Kesehatan
Banyak ODGJ Terinveksi Covid-19

Foto: Istimewa
FAKTUALid – Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), yang kerap disebut-sebut atau dibayangkan warga, kebal virus Covid-19, dibantah oleh Dokter Lahargo Kembaren, SpKJ.
Anggapan ODGJ yang sulit terkena Covid-19, ujarnya, salah besar. “Kemarin ada yang bilang, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) sulit untuk terkena Covid-19. Sebuah pernyataan yang sangat tidak sesuai dengan bukti ilmiah, kenyataan dan fakta di lapangan,” kata dokter yang saat ini bertugas di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor dalam keterangannya, baru-baru ini.
Sejumlah ruang perawatan di rumah sakit tempat dia bekerja sudah terisi penuh oleh pasien ODGJ yang positif Covid-19.
“Saat ini RS Jiwa dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor menyediakan ruang perawatan untuk pasien Covid-19 baik ODGJ ataupun umum, dengan kapasitas ruangan,” ucapnya.
Ruang Antasena, kapasitas 40 tempat tidur, diisi oleh pasien Gangguan Jiwa dan Umum, ujarnya, terisi setengah kapasitas. “Ruang Basudewa, kapasitas 16 tempat tidur, diisi oleh pasien Gangguan Jiwa dan umum, terisi hampir penuh,” tuturnya.
Selain itu, ruang Abimanyu, dengan kapasitas 12 tempat tidur, katanya, juga sudah penuh oleh ODGJ. Termasuk ruang Pemping (ICU dan isolasi Covid), kapasitas 6 tempat tidur, terisi full oleh ODGJ dan umum.
“Instalasi Gawat Darurat (IGD), saat ini Full terisi oleh pasien Covid ODGJ dan umum,” tuturnya.
Dia mengatakan, ODGJ memiliki risiko 7 kali lipat untuk terpapar infeksi Covid-19 dan kemudian menularkannya. Risiko kematian meningkat 2 kali lipat pada OGDJ yang terpapar Covid-19.
“Penanganan yang lebih intensif dan komprehensif perlu dilakukan pada keadaan komorbid ODGJ dan Covid-19. Bukan hanya Covid-19 yang diterapi tapi juga gangguan jiwanya dan perlu dipikirkan dengan teliti interaksi obat yang diberikan,” ucapnya.
Lebih mencengangkan lagi, dia menyampaikan berdasarkan hasil Swaperiksa PDSKJI atau Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, didapatkan ada 64,8 persen masyarakat yang mengalami masalah psikologis di tengah pandemi, yaitu gangguan cemas, depresi, dan trauma psikologis.
“Satu dari 5 orang memiliki pemikiran tentang “lebih baik mati”. Risiko bunuh diri meningkat,” ujarnya.
Gangguan jiwa dapat terjadi di tengah pandemi karena stresor psikososial yang meningkat. “Kamu, saya, kalian, kita bisa terkena gangguan jiwa. Saat seseorang terkena gangguan jiwa imunitasnya menurun dan pola hidup sehatnya jadi memburuk. Inilah yg meningkatkan risiko terinfeksi Covid-19,” kata Lahargo.
Vaksinasi Covid-19 pada ODGJ, ujarnya, akan menurunkan angka kesakitan dan kematian. Saat ini vaksinasi itu sudah mulai dilakukan pada ODGJ di berbagai fasilitas layanan kesehatan.
Dia mengajak untuk menghilangkan stigma dan diskriminatif bagi OGDJ. “Jangan menjadikannya sebagai bahan lelucon dan olok-olok karena mereka sudah cukup menderita dengan apa yang mereka alami. Mari berempati, menolong dan hadir bagi mereka agar mereka bisa pulih,” ucapnya.***