Olahraga
Jelang Olimpiade, Tunggal Putra Genjot Latihan Fisik

Anthony Sinisuka Ginting. (Ist)
FAKTUALid – Menjelang Olimpiade Tokyo 2020 yang akan berlangsung Agustus 2021, dua pemain tunggal putra Indonesia Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting meingkatkan intensitas lalatihan. Latihan lebih menitikberatkan pada konsistenti penampilan.
Di bawah pengawasan kepala pelatih tunggal putra Hendry Saputra Ho, keduanya berlatih sangat serius. Dan ini sudah berlangsung sejak dua bulan lalu.
“Sejak dua bulan lalu hingga hari ini, kita sudah coba fokus untuk peningkatan fisik, stamina, power, strength, dan kecepatan. Semua sudah kita jalankan dan akan terus berjalan sampai kira-kira dua minggu sebelum keberangkatan nanti,” ujar Hendry di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (4/6/2021) sore.
Indonesia sendiri meloloskan tujuh wakil ke Olimpiade Tokyo. Selain Ginting dan Jonatan, juga ada Gregoria Mariska Tunjung di nomor tunggal putri, dua ganda putra pasangan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan, ganda putri Greysia polii/Apriyani Rahayu, dan satu ganda campuran pasangan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti.
“Sejauh ini saya lihat hasilnya cukup bagus dan harusnya on target dengan kondisi yang kita mau. Nanti ketika hari berangkat dan tiba di sana juga sudah dalam keadaan baik, hasil latihan juga sudah baik,” lanjutnya.
Hendry mengatakan bahwa ia tidak melihat terlalu banyak kekurangan yang ada pada anak asuhannya. Dia hanya fokus pada peningkatan teknik dan mental di program latihannya ini.
“Sebenarnya kalau kekurangan tidak banyak. Mereka ini sudah berada di level yang sekarang kan sudah lama. Dan saya tahu standar kualitasnya. Hanya ada tingkat yang tidak maksimal, mungkin dari pikiran dan mental dengan kondisi seperti ini akibat jarang bertanding. Jadi kalau saya lihat bagaimana membuat tekniknya bisa lebih safe, lebih konsisten, dan lebih fokus untuk menerapkan pola main yang benar,” jelas Hendry.
“Kita ingin tingkatkan di teknik dengan cara mainnya, strateginya, pola pikir, dan juga mentalnya. Untuk mental saya kira itu yang paling penting karena mereka sudah cukup lama tidak bertanding. Makanya nanti seperti rencana PBSI yang akan menggelar simulasi, itu sebuah harapan supaya kita bisa tahu dimana kondisi keadaan mental mereka,” kata Hendry.
Tidak bertanding dalam waktu relatif lama diakui Hendry cukup memengaruhi keadaan. Tetapi pelatih berusia 57 tahun itu berusaha menyiasatinya.
“Kalau untuk masalah sudah lama tidak bertanding, memang akhirnya kita menyiasati dengan konteks pola latihannya saja. Kita coba disamakan seperti pertandingan nanti. Juga di simulasi jadi kita bisa lihat kondisi mereka dan dampaknya apa nanti,” tutur Hendry.
“Batalnya Malaysia Terbuka dan Singapura Terbuka itu cukup berpengaruh. Bagaimana kondisi fisik dan mental anak-anak sebenarnya sudah siap tempur, tapi akhirnya mau tidak mau harus batal. Itu yang kita cermati untuk persiapan ke Olimpiade ini. Ada dua bulan ke depan, kita harus siap dengan keadaan apapun. Jadi bagaimana kita merancang dan mengatur agar nanti bila sudah tiba di sana kondisinya sudah maksimal,” katanya lagi.
PBSI sendiri sudah menyiapkan pertandingan simulasi sebagai ajang pemanasan para atlet yang akan berlaga di Olimpiade Tokyo 2020 pada 18-19 Juni di Pelatnas Cipayung. ***