Internasional
Konklaf Para Kardinal untuk Cari Pengganti Paus Fransiskus Digelar 7 Mei 2025

Vatikan telah mengumumkan, konklaf untuk mencari pengganti Paus Fransiskus digelar pada 7 Mei 2025. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Usai pemakaman Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus pada Sabtu (26/4/2025), Vatikan mengumumkan bahwa konklaf para kardinal untuk memilih pengganti mendiang Paus Fransiskus akan dilaksanakan pada 7 Mei 2025.
Dari Indonesia, Uskup Agung Suharyo mendapat kesempatan untuk mengikuti pemilihan tersebut. Dia akan berangkat ke Vatikan pada 4 Mei mendatang.
Baca Juga : Trump Mulai Ragukan Keinginan Putin untuk Perdamaian setelah Bertemu Zelensky di Pemakaman Paus Fransiskus
Juru bicara Vatikan, Matteo Bruni menyampaikan pengumuman terkait konklaf secara langsung ke seantero dunia. Disebutkan, sebelum memasuki tahapan pemungutan suara rahasia di Kapel Sistina, para kardinal yang memenuhi syarat akan menghadiri Misa khusus di Basilika Santo Petrus.
Dari 252 kardinal yang dipanggil, hanya 135 kardinal berusia di bawah 80 tahun yang berhak mengikuti konklaf Vatikan ini. Nantinya, sebanyak 120 kardinal akan dipilih untuk menentukan paus baru. Untuk terpilih, seorang kardinal harus memperoleh dua pertiga dari total suara.
Konklaf Vatikan tahun ini menandai momen bersejarah: mayoritas kardinal berasal dari luar Eropa, berbeda dengan pemilihan Paus Pius XII pada 1939 ketika 89 persen pesertanya berasal dari Eropa.
Para pengamat memperkirakan para kardinal akan mempertimbangkan apakah melanjutkan warisan reformasi Paus Fransiskus, yang mendorong Gereja Katolik lebih terbuka, inklusif, dan global, atau kembali ke pendekatan tradisional dan doktrinal.
Baca Juga : Paus Fransiskus Dibawa ke Tempat Peristirahatan Terakhir, Para Pelayat Padati Alun-Alun Santo Petrus
Sebagai pemimpin Vatikan selama 12 tahun, Paus Fransiskus dikenal atas kepemimpinannya yang rendah hati, perlindungan terhadap kelompok rentan, serta usahanya meminta maaf atas kesalahan masa lalu Gereja. Meskipun begitu, kehadiran umat di Gereja di wilayah Barat tetap menurun, meskipun terjadi peningkatan di belahan Bumi Selatan.
Konklaf Vatikan ini akan menentukan arah masa depan Gereja Katolik di tengah tantangan global yang terus berkembang.***