Kesehatan
KIPI setelah Vaksinasi Covid-19 pada Anak 17 Tahun Keatas Ada tapi Ringan

Foto: Istimewa
FAKTUALid – Pembelajaran tatap muka (PTM) di beberapa daerah di Tanah Air sudah dimulai. Beberapa daerah sedang bersiap.
Salah satu yang disiapkan adalah syarat bagi guru dan siswa berusia 12-17 tahun telah divaksinasi.
Namun, masih banyak orangtua yang khawatir akan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang mungkin muncul usai divaksin.
Menanggapi ini, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Yogi Prawira, SpA(K), mengatakan bahwa KIPI itu ada dan mungkin saja terjadi.
“KIPI itu ada. Kalau misalnya anak disuntik, maka risikonya dia bisa bengkak di tempat suntikan, bisa demam, dan itu terjadi,” kata dr Yogi seperti dikutip dari detik.com, Kamis (9/9/2021).
Vaksinasi Covid-19 untuk anak, ujarnya, masih tergolong aman. Hal ini dibuktikan dari sebuah penelitian yang membandingkan anak yang disuntik dengan vaksin Sinovac dan plasebo.
Hasilnya, sekitar 22 persen anak yang disuntik vaksin Sinovac mengalami KIPI yang ringan, seperti bengkak atau demam. Sementara anak-anak yang disuntik dengan plasebo, sekitar 20 persen juga mengalami efek yang serupa, yaitu demam dan nyeri di tempat suntikan.
“Jadi vaksin inactivated ini KIPI-nya yang paling ringan. Belum ada laporan kalau ada KIPI yang berat atau serius pada anak-anak pasca divaksin,” ucap Yogi. “Sementara, sekitar 1 dari 5 anak yang terinfeksi Covid-19 di Indonesia saat dirawat berisiko masuk ICU. Belum lagi dia terkena kondisi Covid yang berat, sampai butuh alat bantu nafas,” tuturnya.
Ia juga mengatakan, meski anak-anak yang terinfeksi hanya mengalami sakit yang ringan, mereka masih dihantui risiko yang bisa muncul pasca Covid-19. Salah satunya adalah risiko Multisystem Inflammatory Syndrome in Children (MIS-C).
“Tapi, pasca infeksi kira-kira 2-4 minggu kemudian, dia timbul demam tinggi dan peradangan, ini yang kita bilang Multisystem Inflammatory Syndrome in Children (MIS-C). Dan ini kita sudah mulai temukan sampai ada mengalami gangguan fungsi jantung,” ujarnya.***