Connect with us

Nasional

RI Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi El Nino dan Kemarau Panjang

Diterbitkan

pada

RI Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi El Nino dan Kemarau Panjang

Menhut Raja Juli Antoni saat ikuti sidang ke-21 forum kehutanan PBB. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA : Indonesia tengah meningkatkan kewaspadaan dan berbagai persiapan untuk menghadapi fenomena El Nino dan potensi kemarau panjang. Hal itu diungkap Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dalam rangkaian Sidang ke-21 Forum Kehutanan Persatuan Bangsa-Bangsa (United Nations Forum on Forests/UNFF21) di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, awal pekan ini.

Dalam keterangan tertulisnya pada Rabu, 13 Mei 2026, Menhut Raja Juli mengatakan,”Tahun ini kita harus jauh lebih hati-hati. Adanya potensi kemarau yang lebih panjang akibat El Nino menuntut kewaspadaan tinggi dari kita semua”.

Baca Juga : Inflasi Pangan Terjaga, Kepala Bapanas Amran Optimistis Mampu Beresin Krisis Dampak Konflik Geopolitik dan El Nino

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa berdasarkan analisis data cuaca, diprediksi akan terjadi fenomena El Nino dengan intensitas rendah hingga moderat pada Juni 2026 yang berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih panjang.

Saya meminta seluruh jajaran dan mitra terkait untuk tidak lengah dan terus meningkatkan patroli serta pemantauan di wilayah-wilayah rawan,” ujar Menhut.

Sementara itu, dalam rangkaian UNFF21 di Markas Besar PBB, Raja Antoni turut melaporkan capaian signifikan Indonesia dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Advertisement

Baca Juga : Tenang! Ada Konflik Timteng dan El Nino, Mentan Amran Tegaskan Stok Beras Aman 10 – 11 Bulan

Hal ini, kata dia, menjadi bukti nyata komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat aksi iklim melalui perlindungan ekosistem hutan secara berkelanjutan.

Menhut mengatakan bahwa dalam satu dekade terakhir, Indonesia telah berhasil mengurangi luas kebakaran hutan dan lahan sebesar 86 persen.

“Keberhasilan ini merupakan hasil dari penguatan sistem pencegahan dan peringatan dini yang terintegrasi, penegakan hukum yang tegas, serta pendekatan berbasis masyarakat di tingkat tapak,” kata dia.

Capaian positif ini terus berlanjut, di mana pada periode satu tahun terakhir (2024-2025), Indonesia mencatatkan penurunan luas karhutla yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga : Mentan Amran Tantang Pengusaha Muda HIPMI Kelola “Harta Karun” Rp20.000 Triliun

Menurut Menhut, penurunan ini didorong oleh penguatan pemantauan titik panas (hotspot) dan respons cepat pemadaman oleh tim gabungan di lapangan.

Advertisement

Lebih jauh, Menhut Raja Antoni juga menekankan bahwa penekanan angka karhutla tidak bisa dilakukan oleh pemerintah pusat semata, tapi juga kerja sama yang erat antara masyarakat, aparat penegak hukum, serta seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan pencegahan dilakukan secara efektif sejak dini.

“Kolaborasi dan kesiapsiagaan adalah kunci. Kita harus memastikan bahwa angka karhutla dapat terus ditekan demi menjaga kelestarian hutan dan memastikan kualitas udara yang sehat bagi masyarakat,” kata Menhut.***

Lanjutkan Membaca
Advertisement