Connect with us

Ekonomi

Rupiah Kamis 2 Juli 2026: Melemah Makin Merana Mendekati Rp18.000, Ada Ruang Rebound?

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah dan bahkan pada perdagangan Kamis (2/7/2026) nyaris mendekati Rp18.000 per dolar. (Ist)

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah dan bahkan pada perdagangan Kamis (2/7/2026) nyaris mendekati Rp18.000 per dolar. (Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah kembali gagal membendung keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Mata Uang Garuda sudah masuk zona merah ketika dibuka melemah 26 poin atau 0,14 persen menjadi Rp17.978 per dolar AS dari sebelumnya di level Rp17.952 per dolar AS pada perdagangan Kamis (2/7/2026) pagi.

Pergerakan rupiah makin tertekan oleh mata uang Paman Sam sehingga di pasar spot resmi ditutup melemah 43 poin atau 0,24 persen ke posisi Rp17.995 per dolar AS, Kamis sore.

Sementara Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.994 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.961 per dolar AS.

Posisi ini membuat rupiah semakin tersudut dan berada di ambang level psikologis baru yang krusial, yakni Rp18.000 per dolar AS.

“Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup melemah 43 poin, sebelumnya sempat melemah 50 poin di level Rp17.995 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.952 per USD,” kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.

Advertisement

Menariknya, pelemahan hari ini membuat rupiah bernasib lebih malang dibanding mayoritas mata uang Asia lainnya. Ketika mata uang seperti Yen Jepang (+0,68%) dan Ringgit Malaysia (+0,34%) berhasil menguat terhadap dolar AS, Rupiah justru terjebak di zona merah bersama Rupee India dan Dolar Taiwan.

Sentimen Defisit Dagang dan Suku Bunga The Fed

Terpuruknya rupiah selama tiga hari berturut-turut belakangan ini dipicu oleh kombinasi sentimen buruk, baik dari dalam maupun luar negeri.

  1. Faktor Internal (Domestik)

Dari dalam negeri, pasar masih merespons negatif rilis data makroekonomi terbaru mengenai defisit neraca perdagangan Indonesia. Ini merupakan catatan defisit pertama kalinya setelah Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus beruntun selama 72 bulan terakhir. Alhasil, sentimen ini memicu aksi jual investor asing di pasar keuangan domestik.

  1. Faktor Eksternal (Global)

Dari panggung internasional, penguatan dolar AS disokong oleh melonjaknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Investor global saat ini kian meyakini bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan bersikap lebih agresif dengan mengerek suku bunga acuan Fed Funds Rate pada bulan ini atau paling lambat September 2026.

Menurut Ibrahim seperti dikutip dari metrotv, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen ‘kemajuan positif’ yang dilakukan Iran dan AS dalam pembicaraan tidak langsung yang berfokus pada Selat Hormuz. Lalu lintas kapal tanker melalui selat tersebut mulai pulih, dengan Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan aliran minyak melalui jalur air tersebut telah kembali ke tingkat sebelum perang, tanpa menyebutkan angka pasti.

Pasar saat ini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 67 persen pada pertemuan September, menurut CME FedWatch Tool. Sebagai aset yang tidak menghasilkan imbal hasil, emas cenderung berkinerja baik dalam lingkungan suku bunga yang rendah karena suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya untuk memegang logam mulia tersebut.

Advertisement

Dari sisi data, perubahan Ketenagakerjaan ADP menunjukkan penggajian swasta meningkat sebesar 98 ribu pada Juni, di bawah ekspektasi pasar sebesar 113 ribu dan turun dari peningkatan 122 ribu yang tercatat pada Mei. Indeks Manajer Pembelian Manufaktur ISM (PMI) turun menjadi 53,3 pada Juni dari 54,0 pada Mei, meleset dari perkiraan pasar sebesar 54,0.

“Perhatian pasar saat ini beralih ke rilis data Nonfarm Payrolls AS nanti malam, dengan ekspektasi ekonomi AS akan meningkatkan angkatan kerjanya sebesar 110 ribu. Sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3 persen,” terang Ibrahim.

Di sisi lain, Ibrahim mengatakan kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia dinilai menghadapi ujian cukup berat setelah munculnya sejumlah sentimen negatif memasuki kuartal II, mulai dari kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan indonesia pada Mei defisit, inflasi melonjak, hingga penundaan pengumuman tentang pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.

Selain itu, data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada  Juni 2026. Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025.

S&P mengungkapkan PMI Indonesia ini menunjukkan penurunan lebih lanjut pada kesehatan sektor produksi barang. Headline menunjukkan penurunan solid pada kondisi operasional pabrik, merupakan salah satu yang paling besar dalam setahun.

Advertisement

Penyebab utama penurunan pada Juni adalah penurunan permintaan atas barang manufaktur Indonesia. Pesanan baru turun untuk pertama kali dalam tiga bulan dan pada laju tercepat dalam setahun.

Kemudian, lembaga pemeringkat internasional Fitch Rating memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan. Angka itu sedikit lebih rendah dibandingkan median negara dengan peringkat BBB yang mencapai 5 bulan.

Menurut Fitch, penyusutan cadangan devisa terutama dipicu oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi BI di pasar valuta asing untuk menopang rupiah, serta pembayaran utang luar negeri.

Akankah Tembus Rp18.000?

Memasuki akhir pekan pada Jumat (3/7/2026), pergerakan nilai tukar rupiah diprediksi masih akan berada di bawah tekanan berat ekspektasi pasar global. Sentimen utama yang akan langsung menggerakkan pembukaan pasar besok pagi adalah hasil rilis data ketenagakerjaan NFP Amerika Serikat yang keluar malam ini.

Advertisement

Jika data tenaga kerja AS tercatat lebih kuat dari ekspektasi, dolar AS berpotensi semakin meroket dan memaksa rupiah melewati batas psikologis Rp18.000. Sebaliknya, jika data tersebut melandai, ada ruang bagi rupiah untuk melakukan teknikal rebound tipis.

Secara teknikal, berikut proyeksi rentang pergerakan rupiah esok hari:

  • Level Support (Potensi Penguatan):900 per dolar AS
  • Level Resistance (Potensi Pelemahan):050 per dolar AS.

Melihat berbagai perkembangan terakhir, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Jumat besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.990 per USD hingga Rp18.050 per USD,” jelas Ibrahim. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement