Lifestyle
Kenali 7 Varian Depresi, Beserta Penyebabnya

foto ilustrasi: istimewa
FAKTUALid – Anda pasti pernah merasa sedih, putus asa dan hampa. Bisa karena masalah keluarga, pekerjaan atau tekanan batin. Seiring berjalannya waktu, perasaan tersebut akan menghilang dan kondisi emosional dan pun kembali normal.
Namun, apabila perasaan tersebut terus menetap selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun apalagi jika muncul tanpa adanya alasan yang jelas, maka kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh depresi.
Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang berbahaya dan banyak terjadi. Varian depresi ada yang ringan, namun ada juga yang berat hingga mengancam nyawa. Oleh karena itu, anda harus mengenali beberapa varian depresi tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat setidaknya ada 260 juga penderita depresi di seluruh dunia. Dari sekian banyak carian depresi, diperkirakan ada 800.000 kasus kematian akibat bunuh diri yang disebabkan oleh depresi
Berikut 7 varian depresi yang sudah faktualid.com rangkum dari berbagai sumber
Daftar isi
1. Depresi Mayor (Depresi Berat)
Varian depresi yang pertama yaitu depresi mayor atau sering kali disebut dengan depresi berat. Depresi berat merupakan salah satu dari dua varian depresi yang sering terdiagnosis. Anda bisa didiagnosis depresi berat apabila gejala kesedihan, keputusasaan dan kesepian sudah berjalan selama dua minggu.
Gejala depresi berat ini biasanya cukup serius sehingga efeknya akan sangat terasa pada aktivitas dan kualitas kehidupan seseorang. Misalnya, anda jadi tidak ada nafsu makan, badan lemas hingga tidak adanya dorongan untuk bekerja atau aktivitas seperti biasanya.
Selain itu, hal-hal yang bisa menyebabkan depresi mayor atau depresi berat antara lain:
- Penyalahgunaan narkoba
- Dikucilkan orang-orang sekitar
- Mengalami masalah besar
- Penyakit fisik tertentu
- Mengalami perubahan besar dalam fase hidup
2. Depresi Situasional
Varian depresi yang kedua yaitu depresi situasional. Depresi situasional ini merupakan varian depresi yang tidak begitu menentu. Biasanya, varian depresi ini ditandai dengan munculnya gejala depresi seperti merasa murung dan adanya perubahan pola tidur dan pola makan ketika ada kejadian yang memberikan tekanan mental yang cukup tinggi.
Selain itu, hal-hal yang menyebabkan depresi situasional antara lain:
- Perubahan mood
- Perubahan perilaku
- Muncul gejala saat stres
- Sulit menjalani aktivitas sehari-hari
3. Gangguan Bipolar
Varian depresi yang ketiga yaitu gangguan bipolar. Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan emosi yang drastis. Terdapat dua jenis gejala yang muncul pada penderita ini yaitu gejala mania dan gejala depresi. masing-masing gejala ini muncul tergantung pada emosi yang sedang dirasakan.
Namun, gangguan bipolar ini juga dapat mengalami munculnya gejala secara bersamaan. Misalnya, merasa sangat bersemangat dan disaat yang bersamaan juga merasa sedih. Kondisi ini disebut dengan gejala campuran.
Gejala mania yang muncul pada penderita bipolar antara lain:
- Merasa sangat senang
- Detak jantung tidak normal, merasa gelisah atau cemas
- Mudah terganggu dan tersinggung
- Merasa sangat bersemangat
- Berbicara sangat cepat, sering dan tidak seperti keadaan normal
- keinginan untuk tidur menurun
Sedangkan gejala depresi yang muncul pada penderita bipolar antara lain:
- Merasa sangat sedih, hampa dan putus asa
- Merasa bersalah
- Muncul keinginan untuk bunuh diri
- pesimis terhadap segala hal
- Merasa kesepian dan tidak berguna
4. Gangguan Suasana Hati Musiman (Seasonal Affective Disorder)
Varian depresi yang keempat yaitu gangguan suasana hati musiman. Orang yang mengalami gangguan suasana hati musiman akan mengalami gejala depresi yang berbeda-beda tergantung musimnya.
timbulnya gangguan ini memang sangat berkaitan dengan perubahan waktu pada musim dingin atau musim hujan yang cenderung lebih pendek dan sangat sedikit sinar matahari.
Penyebab dari seasonal affective disorder ini tidak diketahui, tapi bukti sangat menunjukkan bahwa bagi anda yang sangat rentan terhadapnya bisa dipicu oleh perubahan ketersediaan sinar matahari.
Gejala depresi ini biasanya terjadi selama berbulan-bulan di musim gugur dan musim dingin ketika ada sedikit sinar matahari dan biasanya membaik dengan datangnya musim semi.
Baca juga: 7 Fakta Tentang Stres Yang Jarang Diketahui
5. Depresi Premenstrual
Varian depresi yang kelima yaitu Depresi Premenstrual. Varian depresi ini dikenal juga dengan istilah Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Kondisi ini berbeda dengan Premenstrual Syndrom (PMS). Sebab, PMDD merupakan gangguan mood yang cukup serius hingga mengganggu keseimbangan emosi dan perilaku.
Gejala yang ditimbulkan antara lain munculnya kesemasan, kesedihan, hingga gangguan mood ekstrem. PMDD kemungkinan juga disebabkan oleh adanya riwayat depresi sebelumnya pada seseorang dan bertambah parah ketika terjadi perubahan hormon atau memasuki masa PMS.
Baca juga: 9 Manfaat Pranayama, Teknik Olah Nafas Baik Untuk Fisik dan Mental
6. Depresi Kronis (Distimia)
Varian depresi yang keenam yaitu Depresi Kronis. Beda dengan depresi berat, jenis depresi kronis biasanya dialami selama dua tahun berturut-turut atau lebih. Namun, keparahan gejalanya bisa lebih berat atau lebih ringan dibandingkan dengan depresi berat.
Depresi kronis pada umumnya tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari. Tapi cenderung mempengaruhi kualitas kehidupan. Misalnya menjadi tidak percaya diri, pola pikir terganggu, susah berkonsentrasi dan mudah putus asa.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan depresi kronis (distimia) antara lain:
- Traumatis
- Kondisi Kepribadian
- Perbedaan Biologis
- Faktor keturunan
7. Depresi Postpatrum
Varian depresi yang terakhir yaitu Depresi postpatrum. Depresi ini terjadi pada wanita yang baru beberapa minggu atau bulan setelah melahirkan. Munculnya gejala berat pada masa postpatrum bisa berdampak pada kesehatan dan ikatan batin antara ibu dan bayi.
Depresi ini bisa bertahan cukup lama, biasanya hingga ibu sudah mulai haid lagi setelah melahirkan. Penyebab utama dari depresi postpatrum adalah perubahan hormon, di mana hormon esterogen dan progesteron yang terjadi cukup tinggi pada masa kehamilan menurun drastis setelah melahirkan.***