Home Politik Tokoh Agama dan Politik AS Dukung Seruan Masjid Muhammad

Tokoh Agama dan Politik AS Dukung Seruan Masjid Muhammad

oleh Marpi
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf (kedua dari kiri). (Ist).

Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf (kedua dari kiri). (Ist).

FAKTUALid – Lebih dari 25 tokoh agama, politik, dan intelektual Amerika Serikat (AS) mendukung “The Nation’s Mosque Statement” (Seruan Masjid Muhammad). Mereka hadir dan ikut membubuhkan tanda tangan sebagai tanda dukungan mereka bagi seruan tersebut.

Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menyebutkan lebih dari 25 tokoh agama, politik, dan Yahya Cholil Staquf  dalam keterangannya diterima di Jakarta, Rabu (14/7/2021) menyebutkan, Seruan Masjid Muhammad merupakan pernyataan bersama aliansi tiga pihak, yakni Gerakan Global Humanitarian Islam, Komunitas Warith Deen Mohammed, dan World Evangelical Alliance (WEA) yang baru saja dibentuk pada Selasa, 13 Juli 2021.

“Mereka mengajak semua orang yang berkehendak baik dari semua agama dan kebangsaan untuk bergabung dalam aliansi global yang dibangun di atas landasan nilai-nilai keadaban bersama (shared civilizational values),” katanya.

Pembentukan aliansi untuk membangun ikatan yang kokoh di antara agama-agama dunia dalam upaya bersama mencari jalan keluar dari konflik antaridentitas dan memperjuangkan perdamaian.
Saat pembentukan aliansi dihadiri oleh Johnnie Moore (juru bicara komunitas Evangelis Amerika dan tokoh Partai Republik), David Saperstein (pemimpin Yahudi Reformis yang juga tokoh Partai Demokrat), Paul Marshal (The Hudson Institute), Imam Talib Shareef pimpinan komunitas W Deen Mohammed, dan Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf serta beberapa utusan KBRI di Washington DC juga hadir dalam kesempatan itu.

Menurut Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf, aliansi global itu bertujuan untuk mencegah dijadikannya identitas sebagai senjata politik, membendung penyebaran kebencian komunal.

Kemudian, aliansi juga bertujuan mempromosikan solidaritas, dan saling menghormati di antara kelompok-kelompok, budaya-budaya dan bangsa-bangsa yang berbeda, serta memperjuangkan terwujudnya tata dunia yang sungguh-sungguh adil dan harmonis berdasarkan penghormatan terhadap kesetaraan hak dan martabat bagi setiap manusia.

Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Sekretaris Jenderal WEA Dr Thomas Schirrmacher menyampaikan pidato kunci dalam forum yang diprakarsai oleh The Center For Shared Civilizational Values (CFSCV) itu.

“Kita mewarisi sejarah ratusan tahun konflik antaragama. Kini, dalam konteks realitas abad ke-21, dunia tidak tidak mungkin menahankan konflik seperti di masa lalu, karena jelas akan membawa keruntuhan peradaban umat manusia seluruhnya,” kata Gus Yahya.

Gus Yahya menyatakan, kini saatnya agama-agama dituntut untuk membangun landasan teologi yang kokoh di lingkungan masing-masing, untuk memberikan panduan bagi umatnya agar mampu hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan.

Pada kesempatan itu, Gus Yahya menyampaikan salam dari Ketua dan Pendiri CFSCV KH Ahmad Mustofa Bisri.

Dia juga menjelaskan bahwa apa yang dijalankannya merupakan pelaksanaan amanat dari mendiang KH Maimun Zubair bahwa Indonesia harus memberi teladan kepada dunia tentang Bhinneka Tunggal Ika.

Thomas Schirrmacher menyatakan keyakinannya atas kerja sama dengan Nahdlatul Ulama (NU).

“Kami telah melihat bukti-bukti nyata bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya bermulut manis dalam soal perdamaian, tapi sungguh-sungguh bergulat dalam pemikiran dan gerakan nyata,” katanya.

Dalam acara itu, juga diluncurkan sebuah buku berjudul “Reimagining Muslim-Christian Relations in the 21st Century” (Merangkai Kembali Hubungan Muslim-Kristen di Abad ke-21), yang merupakan kompilasi tulisan-tulisan dari para tokoh NU, seperti KH Abdurrahman Wahid dan KH A Mustofa Bisri serta para tokoh WEA.

Sebagai tulisan utama adalah versi bahasa Inggris dari “Muqaddimah Qanun Asasi” yang merupakan pidato pembukaan dalam Muktamar NU yang pertama oleh Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy’ari.

“Dengan buku ini, untuk pertama kalinya Muqaddimah Qanun Asasi diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Inggris,” kata C Holland Taylor, Duta Khusus GP Ansor untuk Amerika, Eropa, dan PBB.
Sebenarnya, kata dia, sangat terlambat bahwa dunia harus menunggu hampir seratus tahun sebelum memperoleh akses ke pemikiran pendiri NU yang isinya sangat dibutuhkan bagi pencerahan umat manusia, karena menjelaskan kenapa suatu masyarakat dan peradaban bisa runtuh, bagaimana membangkitkan dan membangun peradaban mulia yang kokoh.

“Apabila dunia mau memerhatikan dan mengikuti panduannya, pemikiran Hadratussyeikh ini akan menjadi pertolongan besar di tengah kemelut yang melanda saat ini,” ujarnya seperti dikutip dari antaranews.com. ***

 

 

Tinggalkan Komentar