Ekonomi
Jaga Stabilitas Rupiah, BI Diperkirakan Pertahankan Suku Bunga 3,5 Persen

Keputusan mempertahankan suku bunga acuan akan diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI
FaktualID – Tingkat suku bunga acuan sebesar 3,5 persen saat ini yang merupakan terendah sepanjang sejarah diperkirakan tetap dipertahankan oleh Bank Indonesia (BI). Keputusan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) pada level 3,5 persen itu akan diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 24-25 Mei 2021.
Adapun pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2021 lalu, BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada level 3,5 persen, dengan mempertimbangkan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan dampak dari masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Di sisi lain, BI akan terus berupaya mendorong pengoptimalan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial secara akomodatif, serta dengan mempercepat digitalisasi sistem pembayaran.
Bank Sentral mencatat quantitative easing yang telah dilakukan sejak 2020 hingga 16 April 2021 telah mencapai Rp798,85 triliun, dengan rincian Rp726,57 triliun di 2020 dan Rp72,27 triliun di 2021. Di samping itu, sinergi ekspansi moneter BI dengan stimulus fiskal juga terus diperkuat, tecermin dari pembelian SBN oleh BI di pasar perdana dengan skema burden sharing atau keputusan bersama BI dan Kementerian Keuangan pada 16 April 2020, yang mencapai Rp101,91 triliun per 16 April 2021.
VP Economist Bank Permata Josua Pardede memperkirakan keputusan mempertahankan suku bunga pada bulan ini. Hal itu sejalan dengan pertimbangan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Sementara itu, menurutnya, dari sisi global, mulai terjadi tekanan yang tecermin dari transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang kembali mengalami defisit pada kuartal I 2021 sebesar US$ 997 juta atau setara dengan 0,4 persen dari PDB.
“Kembali defisitnya transaksi berjalan mengindikasikan risiko pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ke depan kembali meningkat, apalagi sejalan dengan kembalinya aktivitas ekonomi, impor cenderung bertumbuh,” katanya seperti dilansir Bisnis, Minggu, 23 Mei 2021.
Di sisi lain, tekanan pada inflasi diperkirakan masih terbatas dikarenakan dorongan permintaan secara jangka pendek, meskipun trennya meningkat. “Oleh karena itu, berdasarkan risiko dari nilai tukar yang cenderung volatil, BI diperkirakan masih akan menjaga tingkat suku bunganya pada RDG mendatang,” katanya.
Menurutnya, alih-alih menurunkan suku bunga, Bank Indonesia masih akan mengandalkan kebijakan quantitative easing (QE) kepada perbankan guna mendorong penyaluran kredit. Dia pun memperkirakan BI masih akan mempertahankan tingkat suku bunga yang rendah hingga 2022.
Bank sentral diprediksi cenderung melihat laju pemulihan ekonomi Indonesia pada 2021 terlebih dahulu sebelum kembali menormalisasi suku bunga acuan. Sejak 2020, BI telah memangkas suku bunga acuan sebesar 150 basis poin (bps) hingga tahun ini. Tingkat suku bunga acuan saat ini yang sebesar 3,5 persen merupakan yang terendah sepanjang sejarah.
Resiko Kembali Turun
Masih menurut laporan bisnis.com, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah memperingatkan penurunan kembali suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) berisiko memicu keluarnya arus modal asing di pasar keuangan domestik. Kendati demikian, Pieter memperkirakan suku bunga acuan BI pada Mei 2021 akan tetap bertahan pada level 3,5 persen.
Dia menilai, ruang penurunan suku bunga acuan atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) saat ini sudah semakin terbatas. “Saya perkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan. Menurut saya, BI memang sudah tidak punya ruang untuk menurunkan suku bunga,” katanya, Minggu (23/5/2021).
Piter menjelaskan, hal ini disebabkan oleh tingkat imbal hasil US Treasury yang masih tinggi, sehingga menyebabkan selisih atau spread antara suku bunga internasional dan domestik semakin sempit. Alhasil, penurunan kembali suku bunga acuan oleh BI dinilai berisiko memicu keluarnya arus modal asing di pasar keuangan domestik, sehingga nilai tukar rupiah berpotensi mengalami tekanan.
Meski suku bunga acuan BI tidak diturunkan, Piter mengatakan, BI masih tetap dapat mendukung pemulihan ekonomi nasional melalui kebijakan lainnya. “Dengan tetap mempertahankan suku bunga acuan dan terus melanjutkan kebijakan moneter yang longgar, serta membantu fiskal dengan kebijakan burden sharing,” jelasnya. ***