Ekonomi
IHSG BEI Kamis 2 Juli 2026: Tetap Perkasa Saat Transaksi Tembus Rp10,2 Triliun, Profit Taking Mengintai

Dengan kembali menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (2/7/2026) maka perlu diwaspadai aksi ambil untung (profit taking) untuk esok hari. (AI)
FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menunjukkan taringnya pada perdagangan hari ini, Kamis (2/7/2026).
IHSG BEI melanjutkan tren positif sehari sebelumnya dengan tetap perkasa dibuka dan ditutup di zona hijau pada perdagangan saham hari ini.
Memang sempat dibayangi kekhawatiran koreksi, IHSG ditutup permenguat 49,44 poin atau 0,87 persen ke posisi 5.744,56. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 8,74 poin atau 1,57 persen ke posisi 565,49.
Keperkasaan IHSG dudah tampak ketika pada pembukaan perdagangan dibuka menguat 14,72 poin atau 0,26 persen ke posisi 5.709,84. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 2,57 poin atau 0,46 persen ke posisi 559,32.
Aksi beli investor di tengah volatilitas pasar regional menjadi bahan bakar utama yang mendorong indeks kokoh di zona hijau sepanjang hari.
Sementara di tingkat regional, bursa Asia bergerak variatif. Indeks Hang Seng (Hong Kong) naik 0,76% dan Strait Times (Singapura) menguat 1,03%. Namun, indeks Nikkei (Jepang) dan Shanghai (Tiongkok) masing-masing terkoreksi 2,33% dan 2,03%.
Mampu Menahan Tekanan
Meskipun beberapa analis sempat memproyeksikan IHSG rawan terkoreksi ke rentang 5.472 hingga 5.540 akibat sentimen global dan risiko fiskal, arus beli (buying volume) yang masuk sejak pembukaan perdagangan terbukti mampu menahan tekanan tersebut.
IHSG bergerak stabil di zona hijau sejak pagi hari, membuktikan bahwa minat beli pemodal domestik dan asing di pasar saham Indonesia masih cukup resilien.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa penguatan bursa kawasan Asia dipengaruhi oleh proses negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Doha, Qatar. Kemajuan pembicaraan ini berdampak pada pulihnya pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz, yang kemudian menekan harga minyak dunia kembali ke level sebelum konflik.
Penurunan harga minyak ini secara tidak langsung meredakan kekhawatiran inflasi global. Di sisi lain, pasar mencermati sinyal dari bank sentral AS, The Fed. Meskipun Ketua The Fed Kevin Warsh menyebut ekspektasi inflasi mereda, pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada September 2026 sebesar 60 persen untuk menjaga stabilitas harga.
Dari dalam negeri, penurunan harga komoditas energi diharapkan mampu mengurangi tekanan fiskal pada subsidi BBM. “Reduksi tekanan inflasi ini memberikan fleksibilitas bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan atau menurunkan suku bunga acuan,” ujar Nico seperti dilansir mediaindonesia.
Proyeksi dan Prediksi Jumat
Menatap perdagangan akhir pekan pada Jumat (3/7/2026), pergerakan IHSG diperkirakan akan berlangsung lebih menantang. Investor disarankan untuk tetap cermat mengamati potensi aksi ambil untung (profit taking) setelah indeks berhasil menguat dua hari berturut-turut.
Secara teknikal, pergerakan IHSG besok diproyeksikan akan menguji:
- Level Support:486 – 5.530
- Level Resistance:800 – 6.000
Jika IHSG mampu mempertahankan posisinya di atas level psikologis 5.700 pada sesi awal besok, peluang untuk melanjutkan reli menuju resisten terdekat di 5.800 terbuka lebar. Namun, apabila terjadi tekanan jual massal di saham-saham perbankan besar, indeks rawan kembali menguji area support-nya.
Rekomendasi Saham untuk Esok Hari
Untuk menyiasati pergerakan pasar besok, beberapa saham dari sektor komoditas, infrastruktur, dan barang baku yang menunjukkan akumulasi volume menarik untuk dicermati, antara lain:
- BRPT (PT Barito Pacific Tbk) – Menunjukkan momentum bullish yang kuat.
- ANTM (PT Aneka Tambang Tbk) – Ditopang oleh sentimen positif sektor barang baku.
- ADMR (PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk) – Menarik untuk dicermati sebagai opsi defensif.
Phintraco Sekuritas seperti dilansir investor.id, menyatakan dari sisi teknikal, penguatan IHSG tertahan MA5 dikisaran level 5.760. Sementara indikator MACD menunjukkan penguatan histogram positif diiringi potensi Death Cross pada Stochastic RSI di oversold area.
“Sehingga IHSG berpeluang konsolidasi direntang level 5.700-5.800 pada perdagangan Jumat (3/7/2026),” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasan, Kamis (2/7/2026).
iSementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG masih rawan koreksi menguji level 5.472-5.540. MNC Sekuritas memberikan rekomendasi saham ADMR, BRMS, RATU, dan INDF untuk trading, Jumat.
Nilai Transaksi Tembus Rp10,2 Triliun
Berdasarkan data BEI, performa impresif IHSG hari ini disokong oleh mayoritas indeks sektoral. Sektor perindustrian menjadi motor penggerak utama dengan lonjakan mencapai 2,97 persen, disusul oleh sektor transportasi yang naik 2,22 persen, serta sektor barang baku sebesar 2,16 persen. Sementara itu, tiga sektor mengalami pelemahan, dengan sektor kesehatan turun paling dalam sebesar 0,29%.
Total nilai transaksi perdagangan saham pada pasar reguler tercatat cukup likuid, yakni menyentuh Rp10,20 triliun.
Beberapa saham berkapitalisasi besar (blue chip) tetap menjadi buruan utama, dipimpin oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan nilai transaksi Rp989 miliar, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp841 miliar.
Sementara itu, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga mencatatkan lonjakan signifikan yang mempertebal gairah pasar di paruh pertama hingga akhir sesi.
Saham-saham yang mencatatkan penguatan tertinggi (top gainers) antara lain COCO, BEEF, MMIX, TRUS, dan RMKO. Sebaliknya, jajaran saham yang mengalami pelemahan terdalam (top losers) meliputi OMED, LUCY, DAYA, PDES, dan SPRE.***
Disclaimer: Berita ini bersifat informasi dan analisis pasar, bukan ajakan atau perintah untuk membeli/menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca dengan mempertimbangkan risiko yang ada.***














