Internasional

Akses Selat Hormuz Dibuka Terbatas untuk Negara Tertentu, Indonesia Termasuk?

Published

on

Akses Selat Hormuz Dibuka Terbatas untuk Negara Tertentu, Indonesia Termasuk?

Selat Hormuz terdampak perang Iran vs AS dan Israel. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA : Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Jalur maritim yang sangat vital bagi distribusi energi global ini sempat mengalami pembatasan ketat, memicu dampak signifikan terhadap perdagangan internasional.

Meski demikian, Iran tidak sepenuhnya menutup akses Selat Hormuz. Negara tersebut masih memberikan izin terbatas kepada sejumlah negara untuk melintasi jalur tersebut melalui mekanisme tertentu.

Kebijakan selektif ini memunculkan pertanyaan mengenai negara mana saja yang mendapat akses, serta posisi Indonesia dalam situasi tersebut.

Baca Juga : Angin Segar dari Selat Hormuz, Menteri Bahlil Pastikan Pasokan Energi Aman, Tepis Kenaikan Harga BBM

Jalur Vital Distribusi Energi Dunia

Advertisement

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia. Peranannya sangat krusial karena menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas dunia.

Sebagian besar pasokan energi global melewati selat ini, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat memicu lonjakan harga minyak serta mengganggu aktivitas pelayaran internasional. Ketika ketegangan geopolitik meningkat, dampaknya langsung terasa di pasar global, termasuk kenaikan harga energi.

Situasi memanas ini sempat mendorong harga minyak mentah Brent naik sekitar 2,5% menjadi US$105,70 pada 16 Maret 2026. Bahkan, secara keseluruhan harga telah melonjak lebih dari 40% sejak konflik meningkat pada akhir Februari 2026.

Iran Terapkan Akses Selektif

Baca Juga : Tugboat Musaffah 2 Terbakar dan Tenggelam di Selat Hormuz, Tiga WNI Masih Hilang

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, menyatakan bahwa beberapa negara telah menjalin komunikasi dengan Teheran untuk membuka jalur aman di Selat Hormuz. Iran pun disebut bekerja sama dengan negara-negara tersebut untuk memfasilitasi pelayaran.

Advertisement

Namun, Iran tetap memberlakukan batasan tegas. Negara yang dinilai mengambil keuntungan dari konflik yang melibatkan AS dan Israel tidak akan diberikan akses.

Sebelumnya, ancaman penutupan total Selat Hormuz sempat dilontarkan oleh penasihat senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ebrahim Jabari. Ia memperingatkan bahwa kapal yang memaksakan melintas berpotensi menghadapi tindakan militer.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa negosiasi dengan sejumlah negara masih berlangsung. Beberapa kapal telah diizinkan melintas, meski kapal tanker milik AS dipastikan tidak termasuk dalam daftar tersebut.

Negara yang Mendapat Izin Melintas

Baca Juga : IHSG Terbang Pasca – Imlek, Rupiah Terpeleset Tertekan Ketegangan Selat Hormuz

Sejumlah negara dilaporkan telah memperoleh atau tengah mengupayakan izin untuk melintasi Selat Hormuz, di antaranya:

Advertisement

• Pakistan
Kapal tanker berbendera Pakistan dilaporkan berhasil melintasi selat pada 15 Maret 2026.

• India
Iran memberikan pengecualian khusus bagi beberapa kapal India. Dua kapal pengangkut gas dilaporkan berhasil melintas dengan aman.

• Turki
Salah satu kapal Turki mendapatkan izin setelah melalui proses persetujuan otoritas Iran, meski masih banyak kapal lain yang menunggu.

• China
China tengah bernegosiasi dengan Iran untuk memastikan kelancaran pasokan energi melalui jalur tersebut.

• Prancis dan Italia
Kedua negara Eropa ini masih dalam tahap komunikasi untuk memperoleh izin melintas.

Advertisement

Bagaimana dengan Indonesia?

Di tengah beredarnya informasi bahwa kapal Indonesia telah mendapat izin melintasi Selat Hormuz, pihak terkait memastikan kabar tersebut tidak benar.

Baca Juga : Israel Klaim Tewaskan Kepala Keamanan Ali Larijani, Iran Menolak dan Tuntut Amerika – Israel Bertekuk Lutut

Perwakilan PT Pertamina International Shipping (PIS), Vega Vita, menegaskan bahwa tidak ada kapal milik Pertamina yang memperoleh akses khusus.

Saat ini, terdapat empat kapal PIS yang berada di kawasan Timur Tengah, yakni Gamsunoro, Pertamina Pride, PIS Rinjani, dan PIS Paragon. Keempatnya berada di lokasi berbeda, mulai dari Irak, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, hingga Oman.

Sebagian kapal bahkan telah menjauh dari wilayah konflik, sementara lainnya masih berada di kawasan Teluk, namun tidak semuanya berada di jalur Selat Hormuz.

Advertisement

Akses Terbuka, Namun Tidak untuk Semua

Kebijakan Iran menunjukkan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup, melainkan dibuka secara terbatas dan selektif. Negara-negara yang memiliki hubungan baik dengan Iran serta tidak terlibat dalam konflik memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan akses aman.

Hingga saat ini, Indonesia belum termasuk dalam daftar negara yang memperoleh izin melintas di jalur strategis tersebut.***

Advertisement
Exit mobile version