Connect with us

Kesehatan

4 Obat Covid-19 ini Diklaim jadi Terapi Penyembuhan

Diterbitkan

pada

obat Covid-19

Foto Ilustrasi : Istimewa

FAKTUALid – Belakangan ini banyak beredar rumor tentang beberapa obat yang dipercaya bisa menangkal atau bahkan menyembuhkan penyakit virus Covid-19. Setelah obat Covid-19 ini beredar dan dipercaya ampuh terhadap covid-19, banyak masyarakat yang berbondong-bondong mencari obat di apotik dan toko farmasi.

Banyaknya masyarakat yang mencari beberapa obat Covid-19 tersebut menyebabkan obat-obat itu mengalami kelangkaan. Tidak hanya itu, karena kelangkaan tersebut membuat harga obat melambung tinggi dipasaran karena beberapa obat tersebut stoknya terbatas.

Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito mengatakan ada dua obat Covid-19 yang mendapat izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA). Dua jenis obat itu sudah mendapat persetujuan digunakan dalam kondisi darurat. Adapun dua jenis obat itu ialah Remdisivir dan Favipiravir.

Lantas selain kedua obat tersebut, obat apa saja yang ampuh terhadap penyakit virus 19? faktualid.com telah merangkum beberapa obat covid-19 dari berbagai sumber.  Berikut daftar obat terapi penyembuhan Covid-19

1. Favipiravir

Favipiravir Obat ini pertama kali dikembangkan oleh Toyama Chemicals Jepang. Obat ini digunakan sebagai terapi influenza dan terbukti mampu melawan infeksi virus Ebola. Obat ini bekerja dengan mekanisme menghambat RNA-dependent RNA polymerase pada sel virus sehingga replikasi virus terganggu. Mekanisme ini membuat favipiravir menjadi obat antivirus dengan spektrum luas.

Advertisement

Dilansir dari Pedoman Tatalaksana Covid-19 oleh beberapa perhimpunan dokter Indonesia, favipiravir bisa digunakan pada pasien dengan gejala ringan hingga berat. Namun, penggunaannya masih sangat terbatas sehingga tidak boleh diberikan untuk ibu hamil atau perempuan yang merencanakan kehamilan.

Favipiravir diindikasikan untuk terapi infeksi virus influenza pandemik baru, terbatas untuk pengobatan kasus yang tidak membaik dengan antivirus lainnya. Saat ini obat ini digunakan sebagai obat uji untuk Covid-19. Belum ada penelitian mengenai dosis untuk terapi flu burung maupun virus ebola.

Penggunaan obat ini disebut cukup efektif untuk mengobati Covid-19, namun untuk mengetahui efektivitas, keamanan, dan efek sampingnya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Obat uji Covid-19, berdasarkan WHO diberikan loading dose 1600 mg pada hari ke-1, dilanjutkan dengan 600 mg 2 kali sehari. Mulai diberikan pada hari ke-2 sampai tidak lebih dari 14 hari. Di Indonesia, saat ini favipiravir sudah disetujui oleh BPOM untuk penggunaan darurat Covid-19. Sesuai protokol, dosis favipiravir yang diberikan untuk gejala ringan 600 mg/12 jam/oral, selama 5 hari. Sedangkan gejala sedang dan berat: loading dose 1600 mg/12 jam/oral pada hari ke-1, dilanjutkan dengan dosis 2×600 mg pada hari ke-2 hingga ke-5.

2. Remdesivir

Remdesivir adalah obat antivirus yang sedang diteliti dan dianggap memiliki potensi untuk mengatasi infeksi virus Corona atau Covid-19. Remdesivir merupakan antivirus yang memiliki spektrum luas dan sempat diteliti untuk mengatasi Ebola, MERS, dan SARS.

Advertisement

Laporan akhir dari studi National Institutes of Health (NIH) tentang penggunaan Remdesivir pada pasien Covid-19 telah mengonfirmasi keberhasilan obat tersebut dalam mempercepat pemulihan.

NIH menerbitkan hasil awal dari uji klinis yang dimulai pada akhir Mei, menunjukkan obat tersebut mempersingkat masa pemulihan pasien. Para peneliti mengatakan hasil akhir dikumpulkan setelah tindak lanjut lengkap dan sejalan dengan temuan awal.

Obat Covid-19 ini juga merupakan salah satu obat yang sudah masuk ke dalam standart of care Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Mengingat obat remdesivir mendapat persetujuan EUA atau penggunaan obat Covid-19 darurat, maka penggunaannya tidak bisa sembarangan diberikan ke semua pasien Covid-19. Obat remdesivir hanya ditujukan untuk pengobatan pasien penyakit Covid-19 yang telah terkonfirmasi oleh laboratorium. Utamanya untuk orang dewasa atau remaja (berusia 12 tahun ke atas dengan berat badan minimal 40 kilogram) yang dirawat di rumah sakit dengan kondisi parah.

