Connect with us

Kesehatan

Apa itu Coronaphobia? Yuk Kenali Ketakutan Berlebih pada Virus Covid-19

Diterbitkan

pada

coronaphobia

Foto Ilustrasi (Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Memasuki tahun 2022, di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, di sambut dengan lonjakan jumlah kasus Covid-19. Hal itu disebabkan oleh datangnya varian baru, yakni varian Omicron. Di samping itu, ternyata para peneliti menemukan banyaknya orang yang mengalami coronaphobia. Apa itu coronaphobia?

Coronaphobia adalah ketakutan berlebih terhadap pandemi Covid-19 yang belum bisa diprediksi kapan akan berakhir. Hingga saat ini, sudah banyak penelitian yang membahas tentang kekhawatiran dan kepanikan yang dirasakan orang selama pandemi.

Para ilmuwan sudah melakukan penelitian terkait fobia virus Covid-19 ini. Mereka mendefinisikan kondisi ini sebagai respons yang dipicu secara berlebihan dari ketakutan tertular virus corona penyebab COVID-19.

Baca juga: Mutasi Virus Corona Lemahkan Efektivitas Antibodi

Perlu diketahui, semua hal yang berlebih tidaklah baik, termasuk fobia pada pandemi ini. Datangnya pandemi Covid-19 diketahui menimbulkan kecemasan berlebih yang disertai gejala fisiologis, stres yang signifikan tentang kerugian pribadi dan pekerjaan, peningkatan jaminan dan perilaku mencari keselamatan, selalu menghindari tempat dan situasi umum, menyebabkan gangguan nyata dalam fungsi kehidupan sehari-hari.

Gejala Coronaphobia

Dikutip dari doktersehat, pada studi yang diterbitkan oleh Asian Journal of Psychiatry pada Desember 2020, para ahli telah menemukan sejumlah gejala utama kekhawatiran yang muncul dari teror COVID-19, diantaranya:

Advertisement
  • Berlebihan secara terus-menerus saat berpikir sehingga menimbulkan ketakutan dan kecemasan berkepanjangan.
  • Kekhawatiran secara terus-menerus yang memicu pusing, hilang nafsu makan, hingga jantung berdebar-debar.
  • Takut untuk datang ke acara public atau kerumanan. Kondisi ini sama saja seperti memiliki perilaku anti-sosial yang hanya akan membuat Anda terus mengisolasi diri dan sangat tidak baik dalam kehidupan sosialisasi.

Terkait hal tersebut, gejala coronaphobia seperti insomnia, depresi, dan kecemesan berlebih cenderung lebih sering terjadi pada wanita ketimbang pria.

Baca juga: Virus Corona Kemungkinan akan Jadi Endemik

Hal ini diungkapkan oleh direktur Penn Center for the Treatment and Study of Anxiety, Dr. Lily Brown PhD bahwa wanita lebih mudah mengalami kecemasan berlebih dibandingkan pria tentang dirinya sendiri yang bisa menyebarkan virus ke orang lain, khususnya orang di rumah.

Masih menurut Brown, sebenarnya orang berusia muda yang mengalami peningkatan kecemasan dikarenakan efek pandemi yang tidak menentu dan berpikir akan berpengaruh pada masa mereka, bukan terjadi karena takut terpapar virus Covid-19.

Cara mengatasi coronaphobia

Banyak yang bertanya apakah fobia Covid-19 ini normal atau justru berlebihan. Khawatir terhadap pandemi merupakan hal yang murah karena pandemi Covid-19 ini menyerang seluruh lini kehidupan, mulai dari kesehatan, ekonomi, pendidikan, hingga mental seluruh masyarakat dunia.

Apabila kecemasan yang terjadi karena kesulitan memenuhi komitmen atau menyelesaikan tugas yang harus dilakukan karena panik tertular virus atau khawatir orang keluarga akan sakit, ini bisa mengindikasikan bahwa Anda kemungkinan menderita fobia virus ini.

Baca juga: 7 Cara Meningkatkan Saturasi Oksigen bagi Penderita Covid-19 saat Isolasi Mandiri

Jika ini terjadi dan memengaruhi kemampuan untuk beraktivitas, penting untuk meminta dukungan profesional dalam membantu mengelola kecemasan. Untuk mengobati kecemasan, banyak ahli menyarankan untuk terapi perilaku kognitif (CBT) atau mungkin memiliki kondisi kesehatan mental mendasar lainnya yang memerlukan perawatan.

Advertisement

CBT telah terbukti dapat mengobati kecemasan secara efektif dan efisien. Di kondisi Anda yang cemas bertemu dengan orang lain, Anda bisa berkonsultasi pada spesialisasi CBT secara daring. Selain itu, latihan pernapasan dalam kerap direkomendasikan untuk mengusir ketakutan pada pandemi dan diharapkan dapat fokus pada apa yang seharusnya dikendalikan.

Di lain sisi, jangan lupa untuk meluangkan waktu untuk bersantai, menjaga kesehatan tubuh, serta perlahan cobalah untuk menjalanin hubungan langsung dengan keluarga lain atau dengan tetangga yang tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan.

Digenjotnya target vakisn Covid-19 juga bisa membantu para penderita coronaphobia untuk menghilangkan fobia tersebut. Supaya mudah mengatasi hal ini, caranya adalah mengendalikan diri dan menjaga rasa tenang. Pasalnya, kesehatan mental dan fisik perlu dijaga selama pandemi.***

Baca juga: Influenza dan Corona Bersamaan Menginfeksi, Muncul Istilah Florona

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement