Ekonomi

Jumat Kelabu: IHSG Terpangkas Cukup Dalam, Rupiah Kian Terdesak, Begini Prediksi Pekan Depan

Published

on

Jumat Kelabu: IHSG Terpangkas Cukup Dalam, Rupiah Kian Terdesak, Begini Prediksi Pekan Depan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah terpaksa parkir di zona merah pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026).

FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah sama-sama ditutup di zona merah sehingga menghadirkan Jumat (6/3/2026) kelabu, pada pasar keuangan dalam negeri.

Kombinasi sentimen global yang memanas dan aksi ambil untung investor membuat layar bursa saham dan pasar valuta asing didominasi warna merah membara.

Kondisi “double hit” ini menandakan bahwa pasar sedang dalam fase sangat berhati-hati (risk-off mode). Bagi investor saham, ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk kembali menyisir portofolio dan mencari saham-saham dengan fundamental kuat yang harganya sudah terdiskon. Namun, bagi yang punya rencana transaksi dalam dolar, tetap waspada terhadap fluktuasi harga yang masih tinggi di awal pekan depan.

Baca Juga : IHSG Rebound Menguat 1,76%, Rupiah Masih Memerah Terjepit Tekanan Global

Meskipun demikian jangan panik berlebihan. Koreksi tajam seringkali diikuti oleh peluang technical rebound. Pantau terus perkembangan berita di hari Senin!

IHSG Terpangkas Cukup Dalam

Advertisement

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus rela terpangkas cukup dalam hari ini. Sempat mencoba bertahan di awal sesi, indeks akhirnya menyerah dan ditutup melemah 1,62% (124,85 poin) ke level 7.585,69.

Hari ini pelemahan merata di hampir seluruh sektor. Sektor perbankan dan barang baku menjadi yang paling terdampak. Meski begitu, beberapa saham lapis kedua (second liner) sempat mencoba memberikan perlawanan, namun volume penjualannya belum cukup kuat untuk membalikkan keadaan.

Pelemahan ini dipicu oleh kondisi bursa Wall Street semalam dan memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Saham-saham blue chip perbankan seperti BBRI dan BMRI yang biasanya menjadi tulang punggung, kali ini justru menjadi pemberat utama indeks. Diikuti terkoreksi juga sektor komoditas dan otomotif seperti ASII dan BYAN

Pasar saat ini sedang dalam mode wait and see. Eskalasi di Timur Tengah dan ketidakpastian suku bunga The Fed membuat investor lebih memilih mengamankan dana tunai (cash) sebelum libur akhir pekan.

Baca Juga : Fitch Revisi Outlook Indonesia Jadi Negatif, Risiko Fiskal dan Rupiah Jadi Sorotan

Minggu depan akan menjadi momen krusial. Para pelaku pasar akan mencermati hasil RUPS beberapa bank besar serta data inflasi terbaru. Jika tensi global mereda, ada peluang untuk technical rebound di awal pekan.

Advertisement

Liputan6.com melansir, Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menjelaskan investor saat ini cenderung menghindari aset berisiko tinggi.

“Investor cenderung risk-off dan defensif. Investor menghindari instrumen berisiko tinggi dengan melikuidasi saham big caps dan merotasi ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS,” ujar Wafi, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, sentimen global masih didominasi oleh ketidakpastian geopolitik serta kondisi pasar keuangan Amerika Serikat. Selain konflik Timur Tengah, kenaikan yield US Treasury juga memicu kekhawatiran investor karena ekspektasi bahwa suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan bertahan di level tinggi lebih lama.

Selain faktor global, tekanan terhadap pasar saham Indonesia juga datang dari sentimen domestik. Wafi menjelaskan bahwa lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan prospek (outlook) kredit Indonesia menjadi negatif.

Kondisi tersebut memicu pelemahan nilai tukar rupiah serta meningkatkan capital outflow atau arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik.

Advertisement

Pelaku pasar kini juga menunggu rilis data cadangan devisa Indonesia serta langkah kebijakan dari Bank Indonesia.

Baca Juga : Hadapi Tiga Ancaman Utama, IHSG Anjlok 4,5 Persen, Rupiah Terseret Dekati Rp17.000

Pasar memperkirakan Bank Indonesia berpotensi menaikkan BI Rate untuk membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan menahan tekanan terhadap pasar keuangan.

