Connect with us

Ekonomi

Selat Hormuz Diblokade: IHSG Terbang Tinggi namun Rupiah Justru Makin Terkapar Selasa 14 April 2026

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Selat Hormuz Diblokade: IHSG Terbang Tinggi namun Rupiah Justru Makin Terkapar Selasa 14 April 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menghadirkan keceriaan pada pasar keuangan domestik, Selasa (14/4/2026), sementara nilai tukar (kurs) rupiah masih terus mengkhawatirkan. (Foto : Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA:  Panas dinginnya situasi geopolitik karena dipicu tidak menentunya nasib perdamaian Amerika Serikat dengan Iran serta sudah diblokadenya Selat Hormuz membawa dampak berbeda pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah, Selasa (14/4/2026).

Tak pelak lagi pasar keuangan domestik juga diliputi suasana kontras yang sangat tajam dimana IHSG BEI terbang tinggi di perdagangan saham, namun sebaliknya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) makin terkapar di pasar valuta asing.

Baca Juga : Pasar Keuangan Senin 14 April 2026: IHSG BEI “Rebound” ke Level 7.500, Rupiah Masih Terkapar di Rp 17.105

Laju IHSG tampil perkasa pada penutupan perdagangan Selasa (14/4/2026). Di saat bursa saham berpesta pora menyambut sinyal perdamaian global, nilai tukar rupiah justru menunjukkan performa sebaliknya dengan semakin melemah terhadap dolar AS.

IHSG Menguat Signifikan

Berdasarkan data BEI, IHSG ditutup menguat signifikan sebesar 2,34% atau naik 175,76 poin ke level 7.675,95. Sejak pembukaan pagi tadi, indeks konsisten bergerak di zona hijau tanpa perlawanan berarti.

Advertisement

Baca Juga : Pasar Keuangan Jumat 10 April 2026 Kontradiktif: IHSG BEI Lampaui Ekspektasi, Rupiah Dekati Titik Terlemah

Ketika pembukaan perdagangan pagi hari, IHSG sudah tampil meyakinkan dibuka menguat 98,61 poin atau 1,31 persen ke posisi 7.598,80. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 10,09 poin atau 1,35 persen ke posisi 756,45.

Terus betah di zona hijau, IHSG kemudian ditutup lebih menguat ke level 7.675,95. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 17,96 poin atau 2,41 persen ke posisi 764,32

Secara sektoral, seperti dikutip dari mediaindonesia, sepuluh sektor terpantau menguat dipimpin oleh sektor infrastruktur yang melesat 5,45 persen, disusul sektor industri (4,45 persen), dan energi (3,73%). Sebaliknya, sektor barang konsumen non-primer menjadi satu-satunya yang terkoreksi sebesar 1,18 persen.

Data perdagangan mencatat frekuensi transaksi mencapai 3,1 juta kali dengan volume 53,29 miliar lembar saham senilai Rp24,80 triliun. Sebanyak 548 saham terpantau naik, sementara 151 saham melemah, dan 119 saham stagnan.

Top Gainers:    RICY, PURI, PPRE, DEFI, BAPA

Advertisement

Top Losers:     MSIN, TRUK, DFAM, MMIX, LUCY

Baca Juga : Pasar Keuangan Kamis 9 April 2026 Kelabu: IHSG Bangkit Meyakinkan, Rupiah Melemah dan Terkapar

Penguatan ini dipicu oleh optimisme pasar global setelah adanya sinyal diplomatik baru antara AS dan Iran meskipun Selat Hormuz sudah diblokade AS.  Kabar bahwa Iran kembali membuka komunikasi untuk negosiasi tatap muka — yang kemungkinan dimediasi oleh Pakistan – menjadi angin segar bagi investor yang sebelumnya khawatir akan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengungkapkan bahwa penguatan ini dipicu oleh membaiknya sentimen global. Sinyal diplomatik baru muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Iran mulai berupaya mencapai kesepakatan pasca-blokade Selat Hormuz.

“Pasar merespons positif manuver terbaru Iran yang kembali menghubungi AS. Ekspektasi tercapainya kesepakatan damai membuat risk appetite investor kembali meningkat,” ujar Maximilianus Nico Demus.

Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia turut memberikan sokongan kuat. Bank Indonesia (BI) melaporkan data retail sales Februari 2026 tumbuh 6,5% (yoy), melampaui capaian Januari yang sebesar 5,7% (yoy).

Advertisement

“Data ini mencerminkan aktivitas produksi dan konsumsi masyarakat yang tetap solid, menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah badai ketidakpastian global,” ujar Nico.

Baca Juga : Badai Belum Berlalu, Rupiah Terlempar Masuk Terlemah Sepanjang Masa, IHSG BEI Terpeleset ke Bawah 7.000

Sementara itu Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memproyeksikan IHSG masih punya berpeluang menguat dengan kecenderungan terbatas dengan support 7.637 dan resistance 7.692.

“Investor masih mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran meskipun kondisi selat Hormuz masih ditutup saat ini dan menyebabkan kekhawatiran akan menguatnya harga minyak mentah,” kata Herditya kepada Kontan, Selasa (14/4/2026).

Untuk perdagangan Rabu (15/4/2026), Herditya menyebut investor dapat mencermati saham PT PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) di kisaran Rp 2.760–Rp 2.900, PT PAM Mineral Tbk  (NICL) di area Rp 1.010–Rp 1.060 dan PT Timah Tbk (TINS) di kisaran Rp 4.110–Rp 4.260.

Pelemahan Unik Rupiah

Advertisement

Berbanding terbalik dengan pasar saham, nilai tukar rupiah justru loyo. Pada penutupan pasar spot hari ini, mata uang Garuda ditutup melemah 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp17.127 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.105 per dolar AS.

Baca Juga : Pasar Keuangan Tertekan Hebat, Rupiah Terlempar ke Atas Rp17.000 dan IHSG BEI Terperosok

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.135 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.122 per dolar AS.

Ketika pembukaan perdagangan, rupiah melemah 25 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.130 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.105 per dolar AS. Rupiah bahkan sempat tertekan hingga Rp 17.141 perdolar AS.

Pelemahan ini terbilang unik karena terjadi di saat Dolar AS secara global sebenarnya cenderung melemah. Analis menilai, tekanan terhadap rupiah lebih disebabkan oleh faktor internal, yakni kekhawatiran pasar terhadap pelebaran defisit APBN 2026 serta kondisi geopolitik yang meski mereda, namun masih dianggap rapuh.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan akan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.120-Rp17.170,” kata Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, seperti dilansir priskop, Selasa. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement