Ekonomi

Data Cadangan Devisa Siap Dirilis, Kurs Rupiah Diperkirakan Makin Menguat

Published

on

Rupiah hari ini berpotensi menguat ke kisaran Rp14.230 hingga Rp14.200 per dolar AS

Rupiah hari ini berpotensi menguat ke kisaran Rp14.230 hingga Rp14.200 per dolar AS

FAKTUALid – Kondisi dalam dan luar negeri mendukung nilai tukar rupiah sehingga menguat Selasa (8/6/2021) pagi. Bahkan rupiah diperkirakan makin menguat seiring dengan akan dirilisnya  data cadangan devisa yang mungkin menunjukkan kenaikan.

Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra di Jakarta, Selasa, mengatakan, rupiah mungkin bisa menguat lagi. Dari dalam negeri, hari ini akan dirilis data cadangan devisa yang mungkin menunjukkan kenaikan cadangan karena surplusnya neraca perdagangan RI.

“Hasil yang menunjukkan kenaikan bisa mendukung penguatan rupiah terhadap dolar AS,” kata Ariston.

Ariston mengatakan rupiah hari ini berpotensi menguat ke kisaran Rp14.230 hingga Rp14.200 per dolar AS dengan potensi pelemahan di kisaran Rp14.300 per dolar AS.

Kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta,  Selasa, berpeluang melanjutkan penguatan pada awal pekan lalu, seiring turunnya imbal hasil atau yield obligasi Amerika Serikat (AS).

Advertisement

Pada pukul 9.34 WIB, rupiah menguat tujuh poin atau 0,05 persen ke posisi Rp14.258 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.265 per dolar AS.

Ariston seperti dilansir antaranewa.com mengatakan, rupiah mungkin bisa menguat lagi hari ini karena imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun masih terlihat menekan ke bawah yaitu berada di kisaran 1,57 persen saat ini.

“Penurunan yield ini karena pasar berekspektasi bahwa bank sentral AS belum akan melakukan tapering setelah data tenaga kerja AS, non-farm payrolls bulan Mei, menunjukkan hasil di bawah ekspektasi,” ujar Ariston.

Pasar menantikan data indeks harga konsumen AS Mei 2021 yang merupakan indikator inflasi, yang akan dirilis pada Kamis (10/6/2021) malam, untuk menentukan arah harga selanjutnya. Angka yang di atas ekspektasi bisa mendorong kembali penguatan dolar AS.

Menurut Ariston, data inflasi yang konsisten menunjukkan kenaikan di atas 2 persen bisa memicu bank sentral AS mengubah kebijakannya menjadi lebih ketat.

Advertisement

Ariston mengatakan rupiah hari ini berpotensi menguat ke kisaran Rp14.230 hingga Rp14.200 per dolar AS dengan potensi pelemahan di kisaran Rp14.300 per dolar AS.

Pada Senin (7/6/2021) lalu, rupiah ditutup menguat 30 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp14.265 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.295 per dolar AS.

Dolar Melemah Di Asia

Dolar AS terus melemah di perdagangan Asia pada Selasa pagi, ketika investor menunggu data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini setelah data pekerjaan yang lebih lemah dari perkiraan memadamkan ekspektasi pengurangan lebih awal stimulus Federal Reserve (Fed).

Euro dikutip pada 1,21915 dolar AS, memantul kembali dari level terendah tiga minggu di 1,2104 dolar AS yang ditetapkan pada Jumat (4/6/2021), sementara dolar melemah menjadi 109,26 yen, kehilangan tenaga setelah mencapai level tertinggi dua bulan di 110,325 akhir pekan lalu.

Advertisement

Indeks dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama saingannya berdiri di 90,021, tidak jauh dari 89,533, terendah 4,5 bulan yang disentuh akhir bulan lalu.

“Bukan karena angka penggajian lemah. Tetapi karena begitu banyak ekspektasi telah dibangun sebelumnya, dolar mengalami sedikit kemunduran,” kata Ahli Strategi Mata Uang Senior Barclays, Shinichiro Kadota.

Data pekerjaan pada Jumat (4/6/2021), yang menunjukkan angka penggajian (payrolls) nonpertanian AS meningkat 559.000 pada Mei, 90.000 pekerjaan lebih rendah dari ekspektasi.

Data membantu menempatkan imbal hasil obligasi pemerintah AS di dekat posisi terendah baru-baru ini, membebani dolar, sementara investor sekarang melihat data harga konsumen pada Kamis (10/6/2021) untuk arah baru.

Banyak investor sekarang memperkirakan The Fed akan mengungkap rencana untuk mengurangi pembelian obligasi akhir tahun ini, dan pengurangan sebenarnya akan dimulai awal tahun depan.

Advertisement

Pound Inggris hampir tidak bergerak di 1,4169 dolar AS, sementara dolar Australia tidak berubah di 0,7753 dolar AS, keduanya terjebak dalam kisaran yang terlihat selama beberapa bulan terakhir.

Dengan rentang perdagangan yang ketat baru-baru ini, volatilitas tersirat pada kedua mata uang telah turun ke level terendah sejak awal 2020, sebelum pasar dihantam oleh pandemi COVID-19.

Di tempat lain, peso Meksiko bertahan pada 19,832 terhadap dolar AS, mendekati level tertinggi sejak akhir Januari, setelah pemilihan paruh waktu mengonfirmasi partai MORENA pimpinan Presiden Andres Manuel Lopez Obrador sebagai partai terkuat di negara itu, tetapi dengan mayoritas berkurang.

Sebaliknya, mata uang sol Peru jatuh ke level terendah sepanjang masa 3,9367 per dolar karena sosialis Pedro Castillo beringsut di depan saingan sayap kanan Keiko Fujimori dalam pemilihan presiden negara itu.

Mata uang kripto juga sedikit tergerak. Bitcoin diperdagangkan datar di 33.564 dolar AS, sementara Ether berada di 2.581 dolar AS. ***

Advertisement

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version