Ekonomi
Luhut Paparkan Penyebab Jebolnya Subsidi BBM, Penjualan Akan Dibatasi?

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan membeberkan penyebab jebolnya subsidi BBM. (Foto: Sekretariat Presiden)
FAKTUAL-INDONESIA: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan membeberkan, penyebab jebolnya subsidi BBM (bahan bakar minyak) yang dialokasikan kepada masyarakat.
Menurutnya, Selama 1 dekade terakhir tercatat ada kenaikan jumlah penggunaan kendaraan bermotor menjadi penyebabnya sehingga penggunaan BBM berimplikasi kepada kenaikan subsidi. Hal itu dikatakan dalam Luhut dari Instagram pribadinya.
“Saya menemukan data yang dihitung oleh Industri Kendaraan Bermotor bahwa secara rata-rata konsumsi BBM untuk satu unit mobil mencapai 1.500 liter per tahun dan 305 liter per tahun untuk motor,” kata Luhut dalam Instagram, yang dikutip Selasa (13/9/2022).
“Bisa kita semua bayangkan ketika dua jenis kendaraan ini kebanyakan menggunakan BBM bersubsidi, maka sudah pasti yang terjadi adalah membengkaknya subsidi BBM,” sambungnya.
Baca juga: Optimalkan APBN, Penyesuaian Harga BBM Dialihkan untuk Masyarakat Miskin dan Rentan
Usai membeberkan penyebab jebolnya subsidi BBM, Luhut mengatakan Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi demi meredam kenaikan anggaran subsidi BBM. Salah satunya lewat percepatan adopsi penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
Luhut melihat tujuan besar selain untuk mengurangi ketergantungan pemakaian BBM bersubsidi, juga untuk mengurangi emisi CO2 yang ditargetkan dapat turun sebesar 40 juta ton pada 2030 mendatang.
Dari situ, ia menyebut anggaran subsidi BBM pada akhirnya bisa dialihkan ke sektor-sektor yang lebih bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat.
Luhut menuturkan bahwa upaya tersebut memiliki beragam tantangan, mulai dari masalah perbedaan harga, regulasi hingga ketersediaan pilihan kendaraan.
“Untuk itu, pemerintah saat ini sedang merumuskan berbagai kebijakan mengenai pemberian insentif bagi kendaaran EV roda dua dan roda empat,” imbuhnya.
Baca juga: BBM Naik, Wapres: Pengalihan Subsidi Supaya Tepat Sasaran
Supaya bisa berjalan efetik, skema insentif yang akan diberikan masih dihitung bersama agar kita dapat menemukan rumusan yang terbaik demi mendorong pertumbuhan pangsa pasar yang besar bagi percepatan adopsi kendaraan listrik di Tanah Air.
Selain itu, Luhut juga meminta tim teknis yang terdiri atas lintas kementerian/lembaga agar menerapkan kebijakan yang setara atau lebih baik dari negara lain, yang sudah lebih dahulu menerapkan kebijakan pembatasan penjualan kendaraan berbahan bakar fosil demi mendorong percepatan adaptasi penggunaan EV sehingga kebijakan tersebut bisa cepat diadopsi di Indonesia.
“Tak lupa saya ingatkan agar aturan yang dibuat nanti harus relevan pelaksanaannya karena program percepatan EV ini adalah komitmen bangsa untuk mengurangi subsidi dan juga tentunya menurunkan emisi karbon lewat transisi energi yang ramah lingkungan,” pungkasnya.
Fakta dilapangan, saat ini motor belum terimbas penggunaan aplikasi MyPertamina yang membatasi pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi Pertalite. Namun, dengan naiknya anggaran subsidi BBM, Pemerintah berencana akan membatasi penjualan kendaraan yang menggunakan bensin.***
Baca juga: 15 Negara dengan BBM Termurah di Dunia, Indonesia Peringkat Berapa?