Ekonomi

Rupiah Senin 14 September 2026: Makin Melemah setelah Purbaya Diganti Mendadak, Selasa Fluktuatif

Published

on

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tetap melemah setelah Presiden Prabowo Subianto mengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara, Senin (14/9/2026). (Foto: Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Rupiah belum mampu bangkit dari limbung di akhir pekan lalu ketika tetap dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (14/9/2026) pagi.

Nilai tukar rupiah makin melemah setelah secara mendadak Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle dengan mengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara.

Kalau saat pembukaan rupiah melemah 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.614 per dolar AS maka saat penutupan makin melemah menjadi 58 poin atau 0,33% ke level Rp17.669 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp17.611 per dolar AS.

Terpaksa rupiah kembali menutup perdagangan di zona merah pada awal pekan ini.

Baca Juga : Rupiah Hari Jumat 11 September 2026: Limbung Tertekan Harga Minyak Dunia, Senin Dibayangi Kehati-hatian

Rupiah juga melemah pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia setelah bergerak menurun ke level Rp17.635 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.611 per dolar AS.

Hanya saja yang bisa menghibur hati ternyata  pergerakan seluruh mata uang di Asia juga terkoreksi. Untuk kawasan Asia Tenggara, baht Thailand merosot tajam 0,57%, dolar Singapura anjlok 0,28%, peso Filipina terpeleset  0,24% dan ringgit Malaysia terjun 0,13%.

Advertisement

Sedangkan di kawasan Asia,  yen Jepang melemah 0,53%,  dolar Taiwan melandai  0,41%,  won Korea Selatan turun 0,36, dolar Hong Kong terseret 0,01%, dan yuan China melandai 0,001% terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Kombinasi tekanan eksternal dari penguatan indeks dolar AS serta penyesuaian pasar terhadap sentimen domestik memicu pelemahan mata uang lokal sepanjang sesi transaksi spot.

Baca Juga : Rupiah Hari Kamis 10 September 2026: Terdepresiasi 36 Poin Gara-gara Sikap Menanti, Jumat Konsolidasi

Respons Perombakan Kabinet

Pemicu utama fluktuasi nilai tukar rupiah hari ini menurut Direktur Laba Forexindo Berjangka sekaligus pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, tekanan ganda dari rilis data ekonomi AS serta dinamika politik-ekonomi domestik pasca-perombakan posisi Menkeu.

Menurut Ibrahim, dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada kejutan reshuffle kabinet yang menyasar pucuk pimpinan Kementerian Keuangan. Langkah penggantian Purbaya Yudhi Sadewa dinilai sebagian analis memicu sentimen ketidakpastian fiskal jangka pendek.

Advertisement

Ibrahim menilai pergantian secara mendadak tersebut direspons sensitif oleh investor asing yang mencermati kesinambungan kebijakan anggaran pemerintah ke depan.

“Momentum reshuffle Purbaya ini seperti bom waktu. Kita lihat Purbaya ini bersih dan selalu bersih-bersih di Kementerian Keuangan, khususnya di Pajak dan Bea Cukai. Bisa saja ini memicu tekanan politik,” kata Ibrahim seperti dilansir inilah.com.

Baca Juga : Rupiah Hari Rabu 9 September 2026: Melesat 121 Poin Terbaik di Asia, Kamis Perlu Cermati CPI

Sedangkan dari ranah global, data inflasi AS bulan Agustus kembali memanaskan spekulasi kebijakan moneter bank sentral AS. Direktur Laba Forexindo Berjangka sekaligus pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa kenaikan Consumer Price Index (CPI) inti AS sebesar 0,3 persen secara bulanan membuat posisi dolar AS kian perkasa.

Scara tahunan, inflasi IHK AS berada di angka 3,4 persen. Angka tersebut kian memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) bakal mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan pekan ini.

“Pasar kini memperhitungkan adanya probabilitas sekitar 88 persen bagi kenaikan suku bunga The Fed di bulan September,” ujar Ibrahim di Jakarta, Senin.

Advertisement

Kenaikan ini turut dibayangi dinamika politik di AS setelah Presiden Donald Trump kembali menyerukan penurunan suku bunga dan mengkritik arah kebijakan bank sentral tersebut.

Baca Juga : Rupiah Hari Selasa 8 September 2026: Ditopang Amunisi Cadev Berbalik Menguat, Rabu Berpotensi Menguat Terbatas

Faktor Utama Pemicu Pelemahan

  1. Ekspektasi Data Inflasi & Keputusan The Fed: Para pelaku pasar bertindak lebih hati-hati (wait and see) menantikan rilis indikator inflasi AS terbaru serta arah kebijakan suku bunga acuan Federal Reserve pada Rapat FOMC mendatang.
  2. Penguatan Indeks Dolar AS (Greenback): Indeks dolar AS mengalami kenaikan terbatas, didorong oleh naiknya yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang menarik arus modal keluar (capital outflow) dari pasar berkembang.
  3. Momen Politik & Ekonomi Domestik: Pasar tengah merespons dinamika perombakan kabinet (reshuffle) dan pelantikan pejabat keuangan baru, di samping menantikan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia minggu ini.

Prediksi Selasa, 15 September 2026

Pergerakan mata uang rupiah pada perdagangan Selasa, 15 September 2026 diperkirakan masih akan membentang dalam kecenderungan fluktuatif dengan potensi melemah terbatas.

Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan, untuk perdagangan Selasa (15/9/2026), rupiah akan berfluktuasi, tetapi berpotensi ditutup melemah dalam rentang  Rp 17.660-Rp 17.710.

Parameter Perdagangan Rentang Proyeksi Catatan Analisis Pasar
Batas Support Rp17.660 / dolar AS Titik tahanan bawah apabila terjadi aksi profit taking pada dolar AS.
Batas Resistance Rp17.710 / dolar AS Area rentan jika tekanan modal keluar (capital outflow) berlanjut.
Karakter Pergerakan Volatile to Weakening Pergerakan membayangi pergerakan indeks dolar dan respon investor global.

Baca Juga : Rupiah Hari Senin 7 September 2026: Dari Melemah Bangkit Menguat Tipis, Besok Cendrung Stabil

Strategi & Panduan Pelaku Pasar

Advertisement
  • Eksportir & Importir: Disarankan melakukan lindung nilai (hedging) secara bertahap mengingat tingginya rentang volatilitas valas dalam jangka pendek.
  • Pelaku Industri Manufaktur: Mengantisipasi kenaikan biaya bahan baku impor (imported inflation) jika nilai tukar terus bertahan di atas kisaran Rp17.600 per dolar AS.
  • Investor Ritel: Cermati portofolio investasi pada instrumen berbasis dolar AS serta obligasi negara tenor pendek yang menawarkan imbal hasil relatif aman di tengah gejolak kurs.

Ringkasan Pergerakan Kurs Senin

  • Posisi Penutupan:669 per dolar AS (-0,33% / -58 poin)
  • Posisi Pembukaan:614 per dolar AS
  • Rentang Harian:614 – Rp17.675 per dolar AS
  • Mata Uang Regional: Mayoritas mata uang Asia ikut tertekan, dipimpin oleh won Korea Selatan, baht Thailand, dan peso Filipina. ***
Exit mobile version