Connect with us

Ekonomi

Buka IFBC 2026 Bandung: Wamendag Roro Ajak Pelaku Usaha Waralaba Berani Go Global

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri pacu wirausaha muda dan ekosistem waralaba di Bandung saat membuka Pameran Info Franchise and Business Concept (IFBC) 2026 di Bandung, Jawa Barat, Jumat (29/5/2026). (Kemendag)

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri pacu wirausaha muda dan ekosistem waralaba di Bandung saat membuka Pameran Info Franchise and Business Concept (IFBC) 2026 di Bandung, Jawa Barat, Jumat (29/5/2026). (Kemendag)

FAKTUAL INDONESIA: Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mengajak pelaku usaha waralaba untuk tidak hanya menguasai pasar domestik, tetapi juga berani go global. Hal ini sejalan dengan tiga program prioritas yang ditetapkan Kementerian Perdagangan yaitu Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, dan Dari Lokal Untuk Global.

Wamendag Roro mengemukakan ajakan itu membuka secara resmi Pameran Info Franchise and Business Concept (IFBC) 2026 di Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (29/5). IFBC 2026 Bandung digelar Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) pada 29–31 Mei 2026 dan mengusung tema “Grow Beyond Boundaries”.

Wamendah menyambut baik penyelenggaraan IFBC 2026 di Bandung ini yang sejalan dengan prioritas tersebut, khususnya dalam upaya pengamanan pasar domestik dan menumbuhkan semangat kewirausahaan. Pameran ini diharapkan dapat membuka peluang bisnis baru, menciptakan lapangan kerja, serta melahirkan pelaku waralaba lokal yang berdaya saing, terutama di Kota Bandung dan Jawa Barat.

“Kami menyambut baik gelaran IFBC 2026 Bandung ini dan turut mengajak pelaku usaha waralaba untuk tidak hanya menguasai pasar domestik, tetapi juga berani go global dengan memanfaatkan fasilitasi dari 25 Atase Perdagangan, Konsulat Dagang, serta 19 Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) yang dimiliki pemerintah. Fasilitasi business matching dapat membantu meningkatkan jejaring dan memperluas usaha,” kata Roro.

Melalui program UMKM BISA Ekspor, Kementerian Perdagangan terus memfasilitasi perluasan akses ke pasar global. Sepanjang 2025, Kementerian Perdagangan telah menyelenggarakan 622 sesi business matching yang menghasilkan nilai transaksi ekspor sebesar USD 134,87 juta. Pada triwulan I-2026, Kemendag telah menyelenggarakan 170 penjajakan bisnis (business matching) dan telah menghasilkan nilai transaksi ekspor USD 3,97 juta.

Advertisement

Dalam bagian lain sambutannya, Roro menyoroti pentingnya keterlibatan wirausaha muda sekaligus penguatan ekosistem waralaba (franchise) lokal sebagai pilar utama akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional menyongsong Indonesia Emas 2045. Kondisi saat ini, rasio kewirausahaan Indonesia baru mencapai 3,29 persen dari total angkatan kerja. Sementara untuk menjadi negara maju, rasio tersebut harus mencapai minimal 10–12 persen.

“Perluasan kesempatan berusaha menjadi agenda penting sebab waralaba merupakan model bisnis yang efektif dalam mempercepat lahirnya wirausaha baru. Waralaba bersifat terstandarisasi dan mudah direplikasi. Terkait hal itu, kita perlu meningkatkan dukungan untuk kewirausahaan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi,” jelas Roro.

Perekonomian Indonesia pada triwulan I-2026 menunjukkan kinerja yang tetap solid dengan pertumbuhan sebesar 5,61 persen (y-on-y) dengan konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang utama sebesar 54,36 persen. Sementara itu, Provinsi Jawa Barat mencatat pertumbuhan sebesar 5,79 persen (y-on-y). Hal Ini mencerminkan dinamika positif dari aktivitas ekonomi masyarakat yang ditopang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Berdasarkan data Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) yang diolah Kementerian Perdagangan, sampai dengan April 2026, telah diterbitkan sebanyak 165 STPW Pemberi Waralaba Dalam Negeri dan 162 Pemberi Waralaba Luar Negeri. 

Adapun Kota Bandung sebagai pusat kegiatan ekonomi di Jawa Barat memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan kewirausahaan, khususnya di sektor perdagangan, industri, dan pariwisata. Kondisi tersebut diharapkan dapat menciptakan berbagai jenis wirausaha dari berbagai sektor sehingga dapat menjadi penopang perkembangan ekonomi nasional.

Advertisement

Roro juga mengimbau pelaku usaha peserta pameran untuk memastikan telah memiliki STPW sebelum menggunakan istilah dan logo “Waralaba” pada brosur, website, media sosial, maupun perjanjian kerja sama. Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih cermat dan bijak dalam memilih penawaran bisnis dengan menggunakan prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis.

“Saat memutuskan waralaba, pertimbangkan dulu 2L; legal dan logis. Kami berharap, masyarakat tidak mudah tergiur oleh janji keuntungan tetap yang tidak masuk akal atau klaim bebas risiko. Pada hakikatnya, setiap usaha memiliki dinamika dan risikonya masing-masing,” tandas Wamendag Roro.

Turut hadir Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan, Kepala Biro Perencanaan Kementerian Perdagangan Rihadi Nugraha, dan Ketua Asosiasi Franchise Indonesia Anang Sukandar.

Anang menyampaikan gagasannya untuk mendongkrak popularitas makanan Indonesia. “Makanan khas Indonesia sangat beragam di tiap daerah. Pemerintah diharapkan mendorong dan memfasilisitasi UMKM makanan Indonesia agar tetap relevan dan mendunia,” jelas Anang.

Ditemui di area pameran, manajer maklon Blessindo Ronny Fitriawan mengutarakan harapannya mengikuti pameran IFBC. “Blessindo memproduksi dan menyalurkan produk label privat untuk produk perawatan kulit dan perawatan rumah. Kami mengikuti pameran waralaba ini dengan harapan meningkatkan skala usaha dengan menjaring lebih banyak mitra,” jelas Ronny. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement