Wisata
SO MASO BER-BER: Ketika September Membuka Musim Perayaan, Solidaritas, dan Ekonomi Sulawesi Utara
So Maso Ber-Ber!:mengapa tidak menjadikan empat bulan ini sebagai salah satu event pariwisata terbesar Sulawesi Utara? (Foto: Istimewa)
Oleh: Dr. Roy G.A. Massie, MD, MPH, PhD
FAKTUAL INDONESIA: Dikemas dan dikembangkan dari gagasan tentang fenomena sosial-budaya “Bulan Ber-Ber” di Manado dan Sulawesi Utara
Ada ungkapan khas yang setiap tahun kembali terdengar ketika kalender memasuki September:
“So maso ber-ber!”
Sudah masuk bulan-bulan “ber”: September, Oktober, November, dan Desember.
Bagi orang luar, mungkin ini hanya permainan kata yang sederhana. Tetapi bagi masyarakat Manado dan Sulawesi Utara, ungkapan tersebut sesungguhnya merupakan penanda dimulainya sebuah musim sosial.
Musim ketika suasana mulai berubah.
Rumah mulai dibersihkan dan dipercantik. Lagu-lagu Natal mulai terdengar. Undangan ibadah Pra-Natal mulai berdatangan. Keluarga mulai merencanakan pertemuan. Orang mulai memikirkan pakaian baru, makanan, hadiah, perjalanan pulang kampung, hingga berbagai kegiatan bersama.
Dan perlahan-lahan, kehidupan sosial memasuki satu periode yang berbeda:
empat bulan penuh kebersamaan.
Inilah So Maso Ber-Ber.
—
## Bukan Sekadar Pergantian Bulan
Fenomena “bulan ber-ber” sebenarnya menarik jika dilihat dari perspektif sosiologi dan ekonomi.
September bukan sekadar bulan kesembilan dalam kalender.
Ia adalah alarm kultural.
Sebuah tanda bahwa masyarakat mulai memasuki fase akhir tahun yang sarat dengan pertemuan, perayaan, refleksi, dan harapan baru.
Di Manado dan banyak wilayah Sulawesi Utara, terutama dalam masyarakat yang memiliki tradisi Natal yang kuat, periode September–Desember membentuk semacam *long festive season*.
Siklus kehidupan sosial bergeser.
Dari rutinitas menuju perayaan.
Dari kesibukan individual menuju kebersamaan.
Dari bekerja untuk diri sendiri menuju berbagi dengan keluarga, teman, tetangga, dan komunitas.
Karena itu, So Maso Ber-Ber sesungguhnya merupakan fenomena sosial yang sangat khas dan memiliki nilai budaya yang besar.
—
# Empat Bulan yang Menguatkan Solidaritas
Salah satu kekuatan terbesar “bulan ber-ber” adalah kemampuannya mempertemukan kembali manusia.
Kesibukan sepanjang tahun sering membuat hubungan sosial menjadi renggang.
Namun memasuki September, undangan mulai berdatangan.
Ada ibadah Pra-Natal.
Ada pertemuan keluarga.
Ada kegiatan kantor.
Ada acara organisasi.
Ada pertemuan komunitas.
Ada pasiar.
Dan akhirnya, ada Natal dan Tahun Baru.
Tradisi ibadah Pra-Natal yang dilakukan berjenjang—mulai dari lingkungan tempat tinggal, keluarga, tempat kerja, organisasi sosial, hingga komunitas—menjadi mekanisme sosial yang secara tidak langsung memperkuat kembali jaringan hubungan antarmanusia.
Sementara tradisi pasiar menciptakan ruang sosial yang lebih terbuka.
Orang datang bertamu.
Orang duduk bersama.
Orang makan bersama.
Orang bacirita.
Batas-batas sosial menjadi lebih cair.
Di meja makan, status sosial sering menjadi tidak penting.
Yang penting adalah:
torang samua basudara.
—
# Dari Solidaritas Menjadi Ekonomi Kerakyatan
Namun ada dimensi lain yang sering luput dibicarakan.
“Bulan ber-ber” juga merupakan mesin ekonomi lokal.
Coba perhatikan apa yang terjadi sejak September.
Rumah mulai direnovasi.
Cat rumah diperbarui.
Dekorasi Natal dibeli.
Pakaian baru disiapkan.
Makanan mulai dipesan.
Kue-kue dibuat.
Jasa fotografi meningkat.
Salon dan barbershop ramai.
Transportasi bergerak.
Hotel menerima tamu.
Restoran mendapatkan pelanggan.
Pedagang pasar memperoleh tambahan omzet.
UMKM makanan mendapatkan pesanan.
Pengrajin dekorasi mendapatkan pekerjaan.
Percetakan membuat undangan dan berbagai kebutuhan acara.
Musisi dan pekerja seni mendapatkan panggung.
Dan ribuan orang yang bekerja di sektor informal ikut memperoleh manfaat.
Dengan kata lain, perayaan menghasilkan sirkulasi ekonomi.
Uang yang dibelanjakan masyarakat tidak berhenti pada satu sektor.
Ia bergerak dari konsumen kepada pedagang, dari pedagang kepada pemasok, dari pemasok kepada pekerja, dan kembali berputar di dalam ekonomi daerah.
Inilah yang dapat disebut sebagai Christmas Economy of North Sulawesi.
—
# “Bulan Ber-Ber” dan Modal Sosial Kawanua
Ada satu aspek lain yang sangat menarik.
Setiap akhir tahun, banyak orang Kawanua yang tinggal di luar daerah mulai merencanakan kepulangan.
Mereka pulang kampung.
Bukan sekadar untuk berlibur.
Tetapi untuk bertemu orang tua, saudara, teman lama, tetangga, dan komunitas.
Di situlah terjadi apa yang dalam ilmu sosial disebut sebagai social capital.
Jaringan hubungan dibangun kembali.
Hubungan keluarga diperkuat.
Pertemanan lama dihidupkan kembali.
Cerita-cerita lama muncul kembali.
Dan identitas sebagai Kawanua kembali mendapatkan ruang.
Karena itu, So Maso Ber-Ber sesungguhnya bukan hanya fenomena lokal Manado.
Ia berpotensi menjadi fenomena diaspora Kawanua.
—
# Mengapa Tidak Dijadikan Event Pariwisata?
Di sinilah gagasan ini menjadi menarik.
Jika masyarakat sudah secara alamiah menciptakan sebuah musim perayaan selama empat bulan, mengapa pemerintah daerah dan pelaku pariwisata tidak mengemasnya menjadi kalender event resmi Sulawesi Utara?
Bukankah wisata modern tidak lagi hanya menjual tempat?
Wisata modern menjual:
experience.
Dan Sulawesi Utara memiliki pengalaman budaya yang sangat kuat untuk ditawarkan.
Bayangkan jika sejak September sudah dimulai:
### SEPTEMBER
So Maso Ber-Ber Opening
Festival pembukaan musim perayaan.
Pawai budaya.
Festival musik.
Pasar UMKM.
Kuliner Minahasa dan Manado.
Pameran kerajinan.
Dekorasi kota.
—
### OKTOBER
Ber-Ber Culture Month
Bulan kebudayaan.
Festival seni dan musik daerah.
Pertunjukan tari.
Kuliner tradisional.
Pameran sejarah dan budaya Minahasa.
Tur kampung dan wisata budaya.
—
### NOVEMBER
Kawanua Homecoming
Mengundang diaspora Kawanua dari seluruh Indonesia dan luar negeri.
Reuni keluarga.
Temu komunitas.
Festival kuliner.
Konser musik.
Kegiatan sosial.
Dan berbagai kegiatan yang mempertemukan Kawanua di tanah leluhur.
—
### DESEMBER
Manado Christmas & New Year Festival
Puncak seluruh rangkaian.
Christmas Market.
Konser Natal.
Festival lampion dan cahaya.
Pawai Natal.
Festival kuliner.
Pertunjukan seni.
Wisata rohani.
Dan berbagai acara menyambut Tahun Baru.
Kemudian rangkaian tersebut ditutup dengan:
# KUNCI TAON
Tradisi penutupan tahun yang sangat khas Sulawesi Utara dapat dikemas sebagai grand finale.
Dengan demikian, “bulan ber-ber” bukan lagi sekadar istilah masyarakat.
