Ekonomi

BI Perkuat Suku Bunga SRBI, Inflow Asing Tembus Rp54,3 Triliun

Published

on

BI Perkuat Suku Bunga SRBI, Inflow Asing Tembus Rp54,3 Triliun

BiI terus perkuat suku bunga SRBI. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA :  Bank Indonesia (BI) terus memperkuat kebijakan moneter berbasis pasar dengan meningkatkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna mendorong aliran modal masuk (capital inflow) dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa penyesuaian suku bunga SRBI dalam satu bulan terakhir telah memberikan dampak positif terhadap masuknya dana asing, baik ke instrumen SRBI maupun Surat Berharga Negara (SBN).

Baca Juga : Pekan Pertama Januari 2026, Modal Asing yang Masuk ke Indonesia Senilai Rp 1.44 Triliun

“Kebijakan ini mendorong inflow portofolio asing dan turut memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah serta ketahanan eksternal di tengah dinamika global,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta.

Senada dengan itu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa hasil dari penyesuaian suku bunga yang dilakukan secara bertahap sejak awal tahun mulai terlihat signifikan.

Menurut Destry, sejak penyesuaian dilakukan pada Januari hingga Maret 2026, SRBI telah mencatat inflow sebesar Rp32,5 triliun. Tren positif tersebut berlanjut pada April dengan tambahan inflow sekitar Rp29 triliun.

Advertisement

Baca Juga : Rupiah dan IHSG BEI Hari Ini, Sama-sama Dibuka Menguat Tapi Beda Saat Penutupan

“Secara year to date hingga April, inflow SRBI mencapai Rp54,3 triliun. Ini menunjukkan respons positif investor terhadap kebijakan yang kami ambil,” ujarnya.

Selain SRBI, aliran dana asing juga masuk ke instrumen SBN dengan nilai sekitar Rp10 hingga Rp11 triliun pada periode yang sama. Peningkatan net inflow ini dinilai turut memperkuat ketahanan sektor eksternal Indonesia.

Di sisi lain, instrumen moneter berbasis valuta asing BI, yakni Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), juga mencatat peningkatan sekitar 400 juta dolar AS pada April 2026. Kondisi likuiditas dolar AS yang masih memadai di dalam sistem turut menjadi faktor pendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Destry menegaskan bahwa BI akan terus aktif di pasar keuangan global selama 24 jam, baik di pasar domestik maupun offshore seperti Eropa dan Amerika Serikat, guna menjaga stabilitas.

Baca Juga : Menteri Purbaya Pindahkan Uang dari BI ke Enam Bank Anggota Himbara

Berdasarkan data BI, posisi SRBI per 21 April 2026 mencapai Rp885,41 triliun. Dari jumlah tersebut, kepemilikan investor nonresiden tercatat sebesar Rp165,98 triliun atau sekitar 18,75 persen dari total outstanding.

Advertisement

Selain itu, BI juga terus melakukan pembelian SBN sebagai bagian dari sinergi kebijakan moneter dan fiskal sekaligus menjaga likuiditas pasar. Hingga 21 April 2026, total pembelian SBN oleh BI mencapai Rp111,54 triliun, termasuk Rp56,53 triliun dari pasar sekunder.

Bank sentral menegaskan bahwa pembelian SBN dilakukan secara terukur, transparan, dan sesuai mekanisme pasar untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneter.

Meski demikian, nilai tukar rupiah pada 21 April 2026 tercatat berada di level Rp17.140 per dolar AS, atau melemah sekitar 0,87 persen dibandingkan posisi akhir Maret 2026.***

Advertisement
Exit mobile version