Phintraco Sekuritas seperti dilansir investor, menjelaskan, secara teknikal, IHSG ditutup di bawah MA5 dan MA20 yang mengindikasikan tekanan jangka pendek masih berlanjut, diperkuat oleh pelebaran negatif slope pada MACD.

“Dengan mempertimbangkan kondisi teknikal serta sejumlah katalis, kami memperkirakan IHSG akan bergerak pada kisaran 7.500-7.600 pada perdagangan Senin (9/3/2026),” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasan, Jumat (6/3/2026).

Rupiah Dekati Level Psikologis Baru

Advertisement

Kabar kurang menggembirakan juga datang dari pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke posisi Rp16.909 per Dollar AS. Mata uang Garuda tak berdaya menghadapi keperkasaan Greenback yang sedang naik daun akibat statusnya sebagai aset aman (safe haven) di tengah konflik global.

Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed (Bank Sentral AS) ditambah melonjaknya harga minyak dunia membuat beban Rupiah semakin berat. Level Rp17.000 kini membayang di depan mata jika tensi global tidak segera mendingin.

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai eskalasi konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang menekan pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Baca Juga : Antisipasi Dampak Penutupan Jalur Udara Timur Tengah, Imigrasi Ngurah Rai Berikan Izin Tinggal Keadaan Darurat dan Kebijakan Overstay Nol Rupiah Bagi WNA Terdampak

“Konflik di Timur Tengah memasuki hari ketujuh pada hari Jumat tanpa tanda-tanda mereda yang jelas, membuat pasar keuangan global tetap waspada. Pertempuran antara AS, Israel, dan Iran telah meningkat selama seminggu terakhir, dengan serangan rudal dan serangan balasan menyebar di seluruh wilayah dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini seperti dilansir ipotnews.

Menurut Ibrahim, konflik tersebut juga mendorong kenaikan harga minyak dunia karena ancaman terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan Teluk.

Advertisement

“Harga minyak melanjutkan kenaikan kuatnya semalam karena konflik mengancam infrastruktur energi utama dan jalur pelayaran di Teluk. Lonjakan harga minyak mentah telah memicu kekhawatiran tentang gelombang inflasi global yang baru,” ujar Ibrahim.

Kondisi ini, lanjutnya, berpotensi mempersulit langkah bank sentral global, termasuk Federal Reserve AS, dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Ia juga menambahkan bahwa pelaku pasar kini menantikan rilis data tenaga kerja Amerika Serikat untuk mendapatkan gambaran arah kebijakan moneter ke depan.

Sementara dari dalam negeri, pemerintah berupaya meningkatkan rasio pajak (tax ratio) setelah lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan prospek (outlook) Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan jika ketegangan di Timur Tengah mereda atau setidaknya tidak memburuk, ada potensi bagi mata uang kawasan Asia, termasuk rupiah, untuk sedikit bernapas lega. Namun, jika eskalasi berlanjut, tekanan pada dolar AS sebagai safe haven kemungkinan akan terus berlanjut.

Baca Juga : Timur Tengah Masih Membara, IHSG dan Rupiah juga Tetap Memerah

“Selain perkembangan geopolitik, pasar akan menantikan respons kebijakan lanjutan dari otoritas terkait (pemerintah dan BI) dalam menjaga kredibilitas pasar keuangan domestik guna meredam kekhawatiran investor asing,” katanya seperti dikutip dari kontan.

Advertisement

Dalam sepekan ke depan, Wahyu memproyeksi rentang pergerakan uang berlambang garuda ini berada pada Rp 16.700 – Rp 17.100 per dolar AS. Adapun, rentang support berada di Rp 16.800 per dolar AS dan rentang resistance Rp 17.000 per dolar AS. ***

Rangkuman Pasar Akhir Pekan (6 Maret 2026)

Instrumen Posisi Penutupan Status
IHSG 7.585,69 🔴 Melemah 1,62%
Rupiah Rp16.909 / USD 🔴 Melemah
Pemicu Utama Geopolitik & Inflasi AS Sentimen Negatif

Exit mobile version