Kesehatan

Kenali 6 Penyebab Stunting pada Anak, Jangan Disepelekan dan Pahami Dampaknya!

Published

on

Penyebab stunting pada anak

Foto Ilustrasi (Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Stunting merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi di Indonesia. Stunting atau kurang gizi sangat erat kaitannya dengan anak-anak. Meski begitu, banyak orang tua yang belum mengetahui apa saja penyebab stunting pada anak.

Stunting merupakan kondisi dimana seorang bayi atau anak yang memengaruhi faktor pertumbuhan anak-anak. Penderitanya akan memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Jadi, anak yang mengalami stunting tubuhnya akan menjadi lebih pendek.

Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO. Stunting sangat penting untuk dicegah. Hal ini disebabkan oleh dampak stunting yang sulit untuk diperbaiki dan dapat merugikan masa depan anak.

Baca juga: Stunting di Tanah Air Turun tapi Belum Sesuai Target BKKBN

Bahkan, stunting sendiri pernah menjadi masalah yang mendapat perhatian khusus dari Kementerian Kesehatan lewat kampanye bertajuk ‘Melawan Stunting’. Kendati demikian, stunting sering dianggap sepele di kalangan masyarakat.

Padahal, pertumbuhan tinggi seorang anak berfungsi sebagai penanda berbagai kelainan patologis yang terkait dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Lantas, apa saja penyebab stunting pada anak yang perlu diketahui orang tua?

Advertisement

Berikut beberapa penyebab stunting pada anak yang telah faktualid.com rangkum dari Kemenkes, Alodokter, dan sumber lainnya.

1. Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik

Penyebab stunting pada anak yang pertama yaitu faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik. Melansir laman Kemenkes, ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak anak sehingga ia tidak bisa memberikan gizi yang baik.

Hasil Riskesdas 2013 menyebutkan kondisi konsumsi makanan ibu hamil dan balita tahun 2016-2017 menunjukkan di Indonesia 1 dari 5 ibu hamil kurang gizi, 7 dari 10 ibu hamil kurang kalori dan protein, 7 dari 10 Balita kurang kalori, serta 5 dari 10 Balita kurang protein.

2. Pengetahuan ibu kurang memadai

Selama masa kehamilan, janin atau sang bayi membutuhkan nutrisi dan gizi yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Bila seorang ibu tidak memiliki pengetahuan akan asupan nutrisi yang baik untuknya dan janin, tentu kebutuhan akan sulit dipenuhi.

Pada masa setelah lahir (0-2 tahun), bayi membutuhkan ASI eksklusif selama 6 bulan dan tambahan makanan pendamping ASI (MPASI) yang berkualitas setelahnya. Oleh karena itu, ibu harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai gizi anak.

Advertisement

Baca juga: Cegah Stunting, Temanggung Stop Pernikahan Dini

3. Masalah kebersihan air (sanitasi) dan makanan

Penyebab stunting pada anak berikutnya yaitu masalah kebersihan air dan makanan. Penggunaan air sumur yang tidak bersih untuk masak atau minum disertai kurangnya ketersediaan kakus merupakan penyebab terbanyak terjadinya infeksi.

Tanpa disadari, ibu dan anak juga kerap mengonsumsi makanan yang kurang bersih sehingga dapat menyebabkan infeksi yang menghambat pertumbuhan.

Biasanya mereka mengonsumsi makanan yang disimpan di tempat terbuka atau di wadah yang tidak bersih, atau dibiarkan pada suhu yang memungkinkan bakteri untuk tumbuh. Hal itu bisa membuat anak-anak sakit dan menghambat pertumbuhan mereka.

Jika terus dilakukan akan meninggikan risiko anak berulang-ulang menderita diare dan infeksi cacing usus (cacingan).

Hal-hal sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun menggunakan air bersih (sanitasi) dan memastikan kondisi sanitasi dapat meminimalkan risiko infeksi seperti diare, yang menghentikan anak-anak dari pertumbuhan yang baik.

Advertisement

4. Infeksi berulang atau kronis

Selain masalah kebersihan air dan makanan, penyebab stunting pada anak lainnya adalah infeksi berulang atau kronis. Sebenarnya, masalah ini berasal dari anak yang tidak mendapatkan kebutuhan dengan asupan yang cukup.

Alhasil, anak akan mengalami kekurangan gizi dan akhirnya berujung dengan stunting. Terjadinya infeksi sangat erat kaitannya dengan pengetahuan ibu dalam cara menyiapkan makan untuk anak dan sanitasi di tempat tinggal.

Baca juga: Putus Mata Rantai Stunting, Menkes Minta Remaja Putri Konsumsi Tablet Tambah Darah

5. Lingkungan yang tidak higienis

Stunting kerap menjadi masalah yang mendapat perhatian khusus dari Kementerian Kesehatan. Sebab, tidak setiap anak tinggal di lingkungan yang higienis. Ketika anak tinggal di lingkungan sebaliknya, itu bisa menjadi penyebab stunting pada anak.

Anak yang berada di suatu lingkungan yang kurang terjaga tingkat kebersihannya dapat menyebabkan infeksi subklinis dan peradangan di mana gejalanya tidak terlihat. Tentunya itu disebabkan oleh mikroba melalui lingkungan yang daerah yang ia huni.

Anak-anak yang terkena dampaknya berpotensi menderita kerusakan usus parah dan tidak dapat menyerap nutrisi dari makanan secara efektif.

Advertisement

6. Terbatasnya layanan kesehatan

Penyebab stunting pada anak yang terakhir adalah masalah layanan kesehatan yang terbatas. Berdasarkan data, banyak anak yang mengalami stunting karena hal terbatasnya layanan kesehatan yang di wiliayah yang ditinggali.

Padahal, bayi atau janin di dalam kandungan atau anak perlu mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan yang memadai, terlebih ketika sedang sakit. Jika faskes tidak tersedia di sekitar tempat tinggalnya, ini bisa menyebabkan mereka minim pengetahuan mengenai gizi untuk ibu hamil dan anak di masa awal kehidupannya.

Itulah beberapa penyebab stunting pada anak. Untuk mencegahnya, perbanyak makan makanan bergizi yang berasal dari buah dan sayur lokal sejak dalam kandungan. Lalu, diperlukan juga kecukupan gizi remaja perempuan agar ketika dia mengandung ketika dewasa tidak kekurangan gizi dan pastikan menggunakan air bersih.***

Baca juga: Stunting Bisa Dideteksi pada Anak Bawah Satu Tahun, Ini Gejalanya

Advertisement
Exit mobile version