Ekonomi
Ditopang Ketahanan Ekonomi Indonesia, Rupiah Menguat Jelang Tutup Tahun 2025 dan Menyongsong Tahun Baru 2026

Nilai tukar (kurs) rupiah bangkit menguat terhadap dolar Amerika Serikat menjelang tutup tahun 2025, Selasa (30/12/2025), menyongsong tahun baru 2026 (Foto : Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Rupiah menunjukkan kebangkitan yang signifikan hari ini, Selasa (30/12/2025) dari melemah karena keletihan menjadi menguat dalam perdagangan terakhir atau penutup tahun 2025.
Dengan demikian nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melangkah percaya diri menyosiong tahun baru 2026.
Apalagi, menguatnya posisi nilai tukar rupiah ditopang oleh ketahan ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah gejolak ketidakpastian dinamika global.
Pada perdagangan valuta hari ini, rupiah langsung bangkit sejak pembukaan dari posisi loyo sehari sebelumnya, ketika dibuka menguat sebesar 15 poin atau sekitar 0,09 persen dibandingkan posisi sebelumnya ke level Rp16.773 per dolar AS.
Baca Juga : Rupiah Letih Hingga Terperosok ke Level Terendah, IHSG Menguat Signifikan
Memang sepanjang perdagangan, rupiah bergerak fluktuatif dan sempat melemah sekitar 5 poin sebelum akhirnya berbalik menguat. Posisi di zona hijau ini mampu dipertahankan hingga penutupan perdagangan sore harinya ketika rupiah ditutup menguat 17 poin atau sekitar 0,10 persen ke level Rp16.771 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.787.
Seperti dilansir kontan, pergerakan rupiah ini sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia. Hingga pukul 15.00 WIB, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,34%. Disusul, ringgit Malaysia yang melesat 0,27%.
Selanjutnya ada yuan China yang terkerek 0,22% dan rupee India yang terangkat 0,16%. Lalu ada dolar Singapura yang menanjak 0,12%.
Berikutnya dolar Taiwan ditutup naik 0,07% dan yen Jepang yang menguat tipis 0,05% terhadap the greenback.
Sementara itu, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,79%.
Kemudian ada dolar Hongkong yang turun 0,07% dan peso Filipina yang sudah ditutup melemah tipis 0,04% pada sore ini.
Baca Juga : Libur Nataru 2025/2026: Kurs Rupiah Menguat, IHSG BEI Sempoyongan ke Zona Merah
Lebih Tangguh dari Perkiraan
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, seperti dilansir Ipotnews, menilai faktor dari dalam negeri, ketahanan ekonomi Indonesia menjadi faktor penopang menguatnya pergerakan rupiah. Sepanjang 2025, perekonomian nasional menghadapi tantangan berat akibat meningkatnya ketidakpastian global, tensi geopolitik, serta dampak kebijakan tarif Amerika Serikat. Meski demikian, ekonomi domestik dinilai tetap resilien.
“Sejumlah lembaga internasional bahkan memperkirakan risiko perlambatan ekonomi lebih dalam akibat potensi gangguan pada rantai perdagangan global. Namun kinerja ekonomi Indonesia terbukti lebih tangguh dari perkiraan. Pencapaian ini menunjukkan bahwa ekonomi domestik masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga, serta tumbuhnya aktivitas investasi di Indonesia yang relatif tinggi,” kata Ibrahim.
Baca Juga : Rupiah dan IHSG BEI dari Menguat Terperosok ke Zona Merah di Penutupan Perdagangan Selasa
Konsumsi rumah tangga masih terjaga dan aktivitas investasi relatif tinggi, sehingga mampu menopang pertumbuhan di atas 5% di tengah dinamika global dan perang tarif.
Ia menambahkan, bauran kebijakan fiskal dan moneter turut menjaga stabilitas makroekonomi nasional dan mendukung keberlanjutan pemulihan ekonomi, meski ketidakpastian global masih membayangi.
Dalam bagian lain untuk faktor eksternal, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan terbatas rupiah tak lepas dari melemahnya indeks dolar AS serta meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar menjelang rilis risalah rapat kebijakan The Fed.
“Perhatian pasar pada Selasa ini tertuju pada rilis risalah rapat kebijakan terbaru the Fed. Investor akan mencermati detailnya untuk mencari petunjuk tentang bagaimana para pembuat kebijakan menilai tren inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan jalur yang tepat untuk suku bunga, terutama karena pasar terus memperhitungkan potensi pelonggaran kebijakan moneter pada tahun 2026,” kata Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Baca Juga : Akhir Pekan yang Lesu, Rupiah dan IHSG BEI Sama-sama Ditutup Melemah, Kenapa?
Dari sisi eksternal, sentimen global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik. Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Moskow akan merevisi posisi negosiasi terkait Ukraina menyusul dugaan serangan pesawat nirawak terhadap kediamannya, yang menambah ketidakpastian upaya perdamaian.
Di Timur Tengah, ketegangan kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan AS akan menyerang Iran jika negara tersebut mencoba membangun kembali program nuklirnya.
Sementara di kawasan Asia, sentimen risiko turut tertekan setelah China menggelar latihan militer dengan tembakan langsung selama sekitar 10 jam di sekitar Taiwan. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap wait and see, terlebih volume perdagangan juga relatif rendah karena libur akhir tahun dan pasar AS yang akan tutup pada akhir pekan Tahun Baru.
Perdagangan valuta mulai Rabu (31/12/2025) libur hingga Minggu (4/1/2026) dan baru dibuka Senin (5/1/2026).
Untuk perdagangan Senin depan, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif. “Rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp16.770 hingga Rp16.800 per dolar AS, seiring pasar mencermati arah kebijakan The Fed dan perkembangan sentimen global,” sebut Ibrahim. ***