menunggu data harga produsen AS yang akan dirilis Kamis nanti untuk petunjuk lebih lanjut tentang prospek inflasi dan jalur kebijakan Fed.
Di sisi lain, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan defisit APBN 2026 Indonesia akan melebar hingga menyentuh batas aturan fiskal, yaitu tiga persen berdasarkan produk domestik bruto (PDB). Estimasi defisit fiskal itu lebih tinggi dibandingkan dengan target awal pemerintah.
Dalam asumsi APBN 2026, defisit dipatok di level 2,7 persen dari PDB. Angka proyeksi defisit 3,0 persen pada 2026 ini juga tercatat meningkat dibandingkan dengan realisasi defisit pada 2025 yang berada di level 2,9 persen dari PDB. Adapun, pelebaran defisit ini utamanya dipicu oleh tekanan harga komoditas global.
Harga minyak yang lebih tinggi diperkirakan akan meningkatkan defisit anggaran sebesar 0,6 persen dari PDB melalui peningkatan belanja subsidi BBM, apabila penahanan harga BBM bersubsidi dipertahankan. OECD mencatat Pemerintah Indonesia telah memberi sinyal kuat untuk mempertahankan defisit tetap berada di bawah pagu aman 3,0 persen dari PDB.
Untuk merealisasikan komitmen tersebut, pemerintah diyakini harus mengambil langkah kompensasi atau bauran kebijakan sebesar 0,3 persen dari PDB. Langkah tersebut termasuk pemangkasan pengeluaran di sektor lain serta potensi pengenaan pajak durian runtuh (windfall taxes) kepada eksportir komoditas unggulan Tanah Air.
Dari sisi makroekonomi, diproyeksikan pertumbuhan ekonomi (PDB) Indonesia akan melambat ke level 4,7 persen pada 2026, sebelum kembali pulih ke level 5,0 persen pada 2027.
“Pelemahan laju pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya energi dan tingginya ketidakpastian kebijakan yang diperkirakan akan membebani konsumsi maupun investasi, di tengah proyeksi pelemahan pasar tenaga kerja,” terang Ibrahim.
Sementara itu, laju inflasi diproyeksikan akan merangkak naik ke posisi 3,4 persen pada 2026. Kenaikan ini dipicu oleh transmisi bertahap dari tingginya harga energi global ke harga-harga domestik, meskipun pemerintah saat ini masih membekukan harga bahan bakar bersubsidi.
Masihkah Ada Harapan Menguat?
Untuk perdagangan menjelang akhir pekan esok hari, pergerakan rupiah diprediksi masih akan sangat bergantung pada hasil rilis data ekonomi AS malam ini.
Jika inflasi AS tercatat lebih rendah dari ekspektasi, dolar berpotensi melandai dan memberikan napas segar bagi rupiah untuk berbalik menguat. Sebaliknya, jika inflasi tetap tinggi, rupiah berkemungkinan masih akan tertahan di zona merah.
Menurut Ibrahim Assuaibi rupiah pada perdagangan Jumat besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.980 per USD hingga Rp18.030 per USD,” jelas Ibrahim.
Para pelaku pasar dan investor disarankan untuk tetap mencermati pergerakan indeks dolar AS (DXY) serta rilis data klaim pengangguran mingguan AS yang bisa menjadi katalis tambahan bagi pasar keuangan domestik. ***











