Lifestyle

6 Efek Samping Suntik KB, Pahami Mulai Sekarang

Published

on

foto ilustrasi: istimewa

FAKTUAL-INDONESIA: Suntik KB atau kontrasepsi harmonal merupakan metode yang dilakukan oleh wanita untuk menunda kehamilan. Metode ini paling banyak digunakan di Indonesia karena dinilai lebih praktis dan juga efektif. Meski begitu, banyak efek samping suntik KB yang sangat penting untuk diketahui.

Suntik KB mengandung hormon progestogen yang menyerupai hormon alami wanita, yaitu hormon progesteron. Biasanya, suntik KB akan disuntikkan pada bagian tertentu di tubuh seperti paha, pundak, bagian bawah perut, atau lengan atas.

Suntik KB dilakukan dalam kurun waktu selama 3 bulan, meskipun ada juga jenis suntik KB yang disuntikkan selama 1 bulan sekali. Jika dilakukan dengan benar dan sesuai jadwal, metode kontrasepsi suntik KB memiliki efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan, yakni lebih dari 99%.

Berikut beberapa efek samping suntik KB yang sudah faktualid.com lansir dari orami.co.id.

1. Penambahan Berat Badan

Efek samping suntik KB yang pertama adalah penambahan berat badan. Dalam sebuah studi Combination Contraceptives: effectson weight mengemukakan bahwa tidak adanya bukti yang masuk akal tentang efek samping suntik KB dengan bertambahnya berat badan.

Jika kamu mengalami penambahan berat badan secara substansial setelah memulai kontrasepsi hormonal, kemungkinan besar disebabkan oleh beberapa faktor lainnya.

Advertisement

2. Perubahan Siklus Menstruasi

Efek samping suntik KB yang kedua adalah perubahan siklus menstruasi. Pada tahun pertama menggunakan suntik KB selama 3 bulan, masalah seperti haid berkepanjangan, adanya flek (spotting) di antara periode haid, atau bahkan tidak haid sama sekali merupakan hal yang sangat umum terjadi.

Efek samping suntik KB yang satu ini memang tidak berbahaya dan tidak perlu dikhawatirkan, karena suntik KB hormonal bekerja dengan menekan penebalan dinding rahim sehingga tidak ada darah yang harus diluruhkan.

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Mood Swing Saat Menstruasi

3. Menurunnya Kepadatan Tulang

Efek samping suntik KB yang ketiga adalah menurunnya kepadatan tulang. Dalam salah stau penelitian, ditemukan bahwa efek samping suntik KB dalam penggunakan jangka waktu yang panjang dapat menimbulkan efek samping berupa penurunan kepadatan tulang.

Menurunnya kepadatan tulang menjadi salah satu alasan sebagai wanita tidak ingin menggunakan suntik kontrasepsi. Dengan menurunnya kepadatan tulang, maka akan meningkatkan risiko penyakit seperti patah tulang.

4. Gairah Seks Menurun

Efek samping suntik KB yang keempat adalah gairah seks menurun. Hormon sintesis dalam kontrasepsi harmonal dapat menurunkan hormon testosteron pada wanita. Hormon testosteron berperan penting untuk meregulasi hasrat dan gairah seseorang dalam berhubungan seks dengan pasangan.

Advertisement

Wanita secara alami juga memiliki hormon ini, namun tidak banyak yang dimiliki oleh pria. Diperkiraknantara 5-10% dari wanita yang melakukan kontrasepsi akan mengalami penurunan gairah seks.

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Gairah Seksual Menurun, Salah Satunya Rutin Olahraga

5. Masalah Pada Kulit

Efek samping suntik KB yang kelima adalah masalah pada kulit. Salah satu masalah yang paling sering terjadi yaitu timbulnya jerawat. Jerawat dipicu oleh produksi sebum yang berlebihan. Sebum merupakan minyak yang dibuat oleh kelenjar kulit.

Bersamaan dengan sel kulit mati, sebum dapat menyumbat pori-pori dan mendorong pertumbuhan bakteri berkontribusi pada jerawat.

Hormon progesteron dapat membuat sekresi pada kelenjar minyak dan lemak berlebihan pada wajah. Akibat penyumbatan pori-pori disertai inflamasi akibat bakteri inilah yang menyebabkan timbulnya jerawat di kulit.

6. Nyeri pada Payudara

Efek samping suntik KB yang keenam adalah nyeri pada payudara. Banyaknya hormon suntik KB 3 bulan yang masuk ke dalam tubuh memberikan efek samping dari suntik KB berupa adanya nyeri pada payudara.

Advertisement

Jumlah hormon progestin yang banyak masuk ke tubuh, membuat tubuh membutuhkan waktu untuk menetralisir hormon tersebut agar kembali stabil.

Stabilnya hormon ini membutuhkan waktu berbeda-beda pada tiap wanita, namum umumnya waktu yang diperlukan sebanyak 1 hingga 2 bulan.***

Exit mobile version