Nasional
Merajut Pelangi Nusantara: Menbud Fadli Zon Ajak UNS Jadikan Budaya sebagai “Soft Power” Global

Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon, secara resmi membuka gelaran “Gelar Budaya dan Karya Anak Bangsa”, sebuah puncak perayaan reuni akbar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dalam rangka Dies Natalis ke-50 UNS. (Kemenbud)
FAKTUAL INDONESIA: Suasana Auditorium GPH Haryo Mataram, Universitas Sebelas Maret (UNS), mendadak riuh dengan harmoni tradisi dan modernitas. Di tengah deretan keris yang gagah dan naskah kuno yang bisu namun penuh makna, Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon, secara resmi membuka gelaran “Gelar Budaya dan Karya Anak Bangsa”, sebuah puncak perayaan reuni akbar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dalam rangka Dies Natalis ke-50 UNS.
Mengusung tema puitis “Merajut Pelangi Budaya Nusantara,” acara ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah panggung pembuktian bahwa budaya Indonesia bukan hanya masa lalu, melainkan mesin penggerak masa depan.
Baca Juga : Bahas Gelar Pahlawanan Nasional, Presiden Prabowo Panggil Menbud Fadli Zon, Presiden II RI Soeharto Penuhi Syarat
Indonesia sebagai Raksasa Peradaban
Dalam orasi kebudayaannya yang memikat, Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia adalah sebuah civilizational state—negara yang berdiri di atas fondasi peradaban tua yang luar biasa. Ia merujuk pada temuan lukisan prasejarah tertua di dunia di Indonesia sebagai bukti bahwa DNA kreativitas bangsa ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu.
“Tugas kita bukan memilih antara tradisi atau digital. Tugas kita adalah membuat digital menjadi beradab untuk tradisi, serta menjadikan teknologi sebagai ruang gotong royong dan perlindungan budaya,” tegas Fadli di depan ratusan akademisi dan mahasiswa.
Ia juga memperkenalkan konsep “Indonesian Wave”. Belajar dari negara-negara tetangga yang sukses mengekspor budayanya, Fadli optimis bahwa kekayaan megadiversity Indonesia—mulai dari kuliner hingga tradisi lisan—bisa menjadi soft power yang mendominasi panggung global.
Baca Juga : Sambangi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Menbud Fadli Zon: Kemenbud Terus Dorong Revitalisasi Cagar Budaya Nasional
Tiga Pilar Budaya Era Digital
Menutup orasinya, Menteri Kebudayaan menitipkan tiga prinsip utama bagi para pegiat budaya di era teknologi:
- Literasi Digital: Memahami etika dan hak cipta dalam representasi budaya di internet.
- Pelindungan Pelaku Budaya: Memastikan seniman dan budayawan mendapatkan akses ekonomi yang adil di ekosistem digital.
- Penguatan Basis Data: Membangun pangkalan data budaya yang bukan hanya menyimpan info, tapi juga makna mendalam di baliknya.
Kemeriahan acara ini terlihat dari keberagaman konten yang disajikan:
- Pameran Eksklusif: Menampilkan arsip sejarah, koleksi keris, naskah kuno, hingga artefak museum.
- Seni Pertunjukan: Atraksi Wayang Beber Tani dan gelar seni mahasiswa FIB yang memukau.
- Ekonomi Kreatif: Pameran UMKM alumni serta ajang Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA) yang menunjukkan sisi komersial budaya.
Baca Juga : Bahas Gelar Pahlawanan Nasional, Presiden Prabowo Panggil Menbud Fadli Zon, Presiden II RI Soeharto Penuhi Syarat
Rektor UNS, Hartono, menyambut hangat visi tersebut. Menurutnya, UNS berkomitmen menjadikan budaya sebagai napas pendidikan. “Budaya bukan sekadar artefak, tapi fondasi pembentukan karakter manusia yang adaptif,” ujarnya.
Senada dengan itu, Dekan FIB UNS, Dwi Susanto, menyebut acara ini sebagai “ruang temu hangat” di mana literasi, edukasi, dan jejaring lintas generasi melebur menjadi satu.
Acara yang dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti anggota DPR RI Muhammad Toha, Kepala ANRI Mego Pinandito, serta jajaran pejabat eselon satu Kementerian Kebudayaan ini diresmikan dengan pemukulan gong yang bergema kuat di seantero auditorium.
Momentum ini menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa di tengah gempuran globalisasi, menjaga akar budaya adalah satu-satunya cara untuk tetap tumbuh menjulang. ***