Dalam pemaparannya, BPOM melaporkan zat aktif Remdesivir diberikan kepada pasien dalam bentuk serbuk injeksi dan larutan konsentrat untuk infus. Remdisivir berbentuk serbuk injeksi diproduksi dengan sejumlah nama obat di antaranya Remidia, Cipremi, Desrem, Jubi-R, Covifor, dan Remdac, sedangkan Remdisivir dalam bentuk larutan konsentrat bernama Remeva. Remdisivir diberikan kepada pasien dewasa dan anak yang dirawat di rumah sakit setelah dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 dengan derajat keparahan berat. Rencananya Remdesivir akan didistribusikan melalui PT Kimia Farma. Obat terapi bagi pasien Covid-19 ini ditargetkan beredar di pasaran mulai September 2021.

3. Azithromycin

Azithromycin adalah obat yang digunakan untuk penanganan infeksi bakteri tertentu, seperti bronkitis, radang paru-paru, penyakit menular seksual, infeksi pada telinga, paru-paru, sinus, kulit, tenggorokan, dan organ reproduksi.

Advertisement

Obat covid-19 ini juga digunakan untuk mencegah infeksi Mycobacterium Avium Complex (MAC) yang tak lain adalah infeksi paru-paru yang sering menyerang orang dengan HIV. Azithromycin terkadang juga digunakan untuk mengobati infeksi H.pylori yang menyebabkan diare, penyakit Legionnaires (sejenis infeksi paru-paru), pertusis (batuk rejan), babesiosis (penyakit menular yang dibawa oleh kutu), infeksi jantung pada orang yang menjalani prosedur gigi atau lainnya, serta untuk mencegah infeksi menular seks pada korban kekerasan seksual.

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh US National Library of Medicine, azithromycin telah digunakan dengan hydroxychloroquine untuk mengobati pasien tertentu dengan infeksi Covid-19. Sejauh ini ada laporan yang beragam tentang efektivitas penggunaan azithromycin ketika dikombinasikan dengan obat lain untuk mengobati pernapasan. Pastinya, untuk penggunaan pada infeksi Covid-19, azithromycin haruslah dengan arahan dokter.

Seberapa Efektif Mengobati Covid-19? Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh The Lancet, tidak ada peningkatan yang signifikan untuk pasien Covid-19 yang diobati dengan kombinasi hydroxychloroquine dan azithromycin. Hasil uji coba menunjukkan pemberian azithromycin tidak memberikan manfaat bagi pasien setelah penyakit berkembang dan pasien memerlukan rawat inap. Sejauh ini azithromycin paling sering diresepkan sebagai pengobatan rawat jalan.

Jika memang azithromycin tidak berperan dalam pengobatan Covid-19, ada baiknya dihindari untuk mengurangi konsumsi antibiotik yang tidak perlu. Dilansir dari Medical News Today, azithromycin tidak disetujui oleh Food and Drug Administration untuk digunakan sebagai pencegahan dan pengobatan Covid-19, kecuali jika digunakan dalam uji klinis.

4. Ivermectin

Belakangan, Ivermectin menjadi perbincangan publik karena dipercaya dapat mengatasi Covid-19. Obat yang dikenal dengan obat cacing ini sudah digunakan selama 40 tahun oleh lebih dari 4 miliar manusia di seluruh dunia sebagai antiparasitik.

Advertisement

Ivermectin kerap digunakan sebagai obat cacing dan obat pembasmi kutu. Namun, beberapa penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa ivermectin juga memiliki efek antivirus terhadap beberapa jenis virus, seperti virus Zika, influenza, chikungunya, dan virus Dengue.

Sementara itu, ivermectin sebagai obat Covid-19 telah diteliti dalam studi kecil dan dikombinasikan dengan doxycycline untuk mengetahui pengaruhnya. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa penyembuhan Covid-19. Meski demikian, perlu diingat juga bahwa hingga saat ini belum ada studi yang dapat membuktikan bahwa ivermectin efektif digunakan untuk mencegah Covid-19.

Berbagai institusi kesehatan, seperti FDA, WHO, BPOM, dan Kementerian Kesehatan Indonesia, juga belum merekomendasikan penggunaan ivermectin sebagai obat untuk mencegah atau mengobati Covid-19. Hal ini dikarenakan belum ada data dan uji klinis yang memadai terkait manfaat ivermectin sebagai obat Covid-19.

Ivermectin sebagai Obat Covid-19 Masih dalam Tahap Penelitian, Meski ivermectin belum dapat digunakan sebagai obat Covid-19, FDA dan berbagai institusi di beberapa negara telah membentuk gugus tugas untuk meneliti potensi ivermectin sebagai obat COVID-19 dan efektivitasnya dalam mengobati penyakit Covid-19 dengan gejala sedang hingga berat. WHO juga telah memberikan anjuran bahwa obat ini boleh diteliti sebagai obat Covid-19.

Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan Melalui BPOM telah merencanakan penelitian atau uji klinis untuk memastikan manfaat dan keamaan ivermectin sebagai obat Covid-19. Tapi, hal ini bukan berarti obat ini patut dibeli bebas tanpa pertimbangan dokter. Anda tetap dianjurkan untuk tidak mengonsumsi ivermectin sebagai obat Covid-19 tanpa petunjuk dari dokter.

Advertisement

Demikian 4 obat covid 19 yang bisa jadi terapi penyembuhan. Diharapkan dengan munculnya beberapa obat terapi Covid-19 ini bisa membantu para penderitanya dan juga bisa menurunkan angka kasus positif Covid-19 di Indonesia. ***

Lanjutkan Membaca
Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement