Internasional

Teheran Membara, Gempuran Amerika dan Israel Dikabarkan Tewaskan Menteri Pertahanan dan Komandan Garda Revolusi Iran

Published

on

Teheran Membara, Gempuran Amerika dan Israel Dikabarkan Tewaskan Menteri Pertahanan dan Komandan Garda Revolusi Iran

Komandan Angkatan Darat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Jenderal Mohammad Pakpour (kiri) dan Menteri Pertahanan Iran, Amir Nasirzadeh (kanan) dikabarkan tewas dalam gelombang serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, Sabtu (28/2/2026)

FAKTUAL INDONESIA: Di tengah gencarnya saling serang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran muncul berita yang mengejutkan dari Teheran, Sabtu (28/2/2026). Berdasarkan laporan terbaru, dua pilar utama pertahanan Republik Islam Iran telah gugur dalam serangan presisi Israel.

Tiga sumber yang memahami operasional militer tersebut mengungkapkan kepada media internasional bahwa Menteri Pertahanan Iran, Amir Nasirzadeh, dan Komandan Angkatan Darat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Jenderal Mohammad Pakpour, tewas dalam serangan udara Israel.

Serangan ini menyasar titik-titik vital di Teheran yang menjadi pusat komando militer. Kematian kedua tokoh ini dianggap sebagai kehilangan terbesar bagi struktur pertahanan Iran dalam beberapa dekade terakhir.

Baca Juga : Indonesia Serukan Diplomasi Usai Serangan AS–Israel ke Iran

Sementara pejabat militer berguguran, posisi Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei masih menjadi spekulasi. Meskipun dilaporkan telah dievakuasi ke lokasi rahasia, beberapa laporan intelijen mengisyaratkan bahwa kompleks kantornya mengalami kerusakan parah akibat hantaman rudal.

Iran Membantah

Advertisement

Media pemerintah Iran membantah laporan bahwa pejabat politik senior dan kepala angkatan darat negara itu tewas dalam gelombang serangan AS-Israel di negara tersebut hari ini.

Presiden Masoud Pezeshkian selamat, kata wakil eksekutifnya, Mohammad Jafar Qaempanah dalam sebuah unggahan di X, eksternal. Putra presiden, Youssef Pezeshkian, menulis di Telegram, eksternal bahwa “kali ini upaya pembunuhan mereka tidak berhasil”.

Angkatan darat membantah kematian komandannya, Mayjen Amir Hatami, dan kantor berita garis keras Fars mengatakan Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Ali Larijani tetap tidak terluka.

Sementara itu Kantor Berita Republik Islam Iran (IRNA), yang mengutip juru bicara kementerian pendidikan negara tersebut, melaporkan jumlah korban tewas setelah serangan terhadap sekolah putri telah meningkat menjadi 53 orang.

Ali Farhadi mengatakan kepada kantor berita tersebut bahwa sekolah itu “menjadi sasaran tiga serangan rudal” hari ini. Dia juga mengatakan bahwa 63 orang lainnya juga terluka dalam serangan tersebut.

Advertisement

Baca Juga : Tinjau Kesiapsiagaan Prajurit Yonif TP 848/SPC, Menhan Sjafrie Tekankan Pentingnya Kehadiran TNI Menjaga Keamanan Masyarakat

Juru bicara tersebut menambahkan bahwa sekolah tersebut sedang dibersihkan dari puing-puing untuk mencari kemungkinan korban lainnya.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan serangan mereka di Teheran menargetkan lokasi tempat tokoh politik dan keamanan senior berkumpul.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan serangan mereka di Teheran menargetkan lokasi tempat tokoh politik dan keamanan senior berkumpul.

Dalam sebuah pernyataan, IDF mengatakan telah mempersiapkan operasi tersebut dengan rencana selama berbulan-bulan, memfokuskan upaya badan intelijen militernya untuk memanfaatkan peluang ketika elit penguasa Iran berkumpul.

Mereka juga mengatakan bahwa menyerang di pagi hari daripada di malam hari mencapai “kejutan taktis”.

Advertisement

IDF sekarang sedang menilai hasil serangan tersebut, tambah pernyataan itu.

“Lion’s Roar” dan “Operation Epic Fury”

Setelah sempat beberapa kali melontarkan ancaman untuk menyerang Iran, akhirnya Amerika Serikat dan Israel mewujudkan ancamannya itu Sabtu (28/2/2026) pagi. Israel dengan menamai operasinya “Lion’s Roar”, sementara Departemen Pertahanan AS melabelinya sebagai “Operation Epic Fury”, menggempur Iran.

Baca Juga : Diplomasi Nuklir di Ujung Tanduk: Iran Tawarkan Syarat Baru, Trump Tebar Ancaman Militer

Ledakan dahsyat dilaporkan mengguncang Teheran, Isfahan, Tabriz, hingga Qom. Yang paling mengejutkan, serangan rudal dilaporkan menghantam area dekat kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Presiden AS Donald Trump menyatakan serangan ini bertujuan melumpuhkan total kemampuan nuklir dan industri rudal Iran. “Kita akan menghancurkan rudal mereka hingga luluh lantak,” tegas Trump melalui platform Truth Social.

Advertisement

Tak butuh waktu lama bagi Teheran untuk bereaksi. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung meluncurkan serangan balasan yang meluas ke beberapa negara tetangga.

Sirine peringatan udara meraung-raung di Tel Aviv dan Haifa. Ledakan dilaporkan terdengar di langit Haifa saat sistem pertahanan udara Israel mencoba mencegat hujan rudal dari Iran.

Tidak hanya Israel jadi sasaran serangan balasan Iran. Pangkalan-pangkalan militer Amerika di Timur Tengah juga jadi target.

Iran menghujani pangkalan militer AS di Bahrain (Markas Armada Kelima), Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA) dengan rudal dan drone. Beberapa negara teluk tersebut langsung menutup wilayah udara mereka demi keamanan.

Baca Juga : Israel Ancam Serang Lebanon jika Hizbullah Ikut Campur dalam Perang Amerika – Iran

Dampak Global

Advertisement

Situasi ini diprediksi akan mengubah peta keamanan dunia dalam sekejap. Para pengamat memperingatkan beberapa hal yang akan segera terasa:

Pasar Energi: Harga minyak dunia diprediksi akan melonjak tajam akibat ketidakstabilan di jalur pasokan minyak Teluk.

Kekacauan Penerbangan: Data FlightRadar24 menunjukkan wilayah udara Iran kini kosong melompong karena maskapai internasional menghindari zona perang.

Posisi Indonesia: Pemerintah RI melalui Kementerian Luar Negeri terus memantau keselamatan 329 WNI yang terdata di Iran dan telah menawarkan diri untuk menjadi mediator konflik guna meredam eskalasi lebih lanjut. ***

Advertisement
Exit mobile version