Hukum
Viral, Guru di Tanjab Timur Jadi Korban Pengeroyokan Usai Konflik di Kelas

Video yang viral karena guru dikeroyok muridnya.(Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Dunia pendidikan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, diguncang insiden kekerasan yang melibatkan seorang guru dan sejumlah siswa. Seorang guru Bahasa Inggris SMK Negeri 3 Tanjab Timur, Agus Saputra, menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok siswa pada Selasa, 13 Januari 2026.
Akibat kejadian tersebut, Agus mengalami luka memar di beberapa bagian tubuh, termasuk wajah dan badan. Peristiwa ini sontak menyita perhatian publik setelah rekaman video kejadian beredar luas di media sosial.
Baca Juga : Prabowo Jenguk Siswa dan Guru SDN 01 Kalibaru, Beri Semangat dan Pastikan Penanganan Medis Terbaik
Kepala SMKN 3 Tanjab Timur, Ranto M, mengatakan pihak sekolah segera mengambil langkah untuk meredam situasi agar aktivitas belajar mengajar tidak terganggu. Sekolah menginisiasi mediasi dengan melibatkan siswa, orang tua, serta aparat kepolisian.
“Kami berupaya menjaga kondisi sekolah tetap kondusif. Mediasi dilakukan agar masalah ini tidak berkembang lebih jauh,” ujar Ranto.
Kepolisian Sektor Berbak turut turun tangan. Kapolsek Berbak Iptu Hans Simangunsong menyebut penyelesaian kasus saat ini difokuskan melalui pendekatan persuasif dan dialog.
Baca Juga : Puncak HGN 2025: Menag Nasaruddin Usulkan BSU Guru Non ASN ke Kemenkeu dan Umumkan Kemenag Peduli
“Kami mengedepankan mediasi dan mengimbau semua pihak untuk menahan diri,” kata Hans, Kamis (15/1/2026).
Berdasarkan keterangan Agus, konflik bermula dari teguran terhadap seorang siswa yang diduga melontarkan kata-kata tidak pantas di dalam kelas saat kegiatan belajar berlangsung. Merasa martabatnya sebagai pendidik dilecehkan, Agus mendatangi kelas tersebut dan meminta siswa yang bersangkutan bertanggung jawab.
Situasi kemudian memanas. Agus mengakui sempat menampar siswa tersebut satu kali secara refleks setelah terjadi adu argumen. Peristiwa itu memicu ketegangan lanjutan hingga berujung aksi saling dorong dan pukul, sebelum akhirnya dilerai guru lain.
Tudingan pun muncul dari pihak siswa yang menilai Agus telah menghina seorang murid dengan menyebut kata “miskin”. Tuduhan tersebut dibantah Agus. Ia menegaskan pernyataannya disampaikan dalam konteks motivasi dan bukan untuk merendahkan.
Baca Juga : Menko PM Muhaimin Janji Selesaikan dengan Cepat Fenomena SMK Kekurangan Guru Kejuruan
Upaya mediasi pertama belum membuahkan hasil. Ketegangan kembali memuncak saat jam istirahat, ketika sejumlah siswa dari berbagai angkatan melakukan aksi solidaritas yang berujung pengeroyokan terhadap Agus, termasuk pelemparan benda keras.
Terkait beredarnya video yang memperlihatkan dirinya membawa benda tajam, Agus menjelaskan bahwa alat tersebut merupakan perlengkapan praktik pertanian milik sekolah yang dibawanya untuk membubarkan kerumunan dan melindungi diri.
Meski menjadi korban kekerasan, Agus mengaku masih mempertimbangkan langkah hukum. Ia mengaku dilema karena para pelaku merupakan anak didiknya sendiri.
“Mereka masih sekolah, masa depannya panjang. Saya masih memikirkan langkah terbaik,” ujarnya.
Pihak sekolah dan kepolisian hingga kini masih mengupayakan penyelesaian damai agar konflik tidak berlarut dan berdampak pada iklim pendidikan di sekolah tersebut.***