Olahraga

Jangan Salah Fokus: Masalah Utama Gabungan Bridge Seluruh Indonesia Bukan Orangnya, Tapi Sistemnya

Published

on

Jangan Salah Fokus: Masalah Utama Gabungan Bridge Seluruh Indonesia Bukan Orangnya, Tapi Sistemnya

Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge
FAKTUAL INDONESIA: Menjelang Kongres, seperti biasa, perhatian kita mulai mengerucut pada satu hal: siapa yang akan menjadi Ketua Umum. Diskusi mulai ramai. Nama-nama beredar. Dukungan mulai dihitung.

Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang sekali muncul: Apakah sistem yang akan dijalankan oleh siapa pun yang terpilih itu sudah benar?

Kita Terlalu Sering Mengganti Orang, Tapi Tidak Pernah Mengganti Sistem

Sejarah organisasi kita menunjukkan satu pola yang berulang:
pengurus berganti, tetapi masalahnya tetap sama.

Baca Juga : Bridge: Olahraga yang Diabaikan, Karakter yang Terlupakan

Kenapa?

Advertisement

Karena kita fokus pada aktor, bukan pada aturan main.
Padahal, dalam organisasi modern, sistem selalu lebih menentukan daripada individu.

Sistem yang lemah akan:
• membatasi orang baik
• melindungi kinerja yang biasa-biasa saja
• dan membuat organisasi berjalan tanpa arah yang jelas

Masalah yang Tidak Lagi Bisa Dianggap Biasa

Kalau kita mau jujur, ada hal-hal dalam AD/ART yang sulit dijelaskan dengan logika organisasi sehat.
Contoh yang sering dibicarakan:
• Mekanisme pengawasan yang tidak sepenuhnya independen
• Struktur yang membuka ruang konflik kepentingan
• Mekanisme akuntabilitas yang tidak langsung kepada pemilik mandat

Baca Juga : Menjaga Nyala yang Ditinggalkan MBH, Pilih Monumen, Turnamen atau Ekosistem Bridge?

Ini bukan sekadar kekurangan teknis.
Ini adalah cacat desain organisasi.
Dan selama desain ini tidak diperbaiki,
maka siapa pun yang memimpin akan bekerja dalam sistem yang sama.

Advertisement

Kita Sedang Menggunakan “Mesin Lama” untuk Dunia Baru
Dunia olahraga sudah berubah.
Federasi modern hari ini:
• Menggunakan data
• Mengandalkan teknologi
• Bekerja dengan KPI
• Menjunjung transparansi
Sementara kita masih mengandalkan:
• administrasi manual
• sistem yang tidak terukur
• mekanisme yang tidak transparan
Kita seperti mencoba memenangkan pertandingan modern
dengan peralatan lama.
Bisa berjalan? Ya.
Bisa bersaing? Belum tentu.

Baca Juga : Renungan Bridge Indonesia, Mamuju 2026: Menyusun Ulang Arah yang Pernah Hilang

Risiko Terbesarnya: Organisasi Berjalan, Tapi Tidak Maju

Ini yang paling berbahaya.
Organisasi tetap ada.
Turnamen tetap berlangsung.
Kegiatan tetap berjalan.
Sehingga kita merasa semuanya baik-baik saja.
Padahal, sebenarnya kita hanya bertahan, bukan berkembang.

Dan tanpa kita sadari:
• generasi muda tidak tertarik
• inovasi tidak muncul
• daya saing menurun

Kongres Ini Akan Menentukan: Ulangi Siklus, atau Putuskan?
Kongres seharusnya bukan hanya ajang memilih pemimpin.
Kongres adalah kesempatan untuk menjawab pertanyaan besar:
Apakah kita ingin mempertahankan sistem lama,
atau berani membangun sistem baru?
Kalau AD/ART tidak menjadi prioritas utama, maka yang akan terjadi sangat sederhana:
👉 Kita hanya mengganti orang,
👉 lalu berharap hasilnya berbeda.
Dan kita semua tahu, itu tidak akan terjadi.

Advertisement

Baca Juga : Harus Dimulai dari Sekarang, Membangkitkan Kembali Kejayaan Bridge Indonesia

Apa yang Harus Jadi Prioritas Nyata
Jika kita serius ingin berubah, maka fokus utama Kongres harus jelas:
• Digitalisasi organisasi (bukan pilihan, tapi kebutuhan)
• Sistem berbasis kinerja (bukan sekadar jabatan)
• Transparansi yang nyata (bukan formalitas)
• Reformasi keanggotaan (berbasis data, bukan asumsi)
• Masuknya profesional & teknologi
Tanpa ini, semua program hanya akan menjadi wacana.

Penutup: Kejujuran yang Diperlukan
Mungkin ini tidak nyaman untuk dibicarakan.
Tetapi justru karena kita peduli, maka ini harus disampaikan.
Masalah kita hari ini bukan karena kita kekurangan orang hebat.

Baca Juga : Selamat Jalan, Michael Bambang Hartono: Sahabat, Partner, dan “Pengorbanan Sunyi” untuk Bridge Indonesia

Masalah kita adalah karena sistem kita belum memberi ruang untuk menjadi hebat.
Dan selama itu tidak kita ubah,
kita akan terus berputar di tempat yang sama.

Pertanyaannya sekarang sederhana:
Apakah kita cukup puas untuk tetap berjalan,
atau kita berani berubah untuk benar-benar maju?

Karena pada akhirnya,
masa depan bridge Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang terpilih—
tetapi oleh sistem yang kita sepakati bersama. ***

Advertisement

Exit mobile version