Olahraga
Bridge Bukan Sekadar Permainan Kartu: Dunia Sudah Mengakuinya, Kapan Indonesia?

Tantangannya adalah bagaimana kita memanfaatkan bridge untuk membangun manusia Indonesia yang lebih siap menghadapi abad ke-21. (Ist)
Oleh: Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Selama bertahun-tahun, ketika saya memperkenalkan bridge kepada masyarakat, saya hampir selalu mendengar tanggapan yang sama.
“Oh, itu permainan kartu.”
Saya tidak pernah menyalahkan anggapan tersebut. Memang benar, bridge dimainkan dengan satu set kartu berjumlah 52 lembar.
Namun semakin lama saya berkecimpung di dunia bridge, semakin saya menyadari bahwa definisi itu
terlalu sempit.
Bridge bukan sekadar permainan kartu.
Bridge adalah latihan berpikir.
Bridge adalah latihan mengambil keputusan.
Bridge adalah latihan membangun kepercayaan.
Bridge adalah latihan bekerja sama.
Yang menarik, cara pandang seperti ini ternyata bukan hanya berkembang di kalangan pemain bridge.
Dunia internasional pun mulai melihat bridge dari perspektif yang lebih luas.
Pengakuan dari Dunia
Pada tahun 1999, International Olympic Committee (IOC) memberikan pengakuan resmi kepada World Bridge Federation (WBF) sebagai Recognized Federation berdasarkan Olympic Charter. Dalam surat resminya, Presiden IOC saat itu, Juan Antonio Samaranch, bahkan menyambut WBF sebagai bagian dari Olympic Family.
Pengakuan tersebut kemudian ditegaskan melalui sertifikat resmi IOC yang menyatakan bahwa WBF memperoleh pengakuan berdasarkan Rule 29 dari Olympic Charter.
Lima tahun kemudian, pada tahun 2004, International Bridge Federation diterima sebagai Full Member dari GAISF (General Association of International Sports Federations), yang saat itu merupakan organisasi yang menghimpun federasi olahraga internasional.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa bridge telah memperoleh tempat yang sejajar dengan cabang-cabang olahraga internasional lainnya dalam komunitas olahraga dunia.
Lebih dari Sekadar Kompetisi
Perkembangan tersebut tidak berhenti pada aspek olahraga.
Pada tahun 2012, UNESCO memberikan patronase kepada penyelenggaraan World Mind Sports Games. Dalam surat yang ditandatangani Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova, disebutkan bahwa ajang tersebut mendukung dialog antarbudaya, integrasi, serta pengembangan kemampuan sosial dan intelektual yang sejalan dengan nilai-nilai UNESCO.
Bagi saya, pesan dari dokumen tersebut sangat jelas.
Olahraga pikiran tidak hanya menghasilkan juara.
Ia juga dapat menjadi sarana pembelajaran.
Indonesia Memiliki Peluang
Indonesia memiliki sejarah bridge yang membanggakan. Prestasi atlet-atlet kita telah diakui di tingkat internasional.
Namun saya percaya bahwa tantangan kita sekarang bukan hanya mencetak lebih banyak juara.
Tantangan yang lebih besar adalah memperluas manfaat bridge.
Sekolah membutuhkan media untuk melatih berpikir kritis.
Perusahaan membutuhkan cara membangun kolaborasi dan pengambilan keputusan.
Instansi pemerintah membutuhkan budaya kerja yang menjunjung integritas.
Bridge tidak akan menggantikan semua metode pembelajaran itu.
Namun bridge dapat menjadi salah satu media yang efektif untuk membantu mengembangkan kompetensi tersebut.
Saatnya Mengubah Cara Pandang
Mungkin selama ini kita terlalu sering bertanya,
“Bagaimana membuat lebih banyak orang bermain bridge?”
Saya justru ingin mengajukan pertanyaan yang berbeda.
Bagaimana bridge dapat membantu membangun manusia yang lebih baik?
Ketika pertanyaannya berubah, jawabannya pun berubah.
Bridge tidak lagi dipandang sebagai tujuan.
Bridge menjadi media.
Media untuk membangun cara berpikir.
Media untuk membangun karakter.
Media untuk membangun kepemimpinan.
Media untuk membangun kolaborasi.
Dan mungkin, di situlah masa depan bridge Indonesia berada.
Penutup
Dunia telah memberikan pengakuan terhadap bridge sebagai bagian dari olahraga pikiran dan mengakui nilai sosial serta intelektual yang dapat dikembangkan melalui kegiatan tersebut.
Kini tantangannya bukan lagi meyakinkan dunia.
Tantangannya adalah bagaimana kita memanfaatkan bridge untuk membangun manusia Indonesia yang lebih siap menghadapi abad ke-21.
Karena sesungguhnya…
Bridge bukan sekadar permainan kartu.
Bridge adalah laboratorium kehidupan. ***














