Lifestyle

Ditemukan Sumur “Jobong” Kuno, Diduga Peninggalan Kerajaan Majapahit

Published

on

Sumur kuno di Desa Wajak Lor, Tulungagung, Jawa Timur bikin heboh

Sumur kuno di Desa Wajak Lor, Tulungagung, Jawa Timur bikin heboh

FaktualID – Ditemukan sumur kuno dalam keadaan masih utuh. Terbuat dari dari gerabah atau disebut “jobong”. Kemudian di sekitarnya ada tanaman Mojo.

Sumur yang ditemukan warga di Desa Wajak Lor, Tulungagung, Jawa Timur itu diduga peninggalan Kerajaan Majapahit. Kerajaan besar di Bumi Nusantara yang mengalami masa kejayaan ketika dipimpin Raja Hayam Wuruk dibantu Mahapatih Gajah Mada.

Warga tidak sengaja menemukan sebuah sumur yang lokasinya ada di tengah areal persawahan desa setempat.

“Kami baru mendapat laporannya kemarin (Kamis, 27/5/2021). Kondisinya masih utuh dengan lingkungan sekitar terdapat tanaman mojo,” kata Kasi Pelestarian Cagar Budaya Museum dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung, Winarto, Jumat.

Seperti dilansir antaranews.com, hasil pemeriksaan awal, sumur kuno dengan diameter sekitar 60 centimeter itu memiliki kedalaman 180 centimeter. Sumur dengan ukuran lingkar tergolong kecil itu dibuat dengan enam jobong yang diyakini berusia ratusan tahun.

Advertisement

Dugaan sumur kuno didasarkan pada bahan yang digunakan untuk pembuatan sumur yang terbuat dari gerabah atau disebut “jobong”.

Jobong-jobong inilah yang membentuk sumur, berfungsi sebagai penyangga dinding agar tidak ambrol/runtuh.

Saat ini, jobong-jobong tersebut masih kelihatan utuh dengan ketebalan sekitar satu centimeter, tinggi sekitar 60-70 centimeter dan diameter 60 cm.

Di sekitar sumur banyak ditemukan pohon mojo yang buahnya berasa pahit dan rimbunan pohon pisang.

Menurut penjelasan Winarto, pohon mojo dapat dikenali dengan mudah dari buahnya yang berwarna hijau terang, mirip jeruk Bali namun rasanya pahit.

Advertisement

Pohon ini sering muncul dalam kisah-kisah awal munculnya Kerajaan Majapahit.

Penemuan sumur ini kata Winarto bermula saat warga membersihkan area sekitar sumur, untuk digunakan sebagai lapangan. Sumur ini tertutup semak-semak.

Rencananya, sumur ini akan dikaji dengan menggandeng BPCB (Badan Pelestarian Cagar Budaya) Trowulan, Mojokerto Jawa Timur. “Kalau bisa dipertahankan, kita akan berkoordinasi dulu dengan desa,” kata Winarto. ***

Advertisement

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version