Ia menjadi:
SEPTEMBER–DESEMBER: THE FOUR-MONTH FESTIVE SEASON OF NORTH SULAWESI.*
—
# Dari Tradisi Menjadi Destination Branding
Ini yang paling penting.
Sulawesi Utara selama ini telah memiliki berbagai destinasi wisata yang luar biasa:
laut.
pulau.
gunung.
danau.
budaya.
kuliner.
Namun destinasi tidak cukup hanya memiliki tempat.
Destinasi membutuhkan cerita.
Dan So Maso Ber-Ber adalah sebuah cerita yang sangat kuat.
Orang datang ke Sulawesi Utara bukan hanya untuk melihat Bunaken.
Bukan hanya untuk menikmati Danau Tondano.
Bukan hanya untuk menikmati kuliner Manado.
Tetapi untuk mengalami sesuatu yang hanya terjadi pada waktu tertentu:
empat bulan ketika Sulawesi Utara berubah menjadi ruang kebersamaan.
—
# Dari “Bulan Ber-Ber” Menjadi Economic Season
Jika dikelola secara profesional, empat bulan ini dapat menciptakan sebuah economic season.
Hotel mendapatkan tamu.
Restoran mendapatkan pelanggan.
UMKM mendapatkan pasar.
Transportasi mendapatkan penumpang.
Pusat perbelanjaan mendapatkan konsumen.
Seniman mendapatkan panggung.
Fotografer mendapatkan pekerjaan.
Event organizer mendapatkan proyek.
Petani dan nelayan mendapatkan pasar kuliner.
Pengusaha dekorasi mendapatkan pesanan.
Dan masyarakat memperoleh ruang untuk menampilkan kebudayaannya.
Artinya, pemerintah tidak perlu menciptakan sebuah tradisi baru.
Tradisinya sudah ada.
Yang dibutuhkan adalah:
mengemas, mengorganisasi, mempromosikan, dan memperbesar dampaknya.
—
# Sebuah Festival yang Berangkat dari Masyarakat
Keunggulan terbesar konsep ini justru karena ia bukan festival yang dibuat dari atas.
Ia sudah hidup di masyarakat.
Pemerintah hanya perlu menjadi orkestrator.
Masyarakat menjadi pelaku utama.
Gereja dan komunitas menjadi bagian dari ekosistem sosial.
UMKM menjadi penggerak ekonomi.
Seniman menjadi pengisi ruang budaya.
Hotel dan restoran menjadi bagian dari industri pariwisata.
Diaspora Kawanua menjadi pasar sekaligus duta wisata.
Dan pemerintah menyediakan:
platform, kalender, infrastruktur, promosi, dan koordinasi.
—
# Manado Bisa Memiliki “Christmas Capital” Versinya Sendiri
Kota-kota dunia memiliki event musiman yang menjadi identitas mereka.
Mengapa Manado tidak membangun identitas yang sama?
Bukan dengan meniru kota lain.
Tetapi dengan mengangkat apa yang memang sudah dimiliki masyarakatnya.
Karena kekuatan Manado bukan hanya pada dekorasi Natal.
Kekuatan Manado ada pada:
keramahan.
kebersamaan.
musik.
kuliner.
tradisi.
pasiar.
keluarga.
dan semangat “torang samua basudara”.
Itulah yang harus dijual kepada dunia.
—
# Dari September Kita Mulai
Mungkin sudah waktunya kita tidak lagi melihat September sebagai bulan biasa.
Ketika orang Manado berkata:
“So maso ber-ber!”
sesungguhnya mereka sedang mengatakan:
musim kebersamaan telah dimulai.
Musim ketika keluarga berkumpul.
Teman-teman bertemu.
Kawanua pulang.
Rumah membuka pintu.
Pasar bergerak.
UMKM bekerja.
Kota menjadi hidup.
Dan harapan baru mulai tumbuh.
Karena itu, mengapa tidak menjadikan empat bulan ini sebagai salah satu event pariwisata terbesar Sulawesi Utara?
Bukan hanya untuk merayakan Natal.
Tetapi untuk merayakan:
KEHIDUPAN, KEBERSAMAAN, KEBUDAYAAN, DAN EKONOMI MASYARAKAT SULAWESI UTARA.
So Maso Ber-Ber!
Dan mungkin sudah waktunya dunia tahu apa artinya. ***
