Ekonomi
MenkopUKM Teten Masduki: Keberadaan Koperasi di Ponpes Harus Diperkuat

MenkopUKM RI Teten Masduki mengunjungi Pondok Pesantren Salafiyah Terpadu Darussyifa Al-Fithroh di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat
FAKTUAL-INDONESIA: Banyaknya kegiatan ekonomi yang diterapkan oleh pondok pesantren (Ponpes) melalui koperasi yang melibatkan para santri dan warga sekitar, bisa membantu dalam mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat di tengah pandemi COVID-19.
Menteri Koperasi dan UKM (MenkopUKM) Teten Masduki merujuk Ponpes Darussyifa Al-Fithroh (Perguruan Islam Yaspida) di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, yang menjadi lokasi kunjungan kerjanya di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa.
Ponpes Darussyifa Al-Fithroh dinilai terus berinovasi dan mengembangkan koperasi sehingga sampai sekarang sudah memiliki banyak unit usaha.
MenkopUKM Teten Masduki pun mengapresiasi pengembangan usaha yang telah dilakukan ponpes tersebut yang hingga kini sudah mempunyai tujuh gerai usaha seperti industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dengan merek dagang La Vida dan AQmida, peternakan ayam potong, peternakan ayam petelur, hidroponik, aquaponik, perikanan, peternakan sapi, peternakan kambing, kerbau, hingga kuda
Tentunya, kata dia, dengan apa yang sudah dilakukan oleh ponpes dalam pengembangan kegiatan ekonomi kerakyatan dijadikan pihaknya sebagai prototipe pesantren moderen. Sesuai fungsinya, ponpes memiliki tiga fungsi dan peran sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan.
“Kita harus contoh apa yang telah dilakukan ponpes tersebut dalam menjalankan fungsi pemberdayaan ekonomi masyarakat ditandai dengan usaha yang dikembangkan pesantren,” tambahnya.
Teten Masduki yakin pondok pesantren (ponpes) mampu menjadi pemimpin ekonomi rakyat malalui koperasi yang dimiliki oleh masing-masing ponpes.
“Selain tempat untuk menuntut berbagai ilmu dan kegiatan keagamaan, ponpes juga merupakan penggerak ekonomi rakyat melalui berbagai kegiatan usaha dalam wadah koperasi, maka dari itu keberadaan koperasi di ponpes harus kita perkuat,” kata Teten Masduki.
Unit usaha koperasi yang dikembangkan ponpes ini, kata dia, merupakan laboratorium usaha dan pembelajaran yang baik bagi santri dalam mengembangkan jiwa wirausaha. Selain itu, setelah lulus nantinya apa yang telah didapatkannya selama menimba ilmu di ponpes, para santrinya tersebut bisa mengamalkannya ke tengah masyarakat.
Di sisi lain pengembangan agribisnis dan peternakan yang dilakukan ponpes yang menjadi sebuah ekosistem terintegrasi dengan menghasilkan nilai tambah, apalagi program korporatisasi sektor pangan dilakukan melalui penguatan kelembagaan ekonomi petani dan nelayan melalui koperasi.
Salah satu proyek percontohan yang sedang dikembangkan dalam korporatisasi petani dan nelayan adalah mengembangkan komoditas kacang koro di Koperasi Paramasera Sumedang. Di daerah tersebut, telah mengkonsolidasikan lahan petani dengan lahan seluas 100 hektare.
Sementara, kacang koro diproyeksikan sebagai substitusi kacang kedelai yang masih impor yang ternyata mendapatkan sambutan positif dari para perajin tahu tempe dan Gabungan Koperasi Pengusaha Tahu Tempe Indonesia.
Maka dari itu, dengan terjalinnya kerja sama antara Koperasi Darussyifa dengan Koperasi Paramasera untuk mengkonsolidasikan lahan yang ada bisa masuk ke dalam skala ekonomi. “Kami yakin pesantren memiliki potensi yang besar untuk mendukung perekonomian negara, karena memiliki berbagai jenis usaha,” kata Teten Masduki. ***
= = = = = = = = =
‘HUBUNGI KAMI’
Apakah Anda tertarik dengan informasi yang diangkat dalam tulisan ini? Atau Anda memiliki informasi atau
ide soal politik, ekonomi, hukum dan lainnya? Bagikan pengalaman dan pendapat Anda dengan mengirim email
ke aagwared@gmail.com
Harap sertakan foto dan nomor kontak Anda untuk konfirmasi. ***
= = = = = = = = =














