Kesehatan

Setelah Dinyatakan Negatif tapi Masih Bergejala, Waspadai Long Covid

Published

on

Foto: Istimewa

FAKTUALid – Sebagian pasien yang dinyatakan negatif atau telah sembuh dari virus Corona masih mengalami gejala. Kondisi ini dikenal sebagai long Covid, yang bisa sembuh atau sulit untuk pulih.

Dokter spesialis penyakit dalam dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Eric Daniel Tenda, DIC, PhD, SpPD, FINASIM, mengatakan, long Covid dapat terjadi karena banyak organ tubuh yang terinfeksi virus Corona.

“Bagaimana tubuh kita bisa terinfeksi Covid ini? Karena di tubuh kita ada yang namanya reseptor ACE-2. Reseptor ini bukan hanya ada di paru-paru, tapi juga di organ lain, seperti otak, hati, jantung, ginjal,” ujar Eric dalam siaran langsung di Instagram Kementerian Kesehatan, Rabu (11/8/2021).

Maka, ucapnya, gejala long Covid bisa dimiliki oleh seseorang yang tidak berbatas hanya gejala di saluran pernapasan. “Tapi bisa juga orang-orang mengalami gejala lain,” tuturnya.

Seseorang yang mengalami lebih dari lima gejala ketika terinfeksi, katanya, berisiko lebih tinggi untuk mengalami long Covid setelah sembuh.

Advertisement

“Dari jurnal yang dipublikasikan terbaru, dikatakan orang yang kena Covid kemudian gejalanya lebih dari lima, maka kemungkinan orang tersebut mengalami long Covid bisa lebih tinggi empat kali lipat, dalam 28 hari maupun 56 hari. Dibanding orang-orang yang hanya memiliki gejala kurang dari lima,” ujarnya.

Long Covid bisa sembuh?

Eric mengatakan, sembuh tidaknya long Covid, sangat tergantung dari kondisi fisik pasien selama terinfeksi virus Corona. Kemudian, faktor komorbid atau penyakit penyerta juga mempengaruhi kondisi long Covid yang diderita pasien.

Misalnya, seorang pasien yang memiliki gangguan paru, kemudian terinfeksi virus Corona, maka kemungkinan peluang untuk sembuh dari long Covid menjadi lebih rendah.

“Yang kita pahami sampai saat ini, ada kondisi kelainan paru yang bisa menetap pada pasien yang mengalami infeksi Covid-19, terutama pada pasien yang alami gejala derajat berat. Ada istilahnya ARDS atau gangguan napas berat,” ujar Eric.

Advertisement

Pasien-pasien yang mengalami gangguan pernapasan berat ini, tuturnya, memiliki kondisi penyakit paru yang namanya pulmonary fibrosis. “Jadi parunya itu fibrosis, luka kemudian muncul jaringan parut,” ucapnya.

Dalam kondisi tersebut, Eric mengatakan kemungkinan pasien akan sulit untuk pulih sepenuhnya dari gejala. Namun, pasien tetap bisa meningkatkan kualitas hidupnya dengan cara tetap berpikir positif, rutin melakukan kontrol ke dokter, dan menerapkan pola hidup yang lebih sehat.***

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version