Connect with us

Olahraga

Mengakhiri Auto Pilot, Memulai Akselerasi: Catatan Konstruktif Menjelang Kongres PB Gabsi XXVII – September 2026, Mamuju

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Mengakhiri Auto Pilot, Memulai Akselerasi: Catatan Konstruktif Menjelang Kongres PB Gabsi XXVII – September 2026, Mamuju

Jika ingin bridge Indonesia tetap relevan, kompetitif, dan berkembang, maka perubahan tidak bisa ditunda.

Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge

FAKTUAL INDONESIA:

Pendahuluan

Menjelang Kongres PB Gabsi XXVII, kita dihadapkan pada satu pertanyaan penting:

Apakah organisasi ini masih berjalan dengan arah yang jelas, atau sekadar bergerak mengikuti arus tanpa kendali (auto pilot)?

Kritik ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, sementara tantangan ke depan justru semakin kompleks dan menuntut ketegasan arah.

Advertisement

Indikasi Masalah

Baca Juga : Pembenahan Menyeluruh, Masukan Buat Kongres Gabsi XXVII, Mamuju, Sulawesi Barat – September 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat sejumlah gejala yang patut menjadi perhatian bersama:

  1. Ketiadaan prioritas strategis yang jelas

Program berjalan, tetapi tanpa fokus yang terukur dan berdampak nyata.

  1. Minimnya tekanan terhadap target nasional

Isu besar seperti masuknya bridge ke PON 2028 belum terlihat ditangani secara agresif dan terstruktur.

  1. Terputusnya jalur pembinaan usia muda

Baca Juga : Malang dalam Sejarah Bridge Indonesia: Dari HUT Gabsi ke-50 hingga BTC Bridge Open

Keterlibatan bridge di Popnas, Pomnas, dan O2SN belum menunjukkan kemajuan signifikan.

  1. Prestasi internasional berjalan tanpa arah jangka panjang

Keikutsertaan dalam kejuaraan regional dan Asia belum sepenuhnya berbasis roadmap pembinaan yang berkelanjutan.

  1. Organisasi cenderung reaktif, bukan proaktif

Banyak langkah diambil setelah keadaan mendesak, bukan sebagai bagian dari perencanaan matang.

Tantangan Nyata di Depan Mata

Dalam waktu dekat, PB Gabsi akan menghadapi momentum penting:

  • Kejuaraan regional Asia Tenggara di Kualalumpur pada Desember 2026
  • Kejuaraan Asia Pasifik 2027 sebagai pintu menuju kejuaraan dunia
  • Penentuan posisi bridge dalam PON 2028
  • Reaktivasi bridge di lingkungan pelajar dan mahasiswa

Baca Juga : Semoga Bisa Ditiru PB Gabsi, Cara European Bridge League Mengatasi Kecurangan di Meja Bridge

Tanpa langkah konkret sejak sekarang, peluang-peluang ini berisiko terlewatkan.

Arah Perbaikan yang Diperlukan

Advertisement

Untuk keluar dari kondisi auto pilot, diperlukan perubahan pendekatan yang mendasar:

  1. Menetapkan tiga prioritas nasional

o          Perjuangan masuk PON 2028

o          Revitalisasi pembinaan usia muda

o          Peningkatan prestasi internasional

  1. Membentuk tim kerja khusus berbasis target

Baca Juga : Gabsi Lebih Tua dari Induknya WBF Apalagi CCBA

Setiap prioritas harus ditangani oleh tim dengan mandat, indikator kinerja, dan tenggat waktu yang jelas.

  1. Menerapkan sistem evaluasi berkala

Kinerja organisasi perlu diukur secara rutin dan terbuka, bukan hanya dilaporkan di akhir periode.

  1. Mengaktifkan kembali ekosistem bridge nasional

Dari sekolah, kampus, hingga klub, harus ada kesinambungan program yang nyata.

  1. Mengubah budaya organisasi

Dari sekadar menjalankan rutinitas menjadi organisasi yang berorientasi hasil.

Baca Juga : Hadiah HUT Gabsi, Susah dan Senangnya Menerbitkan Modern Bridge Conventions

Penutup

Kongres bukan hanya forum laporan pertanggungjawaban, tetapi momentum untuk menentukan arah masa depan.

Advertisement

Jika kita ingin bridge Indonesia tetap relevan, kompetitif, dan berkembang, maka perubahan tidak bisa ditunda.

Mengakhiri auto pilot bukan pilihan, melainkan keharusan.

Karena dalam bridge, seperti dalam organisasi, kemenangan bukan ditentukan oleh satu langkah besar, melainkan oleh keputusan-keputusan kecil yang tepat, konsisten, dan berani. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement