Internasional
Biden Kritik Kebijakan Ekonomi Perdana Menteri Inggris

Biden Kritik Kebijakan Ekonomi Perdana Menteri Inggris (Foto: Istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA: Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengkritik kebijakan ekonomi Perdana Menteri Inggris Liz Truss sebagai kesalahan dan mengatakan tidak khawatir tentang dolar AS yang terus menguat.
Truss pada Jumat (14/10), memecat Menteri Keuangannya Kwasi Kwarteng dan membatalkan sebagian paket ekonomi mereka setelah memicu gejolak pasar keuangan, termasuk penurunan tajam nilai poundsterling.
Biden, seorang Demokrat, sering mengkritik kebijakan ekonomi konservatif “trickle down”, yang pernah diterapkan di AS oleh mantan Presiden Ronald Reagan dan Partai Republik.
Baca juga: Pemerintah Inggris Putar Balik, Poundsterling Bergerak Lebih Tinggi di Perdagangan Asia
Gedung Putihnya sebelumnya menolak untuk mengomentari rencana Truss, yang awalnya meramalkan penghapusan tarif pajak penghasilan tertinggi 45 persen Inggris.
“Saya bukan satu-satunya yang berpikir itu adalah kesalahan. Saya tidak setuju dengan kebijakan tersebut, tetapi terserah Inggris Raya untuk membuat penilaian itu, bukan saya ” kata Biden dikutip dari Reuters, Senin (17/10/2022).
Sebelumnya, Menteri Keuangan baru Inggris Jeremy Hunt mengatakan beberapa pajak negara akan naik. Dia juga mengatakan Truss telah membuat kesalahan saat berusaha mempertahankan jabatannya yang baru diemban lebih dari sebulan.
Lebih lanjut, Biden mengatakan dia tidak khawatir terkait laju dolar yang terus menguat terhadap mata uang lainnya. “Saya tidak khawatir tentang kekuatan dolar. Saya khawatir tentang seluruh dunia,” kata Biden.
Baca juga: Presiden Joe Biden Proklamirkan Pandemi Covid-19 Berakhir di Amerika Serikat
Di sisi lain, dia mengklaim ekonomi AS sangat kuat. Namun, dia mencermati inflasi yang terjadi di seluruh dunia.
Menurut dia, inflasi di negara lain semakin buruk. “Masalahnya adalah kurangnya pertumbuhan ekonomi dan kebijakan yang sehat di negara lain, bukan kami,” katanya.
Sebuah laporan Departemen Tenaga Kerja pada hari Kamis menunjukkan harga konsumen AS meningkat lebih dari yang diharapkan pada bulan September karena sewa melonjak dan biaya makanan naik.***














