Ekonomi

BI Umumkan Cadangan Devisa Tetap Tinggi, Pukulan Tapering Fed 2013 Takkan Terulang

Published

on

BI menilai cadangan devisa Indonesia tetap tinggi meski menurun akhir Mei 2021

BI menilai cadangan devisa Indonesia tetap tinggi meski menurun akhir Mei 2021

FAKTUALid – Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa Indonesia akhir Mei 2021 sebesar USD 136,4 miliar. Meskipun turun 2,4 miliar dolar dari 138,8 miliar dolar bulan sebelumnya namun BI menilai cadangan devisa ini tetap tinggi.

“Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2021 tetap tinggi sebesar 136,4 miliar dolar AS, meskipun menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir April 2021 sebesar 138,8 miliar dolar AS,” kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono, Jakarta, Selasa (8/6/2021).

Cadangan devisa yang mumpuni itu, menurut BI fundamental perekonomian domestik masih kuat. Ini membuat BI yakin Indonesia tidak akan mengalami pukulan besar seperti tahun 2013 – 2015 apabila bank sentral Amerika Serikat (The Federal Rerseve/The Fed) melakukan tapering off.

Erwin menjelaskan penurunan posisi cadangan devisa dipengaruhi pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Meski begitu posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 9,5 bulan impor atau 9,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

“Penurunan posisi cadangan devisa pada Mei 2021 antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri Pemerintah,” kata dia.

Advertisement

Selain itu cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga. Seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan ekonomi.

Tapering Fed

Mengamati perkembangan di luar negeri, BI melihat arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Federal Rerseve/The Fed) melihat adanya sinyal dimulainya fase tapering off. Fase tapering off paling cepat diumumkan saat pertemuan Jackson Hole Symposium, Agustus mendatang.

Fenomena tapering off pernah menjadi mimpi buruk sekitar 2013 – 2015. Kala itu, normalisasi kebijakan Fed memukul mata uang sejumlah negara, tak terkecuali Indonesia.

Advertisement

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Hariyadi Ramelan mengaku cukup optimistis dampak dari tapering off Fed tidak akan sebesar pengaruhnya seperti 2013 – 2015.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian bank sentral adalah porsi kepemilikan asing terhadap surat utang negara yang sudah turun. Hal tersebut, memang selama ini membuat perekonomian domestik cukup rentan.

“Faktor non residen yang selama ini jadi aktor di pasar yang juga mengidentifikasi pengaruh SBN offshore sangat besar. Tapi kami yakinkan pangsa pasar non residen sudah turun,” kata Hariyadi dalam Squawk Box CNBC Indonesia, Selasa (8/6/2021).

Berdasarkan catatan BI, kepemilikan asing terhadap surat utang negara saat ini sudah berada di angka 23%. Ini berbanding terbalik dengan porsi kepemilikan asing terhadap surat utang pada 2013 yang mencapai 38%.

“Artinya apa? Investor yang residen lebih dominan dari non residen. Tentu kita antisipasi memang waktu pandemi outflow jumlahnya lebih besar Rp 170 triliun dibandingkan waktu taper tantrum hanya Rp 23 triliun,” katanya.

Advertisement

Selain itu, BI merasa fundamental perekonomian domestik pun masih kuat tercermin dari defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) yang terjaga, inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa yang mumpuni.

“Dan kita tau bahwa BI saat ini sudah memiliki instrumen DNDF sebagai bagian dari triple intervention selain pasar spot dan pembelian SBN. Mudah-mudahan in assure investor domestik atau global kita tetap baik ke depan,” katanya. ***

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version